Famtrip Taiwan 2016, Upaya Menyatukan Hati, Pikiran & Celah Bisnis Saling Menguntungkan

0
287

Peserta Taiwan Famtrip 2016 berfoto bersama di depan The Grand Hotel, Taipei

TAIPEI, Taiwan, bisniswisata.co.id: Hari terakhir di Taiwan seluruh rombongan ditempatkan di The Grand hotel dengan arsitektur klasik bak istana. Bangunan hotel yang besar dan masuk 10 hotel terbaik di dunia ini sudah membuat saya tercengang padahal baru melewati pintu gerbangnya saja.

Dua malam di hotel tua dan antik ini kami lewati karena pihak pengundang, Taiwan Tourism Bureau ( TTB) mengakhiri trip dengan 200 peserta dari Indonesia terdiri dari travel agent dan media nasional dengan menyelenggarakan Travel Mart, mempertemukan kami dengan kalangan industri pariwisata Taiwan.

Taiwan Tourism Bureau ( TTB) memang tengah gencar mendatangkan wisatawan muslim dua tahun terakhir ini. Sejumlah upaya telah dilakukan untuk mendukung program “Muslim-Friendly Tourism” di antaranya dengan mempromosikan restoran-restoran halal yang ada di berbagai kota besar di negara itu

Untuk mendukung program ini, pihak TTB menggandeng Chinese Muslim Association (CMA). Termasuk merilis “Muslim Dining in Taiwan”, sebuah buklet khusus yang bisa dijadikan panduan bagi wisatawan muslim selama berada di Taiwan.

Di dalamnya dicantumkan nama-nama restoran muslim atau yang menyediakan hidangan halal. Informasi itu dilengkapi dengan alamat dan jenis hidangan yang disajikan. Di situ juga disebutkan hotel-hotel yang mendapat Muslim-Friendly Certificate.

Di dalam buklet tersebut, disebutkan juga masjid-masjid di seluruh Taiwan beserta alamatnya. Berdasarkan data yang diberikan Taiwan Tourism Bureau, terdapat enam masjid di negara itu. Di Taipei City terdapat dua masjid, yakni Taipei Grand Mosque dan Taipei Cultural Mosque. Empat masjid lainnya ada di Zhongli, Taichung, Tainan, dan Kaohsiung.

Sambutan khusus

Langit-langit lobby hotel yang indah
Langit-langit lobby hotel yang indah

Suara Pretty, guide lokal kami mengagetkan saya karena kami diminta turun di lobby The Grand Hotel tanpa harus membawa bagasi karena akan ada penyambutan khusus dulu. Tiba di lobby hotel pandangan mata langsung tertuju ke puluhan anak tangga di ujung lobby yang berfungsi sekaligus sebagai panggung.

Belum hilang rasa takjub melihat interior hotel saya dikejutkan sapaan Keiko, wisatawan Jepang yang sedang berlibur bersama putrinya di hotel yang sama. Disapa wisatawan dengan bahasa Indonesia yang fasih membuat kami asyik mengobrol sementara tarian sambutan berlangsung.

Keiko rupanya bersuamikan orang Indonesia yang menjadi dosen di salah satu universitas di Tokyo. Suaminya adalah putra dari Ajip Rosidi, sastrawan yang mendapat Kun Santo Zui Ho Sho , bintang Jasa dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang pada 1999.

Keiko tidak sempat menjelaskan apakah suaminya Uga Percéka atau Nundang Rundagi, dua dari enam anak Ayip Rosyidi. Namun keramah tamahannya membuat saya merasa nyaman disambut senyuman Keiko yang tulus.

Tarian dari suku asli Taiwan, suku Formosa yang membuat lingkaran dan mengajak tamu-tamunya ikut menari membuat kami jadi berkeringat dan setelah itu sibuk berfoto bersama general manager hotel dan jajarannya sebelum akhirnya dibagikan kunci kamar dan menurunkan bagasi dari bis.

Kami mendapat kamar extension di bangunan baru hotel di bagian belakang bangunan lama dengan pemandangan ke arah bukit. Saat mengambil barang-barang di bis tampak pemandangan kota Taipei di waktu malam, begitu indahnya.

Hotel dengan bangunan klasik dan pemandangan indah memang jadi daya tarik bagi wisatawan Indonesia. Taiwan Tourism Bureau targetkan jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Taiwan sampai akhir tahun 2016 sebesar 200 ribu orang. Tahun lalu, wisatawan Indonesia ke Taiwan sebesar 177.743 orang.

