Experiential Learning, Kini Bukan Sekedar Outbound

0
178
Flying Fox

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Experiential Learning memang namanya asing di telinga kita. Padahal aktivitas di alam bebas ini kerap dilakukan yakni outbound dan tren di Indonesia aktivitas ini mengalami grafik peningkatan yang pesat. Bahkan sudah memiliki wadah yang berdiri 10 tahun lalu, Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI) yang anggotanya 100 anggota untuk corporate dan 500 anggota untuk perseorang.

“Memang nama Experiential Learning Program (ELP) belum banyak dikenal masyarakat umum. Padahal salah satu penerapan metode EL yaitu Outbound telah menjadi agenda rutin yang diadakan oleh bermacam organisasi untuk meningkatkan kapasitas anggotanya,” papar Kresno Wiyoso, Ketua Umum AELI dalam keterangannya, Kamis (15/06/2017)

Dijelaskan, AELI didirikan dengan semangat untuk meningkatkan kualitas program dan kapasitas praktisi Experiential Learning di Indonesia. AELI berdiri dengan kesadaran bahwa metode pembelajaran berbasis pengalaman (Experiential Learning) ini merupakan metode yang sangat efektif dalam pembelajaran karena menggunakan seluruh aspek pembelajaran manusia baik afeksi, kognisi maupun konasi.

“Jadi Experiential Learning ini bukan sekedar outbound. Outbound itu salah satu implementasi dari ELP, dan masih banyak program pelatihan lain yang menggunakan metode EL dalam pelaksanaannya. Berbekal pemahaman tersebut, AELI berusaha untuk menjadi pihak yang menaungi seluruh penyedia layanan (provider) dan praktisi yang menggunakan Experiential Learning dalam programnya,” jelasnya.

Dilanjutkan, tahun 2000an, “booming” program Outbound sebagai salah satu menu wajib program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) organisasi merupakan masa keemasan penggunaan metode EL dalam hal ini Outbound di Indonesia.

Ternyata dalam perkembangannya, trend ini mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan menjamurnya provider outbound yang hanya sekedar meniru aktivitas yang dilakukan tanpa menyadari esensi dari program yang dibuat.

“Penurunan kualitas layanan ini yang menjadi cikal bakal berdirinya AELI. AELI didirikan untuk menjaga kualitas layanan maupun kompetensi praktisi EL di Indonesia agar Experiential Learning dapat menjadi program yang diakui dan dipercaya dalam meberikan manfaat pengembangan sumber daya manusia,” unglapnya serius.

Sofiyan Hadi selaku Kabid Humas AELI menambahkan memang selama ini kalau ada kegiatan pendidikan luar ruang, seperti pendidikan karekater, atau bermain di alam bebas dan sejenisnya, orang tahunya hanya outbond. Padahal kegiatan AELI ini lebih luas. Mulai bermain di alam bebas ada flying fox, Rafting, Pinball, perkemahan, off road, survival dan pendidikan mental, karakter building.

“Nah, Outbound ini memang menjadi salah satu penerapan metode EL yang telah menjadi agenda rutin yang diadakan oleh bermacam organisasi untuk meningkatkan kapasitas anggotanya. Tetapi sebenarnya masih banyak program pelatihan lain yang menggunakan metode EL dalam pelaksanaannya. Karena itulah makanya dalam kesempatan ini, kami juga adakan acara Open Mic, dan talk show dengan tema Sejarah Outbound di Indonesia, agar masyarakat tahu apa itu outbound dan Experiential Learning,” ujarnya.

Dijelaskan dalam usia yang menginjak 10 tahun ini, AELI menyadari masih banyak kekurangan untuk menghadirkan apa yang diharapkan oleh para pelaku dan pengguna Experiential Learning di Indonesia. Karena itu, momentum 1 Dekade AELI dirasa menjadi saat yang tepat untuk merapatkan barisan bersama seluruh stakeholder EL di Indonesia.Peringatan 1 Dekade AELI ini diadakan dengan semangat meningkatkan layanan asosiasi bagi seluruh stake holder terutama bagi Anggota AELI.

“Dengan tercurahnya semua ungkapan yang ditujukan kepada AELI, kami berharap AELI dapat membuka lembaran baru dan bersama-sama berkomitmen memberikan kontribusi maksimal bagi kemajuan Experiential Learning di Indonesia. Segala masukan ini diharapkan dapat menjadi modal dasar bagi AELI dalam menyusun strategi yang tepat untuk melangkah ke depan menjadi wadah yang mampu menebar manfaat bagi anggota dan bagi stakeholder-nya,” tandasnya. (ndik)

LEAVE A REPLY