Gandeng Swiss, Indonesia Upgrade Sekolah Kejuruan Pariwisata

0
104
Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Pelita Harapan melakukan inovasi bidang kuliner

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Menteri PPN/Kepala Bappenas mengatakan pendidikan vokasi di Indonesia perlu dibenahi dan ditingkatkan agar dapat menciptakan lulusan yang berkualitas. Karenanya, dalam poin-poin kerja sama Indonesia-Swiss hingga 2020, pendidikan vokasi terutama di bidang pariwisata dan manufacturing mendapatkan penekanan khusus.

“Ke depan ini kita akan fokus pada vokasi. Vokasi itu terutama di bidang pariwisata dan manufacturing. Manufacturing itu ada yang logam, ada yang kayu, food industri,” ujar Bambang dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (15/07/2017).

Dijelaskan, kerja sama dengan Swiss akan mencakup berbagai aspek pengembangan sekolah vokasi. Jadi tidak hanya sebatas perbaikan fisik sekolah, melainkan juga perbaikan kualitas pendidikan vokasi di Indonesia. “Kita ingin dorong kualitas bukan hanya kuantitasnya. Kita akan up grade fisik juga kelengkapan kurikulum, guru, dan siswa,” katanya.

Indonesia telah menyiapkan beberapa sekolah vokasi untuk dikembangkan lebih lanjut. “Kita akan fokus pengembangan pendidikan vokasi di Bandung, Makassar, Lombok, dan Bali,” ujarnya.

“Serta peningkatan beberapa sekolah vokasi, seperti di Batu Licin untuk kaca logam, Semarang untuk kayu, di Marowali untuk logam, smelter, di Bantaeng untuk logam, di Jember untuk food processing,” pungkasnya.

Dilanjutkan, Indonesia mendapatkan hibah 75 juta Swiss Franc atau Rp 1,035 triliun (kurs Rp 13.804) dari Pemerintah Swiss. Hibah yang didapat akan difokuskan untuk meningkatkan kualitas sekolah vokasi di Indonesia.

“Sebenarnya garis besarnya ada yang untuk publik sektor, ada yang untuk private sektor, dan bentuknya adalah hibah. Akan tetapi untuk ke depan ini, Kita fokus pada vokasi, terutama pada pariwisata dan manufacturing,” tambahnya

Mantan Menteri Keuangan ini menuturkan, untuk peningkatan kualitas vokasi manufaktur, akan dikhusukan pada keahlian logam, kerajinan kayu, dan industri makanan. Sementara, untuk sekolah pariwisata akan dikhususkan pada keahlian kesehatan.

“Kita tahu, the hospitality school ada di Swiss dan kita akan minta pengalaman dari mereka, untuk memperbanyak sekolah vokasi pariwisata dan juga mendorong kualitasnya. Jadi tidak hanya kuantitas tetapi kualitas juga,” jelas dia.

Dalam hal ini, terang Bambang, peningkatan kualitas sekolah vokasi tersebut untuk mengakomodasi turis-turis mancanegara yang berkunjung di Indonesia. “Kalau Indonesia mau jadi wisata dunia ya SDM-nya harus benar siap untuk memberikan hospitality service sesuai dengan kebutuhan,” imbuh dia.

Bambang menambahkan, pemberian hibah akan berlangsung secara bertahap selama tiga tahun. “Jadi selama 2017-2020 hibahnya secara bertahap,” pungkas dia. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY