Forum Dialog Pariwisata: Kemenpar Agar Fokus pada Promosi Pariwisata Nusantara Untuk Jadi Motor Penggerak Perekonomian Negara

0
1007
Sapta Nirwandar (ketiga dari kiri) bersama peserta dan para nara sumber Forum Dialog Pariwisata "Dolar AS Menguat, Bagaimana Pariwisata Kita ?, di restoran Mie HCM Plaza Semanggi, Jakarta.

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pariwisata Nusantara (domestik) mampu menjadi penyelamat untuk mengatasi menguatnya dolar Amerika Serikat yang tidak otomatis membuat wisatawan mancanegara membanjiri tujuan wisata di Indonesia ditengah situasi krisis global. Perlu inisiatif dari pemerintah ( Kementrian Pariwisata) agar daya saing pariwisata Indonesia tetap tinggi dan tahan bantingan.

Hal itu terungkap dalam Forum Dialog Pariwisata ( FDP) yang diselenggarakan oleh test.test.bisniswisata.co.id bekerjasama dengan Komunitas Billioner Mindset ( BM) yang di dukung Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata RI. Pariwisata terbukti sangat tahan terhadao krisis keuangan seperti sekarang di saat nilai rukar rupiah melemah hingga ke level Rp 14.800 per dolar AS.

“Penguatan dolar AS ini akan menjadi peluang untuk sektor pariwisata kita, karena harga- harga di dalam negeri akan menjadi murah, apabila menggunakan mata uang dolar AS. Misalnya saja kalau mau minum kopi, segelas kopi di harga Rp 15.000 per gelas, dulu harus mengeluarkan 1,5 dolar AS, namun sekarang cukup denngan 1 dolar AS karena kursnya mendekati 15.000 per dolar AS. Hal Ini bisa membuat wisman berbondong-bondong datang ke Indonesia,” kata Sapta Nirwandar..

Namun pengamat pariwisata yang juga Wakil Menteri Pariwisata di era Kabinet Bersatu ini mengingatkan saat ini menguatnya dolar juga diikuti melemahnya nilai tukar mata uang negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura bahkan Australia sehingga meskipun pariwisata sektor yang paling tahan banting, Kementrian Pariwisata harus menjadi ‘komandan’ agar pariwisata RI terutama pergerakan wisatawan nusantara terus bergerak menjelajah nusantara.

“Sektor pariwisata itu paling resilient terhadap krisis. Punya daya tahan. Itu bisa dibuktikan, dari data UNWTO, pariwisata masih tumbuh meski krisis terjadi. Di tingkat global masih tumbuh 4%, Asia Pasifik 4%, di Asia Tenggara 3%, ini peluang bagi kita,” ujarnya membahas tema i ‘Dolar Menguat Bagaimana Pariwisata Kita’ di Restoran Mie HCM, Plaza Semanggi, Jakarta., Selasa (29/9/2015).

Para nara sumber dari kiri ke kanan: Anton Thedy, Sapta Nirwandar, Sukrisno Iwantono dan Frans Budi Pranata.
Para nara sumber dari kiri ke kanan: Anton Thedy, Sapta Nirwandar, Sukrisno Iwantono dan Frans Budi Pranata.

Diskusi selain dihadiri oleh kalangan pers nasional dan komunitas entrepreneur juga di ikuti para pelaku dan konsumen premium di bisnis perjalanan. Sejumlah nara sumber berpartisipasi seperti Anton Thedy, Managing Director TX Travel, Frans Budi Pranata, Chief Financial Officer Zalora Indonesia, Sukrisno Iwantono, Ketua Bidang Hotel Non Bintang PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), Anggota Komisi X DPR-RI Nico Siahaan, Prof Roy Sembel Phd dari International Business School IPMI, Panca Sarungu, Managing Director Raja MICE serta pialang saham Richard Gunawan dari Sydney, Australia.

Menurut Sapta, setidaknya ada dua alasan utama kenapa sektor pariwisata punya daya tahan yang lebih dibandingkan sektor lain. Alasan pertama yaitu adanya pergeseran tren pariwisata yang seakan sudah menjadi lifestyle dan alasan berikutnya adalah meningkatnya jumlah golongan menengah ke atas.

“Sektor pariwisata sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Apalagi di kota-kota besar. Perhatikan ibu-ibu sosialita kita kalau bertemu yang dibahas adalah traveling karena ada yang kurang kalau tidak traveling. Sudah ada pergeseran ke arah sana. Golongan menengah yang meningkat menjadi kekuatan. Mereka punya spare income yang lebih jadi bisa liburan,” ujar Sapta.

Sektor pariwisata yang tahan banting ini bisa menjadi peluang bagi para pelaku industri pariwisata untuk lebih dikembangkan lagi, terutama sektor domestik. Wisatawan dalam negeri pasti mengurangi perjalanan keluar negeri. Oleh karena itu inilah peluang bagi industri pariwisata dan pemerintah untuk mengeluarkan paket-paket kebijakan yang bisa menghidupkan perekonomian mengawali krisis yang mengglobal.

“Kementrian Pariwisata harus mengambil inisiatif, undang semua stakesholder terkait mulai dari asosiasi akomodasi seperti PHRI, asosiasi transportasi seperti INACA agar paket wisata Indonesia jadi bersaing karena tersedia paket wisata yang terjangkau.

Nico Siahaan, Anggota Komisi X DPR-RI dari PDI Perjuangan mengatakan selain harus memimpin, Menteri Pariwisata Arief Yahya agar fokus menggunakan dana promosi wisatanya untuk pariwisata domestik. Situasi perekonomian global berubah cepat dan banyak negara yang mata uangnya juga terpuruk.

“Jadi fokus gunakan dana promosi yang sudah diberikan untuk menggerakan wisata domestik dulu. Kalau mau memanfaatkan dana promosi triliunan ke luar negri nanti dulu deh. Selamatkan perekonomian negara dengan berani menjadikan pariwisata sektor yang leading,” tegas Nico Siahaan. ( hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.