Frog Stay, Lokasi Liburan dengan Hiburan Paduan Suara Kodok

0
33
Frog (Foto: Bored Panda)


YOGYAKARTA, Bisniswisata.co.id:
Alternatif liburan untuk menghilangkan kegalauan yang satu ini bisa dicoba. Sebuah homestay bernama Frog Stay bisa menjadi rujukan wisatawan yang ingin menyepi dari hiruk pikuk dunia.

Berlokasi di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Frog Stay menawarkan sensasi liburan yang tidak biasa. Disebut tidak biasa karena bangunan yang berbentuk rumah panggung dan didominasi material bambu ini memang lain dari yang lain.

Pertama, lokasinya terpencil dengan pemandangan arus kali Bedog yang mengalir tepat di belakang homestay. Kedua, suasananya sangat tenang, jauh dari kebisingan dan gemerlap lampu kota. Ketiga, kemungkinan bertemu dan berbagi cerita dengan orang baru sangat besar, mengingat homestay ini dikelola oleh sebuah komunitas.

Kamar yang disediakan terbatas. Hanya ada empat kamar berukuran 3×3 meter persegi dengan spesifikasi yang berbeda. Dua kamar diberi nama Nawang Nawang dengan biaya inap per malam Rp 150.000. Tipe kamar ini tidak ada kamar mandi dalam alias wisatawan yang sedang liburan harus menggunakan kamar mandi bersama yang terletak di sebelah kamar.

Satu kamar tipe Tarub yang memiliki kamar mandi dalam dibanderol harga Rp 175.000 per malam dan tipe kamar Wulan seharga Rp 200.000 per malam. Tarif menginap sudah termasuk sarapan berupa teh dan jajan pasar. Sebuah areal untuk yoga juga disediakan di penginapan seluas 500 meter persegi ini.

Ada pula dapur yang menyerupai bar dan kursi serta meja kayu sebagai ruang tamu. Tempat ini bisa dimanfaatkan wisatawan yang sedang liburan dan bosan di dalam kamar. Frog Stay berdiri sejak 2014. Relatif baru dengan tujuan yang tidak sederhana. Pendapatan dari homestay ini untuk membiayai operasional komunitas Frog House.

Nama Frog House muncul dari kondisi menjelang petang di tempat itu. Nyanyian kodok bersahutan memecah keheningan. Komunitas ini didirikan oleh Bagus ‘Gonk’ Prabowo pada 2012. Frog House berawal dari gagasan tentang ruang kemungkinan.

“Segala hal mungkin dilakukan dan terjadi di sini, dan untuk mewujudkan itu perlu membangun rasa percaya diri dan mengembangkan potensi diri,” ujar Bagus Gonk seperti dilansir laman Liputan6.com, Rabu (27/12/2017).

Kemungkinan itu muncul ketika berinteraksi dengan banyak orang, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan-kegiatan yang digelar pun beragam dan biasanya dadakan. Sebab, tamu yang berkunjung ke Frog House menawarkan potensi yang dimilikinya untuk dibuat lokakarya atau workshop. “Pernah ada workshop puisi dari Estonia, workshop soal makna pelukan, dan sebagainya,” ucapnya.

Keberadaan Frog House menyebar ke seluruh dunia secara gethok tular atau dari mulut ke mulut. Bagus tidak pernah mempromosikan tempat dan komunitasnya secara masif. Pertimbangannya, Frog House bukan tempat wisata.

Pembiayaan komunitas tidak hanya lewat Frog Stay melainkan juga studio batik dan studio dokdok yang memproduksi kacamata bambu. Orang yang terlibat dalam kegiatan Frog House disebut sebagai pasukan kodok. “Pasukan kodok terlibat dalam beberapa festival juga seperti Ngayogjazz, Jagongan Media Rakyat, dan lain-lain,” kata Bagus Gonk. (LEO)

LEAVE A REPLY