Obyek wisata Taiwan pada umumnya yang menjadi idola kunjungan wisatawan adalah wilayah utara yang kondisi cuacanya lebih dingin. Tapi Taipei ternyata punya sudut-sudut lain seperti The Grand Hotel ini sampai-sampai untuk menuju kamar saja foto selfie terus berlangsung.

picsart_11-20-12-30-31Detil atap dan keindahan interior membuat banyak spot untuk foto ria.

Indonesia sendiri berada di urutan ketiga untuk jumlah wisatawan ke Taiwan. Tertinggi dari Malaysia kemudian Singapura. Total wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Taiwan tahun 2015 sebesar 10,439 juta orang dengan pertumbuhan jumlah wisatawan dari Januari hingga Juli 2016 sebesar 5,8 persen.

Sejak tahun 2015, pembuatan visa untuk pergi ke Taiwan semakin mudah karena aplikasinya lewat online dan untuk mendukung target jumlah kunjungan wisatawan, frekwensi penerbangan ke Indonesia akan bertambah yang dilayani China Airlines dan Eva Air.

The Grand Hotel yang dalam bahasa Mandarin Yuanshan Da Fandian atau Yuanshan Great Hotel adalah salah satu landmark kota Taipei selain Taipei 101 serta sudah cukup lama menjadi ikon kota Taipei karena struktur arsitekturnya yang klasik China dibandingkan bangunan-bangunan lain di Taipei.

Ibarat foto model yang bertubuh tinggi dan posenya menonjol, bamgunan hotel ini dari kejauhan sudah terlihat tinggi bergaya China berwarna merah yang terlihat sangat megah. Tak heran meski tidak menginap di hotel  ini dan cuma melihat-lihat area sekitar hotel tidak dilarang alias gratis.

Banyak wisatawan lokal maupun asing yang menyempatkan diri  datang ke Grand Hotel untuk mencermati bangunannya, belanja karena banyak toko atau makan siang di salah satu restoran di sana yang jendelanya menghadap ke arah sungai dan gedung Taipei 101 terlihat di kejauhan.

Tamu-tamu negara

Grand Hotel dibangun tahun 1952 atas ide dari Madam Chiang, istri presiden Taiwan waktu itu, Chiang Kai Shek, untuk menampung tamu kenegaraan. Meski secara resmi didirikan tahun 1952, Grand Hotel dibuka secara bertahap dan akhirnya kontsruksi bangunan yang saat ini berdiri diselesaikan tahun 1973.

Sejak saat itu, Grand Hotel menjadi hotel yang menjadi tempat menginap tamu-tamu kenegaraan. Di dinding bisa terlihat deretan tamu-tamu negara dan artis dunia yang pernah menginap diantaranya si cantik Elizabeth Taylor dan Alain Delon cowok ganteng yang saya suka tonton film-filmnya di Pusat Kebudayaan Perancis di Jakarta.

Hiasan patung naga di lobby belakang menuju bangunan extension
Hiasan patung naga di lobby belakang menuju bangunan extension

Konon orang penting pertama yang menginap di presidential suite adalah almarhum Presiden Thailand Bhumibol Adulyadej dan istrinya, Ratu Sirikit yang cantik di tahun 1963.

Selain ukiran luarnya yang megah, interiornya pun dirancang dengan sentuhan nilai-nilai tradisional Cina, mulai dari warna merah yang mendominasi, berbagai lukisan yang sarat nilai sejarah, dan ornamen lampu yang sebagian besar berbentuk naga.

Karena Grand Hotel didirikan atas inisiatif presiden Taiwan dan keluarganya, banyak yang berspekulasi bahwa ada terowongan rahasia yang menghubungkan Grand Hotel dengan kediaman presiden (waktu itu) -Shilin Presidential Residence yang letaknya tidak terlalu jauh.

Setelah terjadinya kebakaran hebat di tahun 1995 yang membuat Grand Hotel harus direnovasi, barulah terowongan rahasia ini ditemukan dan kemudian digunakan sebagai emergency passage untuk tamu hotel.

Keluarnya pun bukan di Shilin Presidential Residence, melainkan di taman dekat hotel. Terowongan ini tertutup untuk umum, dan hanya dibuka sesekali saat hotel mengadakan open house.

