Fransiska & Mathilda, Srikandi Taklukan Gunung Vinson Massif Antartika

0
607

Keberhasilan mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi Antartica merupakan persembahan bagi persatuan Bangsa Indonesia dari Fransiska dan Mathilda. ( foto: Wissemu)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Dua pendaki perempuan Indonesia pertama berhasil mencapai puncak Gunung Vinson Massif di Antartika. Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition MAHITALA-UNPAR (WISSEMU) ini akan kembali ke Tanah Air pada 23 Januari 2017.

Tim pendaki WISSEMU ini adalah dua orang mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan yaitu, Fransiska Dimitri Inkiriwang, 23 dan Mathilda Dwi Lestari, 23.

Setelah berhasil menapakan kaki di puncak gunung Vinson Massif (4.892 mdpl) pada 5 Januari 2017 lalu tim akan singgah di kota Santiago dan bertemu dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Chile, Bapak Philemon Arobaya.

Untuk menyelesaikan pendakian ini, tim melalui perjalanan panjang selama kurang lebih 9 hari yang dimulai dari Vinson Basecamp pada 1 Januari 2017, sempat singgah dan beristirahat di Low camp (2.800 mdpl). Tim lalu melanjutkan aklimatisasi sekaligus melakukan load carry ke High Camp (3.770 mdpl).

Perjalanan menuju High camp ini sendiri tidaklah mudah, suhu udara selama perjalanan yang mencapai -30°C disertai hujan saju, ditambah dengan elevasi 1.020 m dan kemiringan terrain mencapai 45° memaksa tim harus menggunakan bantuan fixed ropes untuk dapat sampai ke titik ini.

Tim memulai upaya menuju puncak (summit attempt) dari High Camp pada Rabu, 4 Januari 2017 pukul 12.00 Waktu setempat. Perjalanan menuju puncak dari titik terakhir ini ditemani cuaca cerah namun angin yang kencang dan hawa dingin dengan suhu udara mencapai -33°C yang membuat dingin terasa menusuk.

Setelah mendaki dari High Camp menuju summit dengan jarak 14 km yang menghabisakan waktu selama 12 jam, tim akhirnya berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih pada Rabu, 4 Januari 2017 pukul 23.48 Waktu setempat atau Kamis, 5 Januari 2017 pukul 09.48 WIB.

Mathilda Dwi Lestari memberikan kabar sesampainya di High Camp via telepon satelit. “Keberhasilan mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi Antartica merupakan persembahan bagi persatuan Bangsa Indonesia” cerita Mathilda dengan sedikit terbata-bata.

Selain untuk mengejar misi Seven Summits, keberhasilan mencapai Puncak Vinson di benua Antartika ini merupakan suatu bentuk persembahan dari Mahitala Unpar untuk persatuan Bangsa Indonesia dan untuk seluruh perempuan Indonesia agar selalu berani bermimpi setinggi-tingginya.

Dengan ini pula, Tim WISSEMU mencatatkan diri sebagai dua orang perempuan Indonesia pertama yang menapakkan kakinya di Puncak Gunung Vinson Massif.

Seven Summits adalah rangkaian tujuh gunung tertinggi di tujuh lempeng benua (sering disalahartikan sebagai tujuh gunung tertinggi di dunia), yaitu Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua mewakili Lempeng Australasia, Gunung Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia yang mewakili Lempeng Eropa.

Lalu ada Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania yang mewakili Lempeng Afrika, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina yang mewakili Lempeng Amerika Selatan, Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl) di Antartika yang mewakili Lempeng Antartika yang berhasil ditaklukan dua srikandi Indonesua ini.

Seven Summits lainnya adalah Gunung Denali (6.190 mdpl) di Alaska yang mewakili Lempeng Amerika Utara dan Gunung Everest (8.848 mdpl) di Nepal yang mewakili Lempeng Asia.

Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki beberapa orang pria yang berhasil mencatatkan diri sebagai seven summiters diantaranya adalah Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing dan Janatan Ginting.

Mereka mewakili Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala UNPAR (2009-2011) serta Iwan Irawan, Martin Rimbawan, Fadjri Al Lufhfi dan Nurhuda yang tergabung dalam Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Wanadri. (*/HAS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY