Erupsi Gunung Agung, Menyurutkan Peserta UWRF 2017

0
45
Ubud Writers and Readers Festival (Foto: http://www.pen-international.org/)

UBUD BALI, Bisniswisata.co.id: Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017, tak gentar terhadap ancaman Gunung Agung. Pesta sastra yang tak hanya dihadiri pencinta seni dalam negeri, juga berbagai mancanegara itu kembali digelar ke-14 kalinya di Ubud, Bali, mulai 25 hingga 29 Oktober 2017.

Memang sedikit banyak acara itu terdampak kabar erupsi Gunung Agung yang berembus sejak bulan lalu dan sudah mengevakuasi beberapa daerah di Karangasem itu.

Janet DeNeefe, co-founder yayasan nirlaba Mudra Swari Saraswati yang menggagas UWRF mengaku sempat terdampak dengan pemberitaan terkait Erupsi Gunung Agung akibatnya jumlah peserta UWRF tahun ini berkurang

Hanya saja, ia tak memegang angka pasti. “Saya pikir begitu [berkurang], tapi kita lihat saja besok [hari pertama UWRF, 26 Oktober]. Sebelum ada gangguan itu, kami sangat bersemangat. Tapi lalu mulai surut. Saya tidak yakin. Mungkin [peserta] berkurang 10-15 persen.”
ungkap Janet seperti dilansir laman CNNIndonesia.com, Kamis (26/10/2017).

Janet mengklaim sudah memikirkan hal-hal yang harus disiapkan jika Gunung Agung betul-betul meletus saat festival diselenggarakan. Keamanan peserta adalah prioritas utamanya. Namun ia tahu tak banyak yang bisa dilakukan jika orang sudah lebih dahulu takut.

Meskipun, sebulan sebelum penyelenggaraan UWRF panitia sudah mengirimkan pemberitahuan yang meyakinkan bahwa evakuasi hanya perlu dilakukan dalam radius 12 kilometer. Gunung Agung sendiri terletak 35 kilometer dari Ubud. “Tidak ada bahaya bagi area di luar radius 12 kilometer,” demikian tertulis dalam keterangan pers.

Ia sebenarnya sempat berpikir untuk menunda atau membatalkan ajang pertemuan para penulis global, lokal dan pencinta sastra itu. Namun ia terenyuh melihat orang-orang yang masih yakin untuk tetap menyelenggarakannya. Apalagi dari kalangan penulis. “Mereka memang pemberani,” ungkapnya, bahkan dengan bahasa Indonesia yang terbata.

Sambil berseri-seri Janet menjelaskan bagaimana para penulis yang diundang tetap tidak membatalkan kedatangan mereka ke Bali meski ada gangguan isu erupsi Gunung Agung. “Kalau pun ada yang membatalkan, itu karena sakit. Tidak ada hubungannya dengan Gunung Agung. Mereka bahkan tidak peduli jika ada imbauan perjalanan,” lanjut Janet.

Ia mengaku terkejut. Janet kemudian menyadari, sebenarnya keberanian itulah inti dari penyelenggaraan UWRF yang digelar sejak 2003. Janet menggagas festival itu pada 2003 dengan tujuan menghalau efek takut orang datang ke Bali setelah terjadi bom pada 2002.

Janet termasuk yang bersedih Bali sepi pengunjung saat itu. Ketika ia menghadiri Melbourne Writer’s Festival pada 2003, sembari duduk di kursi pembicara diskusi panel, pandangan Janet menerawang ke jalanan yang kala itu putih, dingin dan penuh salju.

Sebuah pemikiran bermain-main di kepalanya, “Tidak bisakah mereka meletakkan bunga di sana?” Saat itulah Janet merasa yakin, “Oke, saya akan menggelar festival untuk para penulis.” Ia langsung mengirim pesan singkat pada seorang teman soal idenya itu.

“Festival ini dilahirkan dari tragedi,” tuturnya dalam konferensi pers UWRF 2017. Saat pembukaan UWRF 2017 malam harinya di Istana Ubud, keberanian itu pula yang digaungkan. “I’m not scared of that volcano!” diteriakkan di halaman Istana.

UWRF 2017 dimeriahkan beberapa penulis ternama seperti Nh Dini, Ahmad Fuadi, Leila S. Chudori, Djenar Maesa Ayu, Ian Rankin, Janet Steele, Jung Chang, Joko Pinurbo, bahkan kreator minions Pierre Coffin yang beradarah separuh Perancis dan separuh Indonesia. (*/CNN)

LEAVE A REPLY