Travel Mart

Hari kedua di hotel ini seperti biasa kami awali dengan sholat subuh berjamaah. Menempati sudut ruang makan, Kyai Achmad Shofwan Lc MA, pengasuh pesantren terpadu Daarul Muttaqien, Surabaya, yang mendampingi rombongan Taiwan Moslem Educational Trip 2016 seperti biasa memimpin sholat subuh berjamaah dan tausiah.

Bukan itu saja, manajemen hotel The Grand juga memfasilitasi kami dengan makanan yang halal di lantai 10 gedung utama dengan banyak pilihan baik makanan dan minuman. Jam makan pagi dari pukul 7-10 pagi membuat kami untuk pertama kalinya selama di Taiwan bisa nyaman memanfaatkan waktu.

Biasanya semua dilakukan dengan tergesa-gesa karena tuan rumah ingin menunjukkan begitu banyak potensi wisata yang dimilikinya hingga kami baru bisa kembali istirahat di kamar hotel setelah jam 22.00

Tour keliling hotel dan foto bersama yang seolah tidak ada hentinya dilakukan sebelum akhirnya berkumpul kembali 200 peserta di ruang makan untuk makan siang bersama Chang Shi Chung, Deputi Direktur Jendral Taiwan Tourism Bureau ( TTB).

Setelah makan siang acara Travel Mart antara industri wisata Taiwan sebagai seller dan 200 peserta Famtrip sebagai buyer berlangsung. Acara yang hanya sekedar ajang perkenalan dan saling mengenal produk wisata ini belum seperti Travel Mart sesungguhnya yang diatur lama waktu pertemuan dari tiap booth ( meja) maupun target transaksinya.

Suasana jamuan makan siang dan travel mart
Suasana jamuan makan siang dan travel mart

Chang Shi Chung yang akrab mengobrol bersama saya usai makan siang mengatakan targetnya tahun depan Taiwan jadi negara ke tiga di dunia yang Muslim Friendly karena itu dia juga mulai memikirkan usulan saya agar dia fokus pada keluarga TKI dan mahasiswa Indonesia di sini.

Maklum sedikitnya ada 237.085 orang TKI bekerja di berbagai sektor di Taiwan. Begitu juga sekitar 4394 orang mahasiswa Indonesia kuliah di Taiwan. Saat ini jumlah pelajar Indonesia yang belajar di Taiwan itu termasuk 2.745 pelajar Sarjana, Master dan Doktor, 227 siswa pertukaran pelajar dan 1.442 siswa yang belajar Bahasa Mandarin.

Indonesia berada di urutan ke tiga sebagai jumlah mahasiswa asing yang belajar di Taiwan, setelah Malaysia dan Jepang. Para pelajar Indonesia di Taiwan mendirikan “Perhimpunan Persatuan Pelajar Indonesia di Taiwan”

“ Selain kemudahan visa harus ada kebijakan lain agar pihak keluarga juga bisa datang. Kita belum sepenuhnya paham karakteristik wisatawan Indonesia. Tapi percayalah setelah Famtrip ini kami akan jaring keluarga TKI dan mahasiswa untuk datang karena mereka bisa sebagai repeater guest,” katanya dengan wajah optimistis.

Malam hari digelar gala dinner di hotel yang sama dan para penghiburnya adalah para peserta Famtrip yang bergiliran tampil seperti vocal group. Kalau di Indonesia acara seperti ini pasti sudah diisi dengan berbagai atraksi kesenian di berbagai daerah.

Sayang sekali TTB tidak menonjolkan keunggulan seni dan budayanya sehingga saya meninggalkan acara lebih cepat supaya cukup tidur. Apalagi besok paginya jam 5.30 sudah harus berangkat ke bandara Toyuan untuk pulang ke tanah air.

Sampai di kamar saya siapkan baju dengan nuansa biru sebagai dress code hari kepulangan (16/10)  Khusus grup kami yang terdiri dari 28 orang yang menjadikan famtrip ini menjadi  Taiwan Moslem Educational Trip 2016 karena setiap hari bukan sekedar pengenalan tapi jadi ajang belajar yang  menonjolkan kekompokan bahkan dalan urusan kostum.

Sesuai perintah Komandan Priyadi kami masing-masing terus belajar menjadi tour leader dan mengatasi berbagai permasalahan selama 8 hari di Taiwan. Sebelum tidur saya mengucapkan doa-doa syukur diberikan teman-teman baru, saudara-saudara baru meski kami harus saling mengerti dan melengkapi lagi sebagai suatu keluarga dibawah komunitas IITCF. (Hilda Ansariah Sabri).

 

 

LEAVE A REPLY