Erupsi, Gunung Bromo Ditingalkan Wisatawan

0
702
Gunung Bromo Keluarkan asap merah (foto: http://eastjavaholiday.com)

PROBOLINGGO, test.test.bisniswisata.co.id: Erupsi Gunung Bromo yang sudah berlangsung selama sebulan lebih, kini mulai ditingalkan wisatawan lokal maupun mancanegara. Tidak ada lagi turis yang selama ini menikmati semburan asap dari bukit penanjakan maupun kawasan lain yang dianggap aman.

Pada Senin (11/01/2016), aktivitas vulkanik Gunung Bromo setinggi 2.329 meter di atas permukaan air laut dii perbatasan Kabupaten Probolinggo, Pasuruan dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan.

Status gunung api aktif yang memiliki panorama eksotik dan sudah beberapa waktu terakhir diwarnai letusan dengan suara gemuruh serta semburan hujan abu relatif tipis dengan ketinggian menurun dari 1.200 meter menjadi sekitar 900 meter di atas kawah itu oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Pusat masih Siaga.

“Aktivitas vulkanik (G Bromo) terus meningkat secara fluktuatif. Masih terjadi letusan, suara gemuruh dari dapur magma juga pada malam hari menyebarkan sinar bara api ke udara. Hujan abu ke arah Pasuruan dan Malang masih terus berlangsung. Gempa vulkanik terekam antara 22-36 milimeter amplitudo, dengan asap kelabu yang lumayan tebal,” ujar Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Bromo PVMBG, Ahmad Subhan yang dihubungi, Senin (11/1)

Getaran gempa, sambung Subhan, bisa dirasakan penduduk Suku Tengger sebagai penghuni kawasan puncak G Bromo dalam radius tiga kilometer (Km). Gempa letusan itu merupakan salah satu tipe aktivitas gempa gunung aktif.

Gempa itu merupakan tekanan udara dari dalam perut magma yang bergerak keluar ke alam terbuka yang menimbulkan getaran. Ia mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir atau panik dengan gempa letusan G Bromo karena jenis gempa tersebut merupakan hal yang wajar di fase erupsi yang terus menerus sejak statusnya Siaga.

Kepala Tim Tanggap Darurat Erupsi G Bromo, Iing Kusnadi, yang dikonfirmasi secara terpisah tadi pagi menambahkan, semburan hujan abu sekitar 900 meter di atas kawah G Bromo itu berarti memiliki ketinggian 3.229 m.dpl.

“Kalau sampai terbawa angin hingga berada di atas bandar udara (Bandara), bisa jadi cukup mengganggu aktivitas penerbangan,” ujar dia menanggapi diterapkannya sistem buka tutup (operasional) Bandara Abdul Rahman Saleh di Malang dalam sebulan terakhir.

Situasi di kawasan G Bromo dalam sebulan terakhir sekarang menjadi sepi wisatawan. Kondisi cuaca dan udaranya yang diwarnai hujan abu vulkanik, “Jadi tidak mendukung wistawan untuk berkunjung kemari, terkecuali mereka yang memang petulangan,” tambah Hardjito (52), pemilik home stay di kawasan ‘bibir’ kaldera Bromo yang dihubungi terpisah.

Hardjito juga sederet pemilik home stay mengalami krisis kunjungan tamu, sehingga hanya bisa pasrah dengan kondisi alam Bromo sekarang ini. Mayoritas pedagang cinderamata dan warung-warung banyak yang tutup, karena sepi pembeli. (*/sp)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.