Gapkodar: Nelayan Muara Gembong Ingin Kembangkan Ekowisata

0
58
Ekowisata mangrove di Semarang yang sukses dikunjungi wisatawan (Foto: .kompasiana.com)

BEKASI, bisniswisata.co.id: Pantai Mekar, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Jawa Barat ternyata memiliki potensi untuk menarik kunjungan wisatawan, dengan mengembangkan ekowisata mangrove. Para nelayan Pantai Mekar optimis jika kawasan seluas 650 meter dijadikan kawasan wisata, akan mengangkat taraf kehidupan dan pemasukan pendapatan para nelayan serta warga sekitar.

Sayangnya impian nelayan serta warga Pantai Mekar terganjal anggaran pengembangan, dan hingga kini masyarakat susah menggaet investor untuk membangun ekowisata mangrove. “Untuk membangun ekowisata mangrove tahap awal seluas 100 meter menghabiskan anggaran Rp20 juta. Kami nggak punya dana,” papar Ketua Kelompok sadar wisata (Gapokdar), Ahmad Daryanto saat dikunjungi Kandidat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil alias Kang Emil.

Masyarakat Pantai Mekar hanya bisa berharap jika Kang Emil menjadi Gubernur Jabar, warga desa nelayan hanya minta agar Kang Emil bisa mewujudkan ekowisata mangrove. “Karena dengan membangun pariwisata, para nelayan optimis ada pemasukan dari kunjungan wisatawan mulai tiket masuk, jualan kuliner, souvenir dan usaha lainnya,” sambungnya.

Dilanjutkan, selama ini desa nelayan Muara Gembong memiliki masalah sangat kompleks. Masalah yang dihadapi mulai kesehatan dimana Pantai tercemar limbah pabrik yang menyebabkan banyak ikan mati. Air menjadi tercemar, kotor, bau dari limbah industri yang seenaknya membuang ke sungai dan pantai . juga banyak penyakit seperti penyakit kulit, koreng dan penyakit lainnya.

Selain itu, sambung dia, masalah ekonomi dimana hasil nelayan susah dijual mahal. Bahkan tambak ditinggal nelayan karena tidak ada hasilnya. “Sekarang nelayan melautnya sangat jauh di tengah laut dengan resiko sangat besar,” paparnya

Ahmad pernah membuat gerakan ibu-ibu wirausaha, dengan mengolah ikan hasil tangkapan suaminya. “Sudah dikemas bagus tapi bingung soal penjualan,” kata dia.

Ketua Gabungan Kelompok Nelayan (Gapokyan), Nari menambahkan pihaknya sudah melaporkan masalah limbah ke pemerintah Kabupaten dan KLH. Namun sampai sekarang belum ada penanganannya. “Saya malah disuruh cari darimana asal limbah itu. Bagaimana saya mau nyari, caranya saja saya tidak tahu dan setiap hari saya sibuk cari ikan di laut,” ujarnya.

Sejumlah nelayan Muara Gembong mengeluhkan soal abrasi yang sering terjadi karena tidak ada dam atau pemecah air. Selama ini, untuk menghindari abrasi, nelayan menanam mangrove. Tapi mangrove tak mampu menahan abrasi yang cukup kuat. “Kami ingin pemimpin Jabar nanti, Pak Ridwan Kamil bisa membangun dam agar abrasi tidak terus terjadi,” katanya

Dia juga mengungkapkan bahwa di desanya kesulitan air bersih. PAM jarang ke desanya. Selain itu, kali menuju laut yang tidak terlalu luas, sebaiknya dilebarkan atau dinormalisasi. Tujuannya, kata dia agar air dari Sungai Citarum bisa mendorong air laut hasil abrasi ke laut.

Menanggapi keluhan nelayan, Kang Emil menyatakan pihaknya sudah mencatat dan akan mencarikan solusinya. Menurut dia, solusi abrasi, maka laut harus di dam dan mangrove harus tetap dilestarikan. “Soal limbah laut, biar pemerintah yang mencarikan solusinya. Nggak masuk akal kalau nelayan yang harus selidiki limbah,” ujarnya.

Terkait ekowisata, Kang Emil memperlihatkan gambar yang dibuatnya beberapa menit setelah menyusuri muara, membuat mantan Walikota Bandung yang sukses mengelola pariwisata Kota Bandung, sangat tertarik dengan konsep ekowisata mangrove.

“Saya berencana membangun ekowisata di sepanjang sungai Muara Gembong Bekasi. Nanti rencananya ada teras di sepanjang sungai yang jual makanan, suvenir, dan wisata mangrove. Sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan para nelayan, karena kondisi lingkungan di wilayah ini sudah tercemar sehingga hasil tangkapan ikan rendah,” pungkasnya. (NDHYK)

LEAVE A REPLY