Film Ziarah, Mengikuti Perjalanan Melelahkan Mbah Sri

0
573

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Di hadapannya, akhirnya ia melihat nama suaminya tertera di atas nisan batu itu. Napasnya tertahan. Tubuh Mbah Sri yang ringkih kehilangan keseimbangan…..

Adegan akhir film Ziarah ini, seperti juga 90 menit yang sunyi, tak penuh dengan kecerewetan dialog apalagi penjelasan-penjelasan yang berisik.

Film pertama sutradara B.W Purbanegara yang sederhana ini, seperti juga beberapa film independen yang beranggaran minim, begitu saja masuk , menyeruak dan memberi sebuah definisi ulang tentang road movie (film perjalanan). Meski sederhana namun sangat layak ditonton dan dihargai. Apalagi setelah menyaber satu nominasi dari Festival film Indonesia 2016.

Film ini bercerita perempuan sepuh mbah Sri, yang memiliki cita-cita sederhana sekaligus ruwet. Pada usianya yang ke 95, mbah Sri ingin mencari makam Prawiro, suaminya dan kelak ingin dikubur di sebelahnya.

Keruwetan itu adalah: tak ada yang tahu di mana makam Prawiro karena pada saat Agresi Belanda II, Prawiro mengucapkan perpisahan kepada sang isteri untuk bertempur. Sejak itu Mbah Sri tak pernah bertemu lagi dengan suaminya hingga perang usai dan dia diasumsikan tewas.

Tahun demi tahun berganti, semua kawan Mbah Sri mangkat satu persatu dan selalu saja dikuburkan di samping makam pasangannya. Suatu hari, pada 2012, Mbak Sri bertemu dengan salah satu veteran yang mengataku mengetahui bagaimana Prawiro ditembak tentara Belanda tahun 1949.

Dengan bermodalkan kisah ini, Mbah Sri begitu saja melakukan perjalanan sendirian tanpa ditemani siapapun hingga anak menantunya kelabakan kehilangan sang Ibu.

Film Ziarah adalah sebuah film road movie yang –sungguh sayang—agak terlewatkan mata juri Festival Film Indonesia 2016 hingga hanya diganjar satu nominasi: Skenario Terbaik (yang juga kalah oleh skenario Jujur Prananto untuk film Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara).

Road movie yang secara sederhana kita pahami sebagai film perjalanan yang melibatkan protagonis yang meninggalkan tempat tinggalnya ke satu tujuan dan mengalami atau menemui berbagai peristiwa, tokoh dan pengalaman fisik atau batik yang kelak mengubah pandangannya ini tentu saja sudah pernah digarap oleh beberapa sutradara Indonesia sebelumnya.

Nampaknya ini bukan genre yang terlalu populer karena membutuhkan skenario yang sangat kuat dan ketat, serta biaya tak tidak kecil. Garin Nugroho dalam Cinta dalam Sepotong Roti (1991); Riri Riza melalui film Tiga Hari untuk Selamanya ( 2007); Viva Westi dalam Raya, Cahaya di atas Cahaya (2012) dan Ismail Basbeth melalui Mencari Hilal (2015) sudah menjajalnya.

Tak selalu memiliki greget, tak selalu membuat saya terpaku, tetapi sekali lagi film genre ini memang salah satu yang tersulit selain genre komedi. Film road movie tentu bukan sekedar sebuah cerita tentang perjalanan seseorang (atau lebih) yang diisi dengan berbagai peristiwa dengan akhir yang mengejutkan.

Ada kewajiban mengisi setiap jengkal perjalanan itu dengan arti, dengan dialog yang relevan dan peristiwa yang tidak asal temple agar ramai.

Film-film Thelma & Louise; Transamerica dan Y Tu Mamá También sering menjadi rujukan para penggemar dan sineas film sebagai sebagian dari puluhan road movie yang mengesankan.

Di Indonesia, film Mencari Hilal adalah road movie yang jenaka, mengharukan sekaligus sebuah kisah pencarian diri, film Ziarah patut diperhatikan sebagai sebuah film road movie yang secara digarap dengan plot yang unik.

Mbah Sri yang tak banyak bicara terlihat begitu yakin dan teguh dengan keinginannya mencari makam suaminya dari Bantul hingga Wonogiri. Naik bis, berjalan kaki, menyusui sungai, naik bis lagi. Semua dilakukan sendirian. Sesekali dia akan bertemu berbagai orang desa yang mengeluh soal tanah.

Sang anak kelojotan mencari ibunya ke sana kemari hingga akhirnya menemukan Ibunya duduk termenung di sisi sungai sembari mencoba mencari rute berikut yang akan ditempuhnya.

Telpon dengan isterinya kemudian memberikan sudut lain lagi, sebuah problem khas keluarga. Menantu yang jengkel, anak yang merasa terbelah antara merawat Ibu yang dianggapnya keras kepala dan isteri yang tak mau paham.

Purbanegara sengaja menggunakan pemain yang sama sekali tidak dikenal publik dan itu sebuah pilihan yang berani. Semua pemain, termasuk tokoh utama Mbah Sri, adalah bagian alamiah dari jagat yang diciptakan Purba.

Alumni Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada ini sebelumnya sudah menghasilkan film-film pendek yang hadir dalam berbagai festival internasional termasuk Berlin International Film Festival

Pada akhir film ini, Purba memberikan sebuah twist yang perih. Mbah Sri tiba di hadapan makam suaminya dengan segala kejutan yang selama disembunyikannya.

Tanpa kemewahan dan cahaya bintang, film sederhana ini sudah bersinar karena Purba adalah seorang pencerita yang ulung.

Sutradara dan skenario: B.W. Purbanegara, Pemain: Ponco Sutiyem, Rosadi, Ledjar Subroto. Produksi: BR Purbanegara Films, Limaenam Films, Lotus Cinema, Hide Projects Films, Super 8mm Studio dan Goodwork. (*/tempo)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.