ESQ Siap Bangkitkan Jiwa dan Raga Untuk Wujudkan Indonesia Emas

0
184

Nara Sumber Anggito Abimanyu, Lina Liputri, Ary Ginanjar Agustian dan Iman Herdimansyah sebagai moderator ( foto: HAS).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: ESQ dan para alumninya siap membangun jiwa dan raga bangsanya seperti yang diamanatkan dalam lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya, membangun jiwa dan raga untuk Indonesia yang jaya.

“Cara membangkitkan umat adalah bangun jiwa dan raganya untuk berkomitmen pada Allah. Buang ego dan belenggu yang merusak persaudaraan dan membuat luka umat dengan berkomitmen dan menyerahkan hasil pada Allah sehingga luka semasa Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang baru lalu misalnya, bisa kita sembuhkan,” kata Ary Ginanjar Agustian pendiri ESQ Learning Centre ( LC).

Berbicara pada seminar nasional  Transformasi Budaya Organisasi Menuju Indonesia Emas, di Menara 165, Minggu (21/5), Ary Ginanjar mengatakan tema seminar yang dipilih memperingati Milad ke 17 ESQ tepat karena bangsa ini tengah menghadapi luka nasional.

Pilkada DKI Jakarta membuahkan pertikaian terbuka yang sarat dengan sentimen kesukuan, ras dan agama yang telah memporak-porandakan kedamaian kehidupan berbangsa. Pemicunya, kesenjangan ekonomi dan sosial yang membuka kesenjangan akidah pula

“ ESQ mengajak bangsa ini kembali fokus membangun jiwa dan raga dengan belajar dari pengalaman tiga alumni yaitu Nurhayati Subakat, CEO/founder Wardah Cosmetic, Lina Liputri, CEO/ founder L’ Essential serta Kepala Ekonom BRI , Anggito Abimanyu,” kata Ary Ginanjar.

Menurut dia, selain sudah mengikuti training ESQ dan menjadi alumni, para nara sumber adalah mereka yang paham bagaimana harus membangkitkan jiwa dan raga perusahaan, karyawan maupun umat.

“Janji Allah dalam Alquran jadilah kau rahmat bagi umat dan Allah akan membalasnya dengan nilai yang tak terhingga. Contoh nyata adalah bunda Nurhayati Subakat, CEO, pendiri Wardah Cosmetic pada 1985,” ujar Ary dalam sesi pembuka.

Wardah kini menjadi perusahaan kosmetik rangking 6 di dunia. Bendera Indonesia berkibar di industri kosmetika dunia berkat Wardah. Saat pabriknya terbakar, keinginan pemilik Wardah untuk bangkit justru karena ingin mempertahankan 100 karyawannya tetap bekerja dan tidak terkena PHK.

Sebagai CEO PT Paragon Technologi & Innovation yang memproduksi Wardah dan brand cosmetic lainnya, Nurhayati mengatakan kunci dalam mewujudkan visi usaha antara lain menerapkan bahwa karyawan adalah bagian dari keluarga.

“Strategi lainnya berpegang pada 5 P, yaitu Product, Place, Promotion, Price dan Pertolongan Allah selain juga mengandalkan DUIT singkatan dari Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal,” kata Nurhayati

 

Nurhayati Subakah, CEO Wardah Cosmetic saat menjawab pertanyaan peserta seminar.

Lina Liputri, CEO dan pendiri L’Essential, produk kecantikan perawatan kulit juga membagikan pengalamannya membuat usaha di tahun 2004 karena ingin membantu teman-temannya yang PHK akibat anak perusahaan kosmetik tempatnya bekerja di merger ke perusahaan induk dan harus ada pengurangan pegawai.

Sebagai orang Riset & Development ( R&D) posisi Lina Liputri aman bahkan banyak perusahaan lain yang meminangnya. Namun seorang dokter yang menjadi rekannya justru mendorongnya buka usaha sendiri dan sekaligus menampung teman-temannya yang PHK.

Pengusaha etnis China yang menjadi mualaf tahun 2005 ini mengatakan pengalamannya membuktikan bahwa tanpa sempat bermimpi jadi pengusahapun dengan berserah diri dan niat baik maka Allah akan menolong hambanya yang bersungguh-sungguh.

Kepala Ekonom BRI Anggito Abimanyu yang menjadi nara sumber lainnya mengungkapkan bahwa kesenjangan sosial, ekonomi telah membuat bangsa Indonesia tidak menjadi tuan rumah di negrinya sendiri karena hampir disemua sektor sudah dikuasai pihak asing.

Padahal lanjutnya, piramida ekonomi yang didominasi korporasi besar itu terbukti rentan terhadap krisis. Sementara ekonomi menengah dan kecil itu terbukti tahan gelombang krisis.

“Kalau menyebut angka kemiskinan maka sejatinya kita menyebut kemiskinan mayoritas umat Islam. Jumlahnya banyak tapi mengalami kesenjangan ekonomi, sosial hingga akidah sehingga pada situasi sekarang ini mudah sekali dibenturkan dalam sentimen kesukuan, ras dan agama,” kata Anggito Abimanyu.

Anggito yang juga pendiri Koperasi Syariah 212 menambahkan memutar piramida ekonomi seperti ini bukan pekerjaan kecil, sehingga memerlukan waktu dan kegigihan, bahkan seharusnya ada keberpihakan negara.

Kemajuan bangsa juga harus dinikmati umat. Kalau mau menjadi tuan rumah dinegri sendiri perkuat ekonomi rakyat, jadi pengusaha mandiri bukan beli franchaise yang membuat margin keuntungan kecil,

“Beli hasil bangsa sendiri dan pro pada usaha milik muslim sekalian dan lakukan secara berjamaah barulah kaum mayoritas ini bisa memiliki perekonomian yang kuat,”

Forum Komunikasi Alumni ( FKA) ESQ dengan 1,6 juta alumninya yang tersebar di Indonesia dan mancanegara seharusnya bisa berkontribusi dengan mengumpulkan dana per orang Rp 165 ribu saja sudah bisa menjadi modal bagi pemberdayaan umat.

Ary Ginanjar dalam rangkumannya menegaskan ESQ sebagai lembaga non agama atau politik bagaikan oksigen yang netral dan tidak berwarna. ESQ merupakan lembaga training independen untuk membangun karakter dan budaya bangsa dan memiliki visi Indonesia Emas 2020 yang tinggal 3 tahun mendatang, Visi Indonesia Emas 2030 dan Visi Indonesia Adi Daya 2045.

Dia optimistis, melalui pendekatan ESQ 165 (1 Ihsan, 6 Rukun Iman, 5 Rukun Islam), kebangkitan umat Islam akan terwujud untuk membalikkan piramida terbalik di sektor perekonomian. ( Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY