Emron Pangkapi, Komisaris PT Timah yang aktif promosikan pariwisata Babel

0
1091

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: “Ayo berwisata ke Bangka Belitung, jangan hanya punya rencana, action dong..”, kalimat yang dituliskan Emron Pangkapi, Komisaris PT Timah tbk melalui WhatApps Group (WAG) memang cukup memprovokasi teman-temannya untuk datang.

Tahu-tahu muncul foto Emron dengan Syarifudin, senior journalist, mantan pemimpin redaksi yang pernah bekerja satu atap dengannya semasa menjadi wartawan di Harian Bisnis Indonesia.

Foto-foto dengan pemandangan indah khas provinsi yang kini disebut sebagai Bumi Laskar Pelangi, menyusul kesuksesan film Laskar Pelangi tahun 2008 yang mengambil lokasi di provinsi itu memang membuat teman-temannya tergiur dan langsung memutuskan untuk segera datang bulan September mendatang.

Dia lalu mengunggah foto saat bersama satu rombongan lain yang mengunjungi obyek wisata peleburan timah di Bangka untuk mengundang semakin banyak orang datang ke Babel melalui WAG dan sosial media lainnya. Wajar sebagai putra asli daerah Emron Pangkapi yang sejak muda sudah aktif berorganisasi dan berkeliling nusantara maupun dunia paham betul bagaimana menjadi wisatawan dan dampaknya bagi penghasilan asli daerah.

Kini sebagai komisaris PT Timah Tbk, wajar kalau pria yang punya andil membesarkan Partai Persatuan Pembangunan ( PPP)– sebuah partai politik berjatidiri Islam terkemuka di Indonesia, dia rajin mempromosikan pariwisata Babel terutama mendorong lahirnya ikon-ikon baru di daerahnya apalagi yang berhubungan dengan timah, hasil tambang terbesar di negri ini.

Jajaran direksi sebelumnya memang telah merencanakan pembangunan Menara Timah yang makin mengkristalkan Bangka Belitung sebagai provinsi penghasil timah utama di dunia akan menjadi ikon pariwisata daerah setempat yang mampu meningkatkan nilai jual provinsi ini sebagai destinasi wisata yang patut mendapat prioritas untuk dikunjungi

Ikon baru akan menguntungkan daerah sehingga paket pariwisata yang dijual juga semakin bervariasi dan Menara Timah bisa menjadi bangunan monumental sekaligus menjadi bukti sejarah dan mematrikan nama besar PT Timah dalam sejarah pertimahan Indonesia dan dunia, dengan Babel yang menjadi wilayah kerja utamanya.

Pembangunan menara senilai Rp 83,6 miliar di luar harga tanah tersebut memiliki nilai historis serta kebanggaan bagi daerah. Menara tersebut akan dibangun dengan konsep terintegrasi dengan hotel oleh desainer Nyoman Nuarta.

Bangunan menara didirikan di atas tanah milik PT Timah yang berstatus hak guna bangunan (HGB) di kawasan Girimaya yang hanya membutuhkan 10 menit dari bandara di ketinggian 75 meter dari permukaan laut.

“Pariwisata harus menjadi motor penggerak perekonomian Babel dan terwujudnya pembangunan menara tersebut bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, menyediakan tempat representatif bagi tamu atau wisatawan, menjadi pusat pengembangan budaya, dan mendorong pertumbuhan usaha kecil menengah,”  kata Emron Pangkapi .

Dalam bangunan menara timah tersebut terdapat fasilitas 100 kamar hotel, ruang pertemuan, restoran, galeri museum, dan fasilitas lainnya. Ikon baru ini juga akan menyerap ribuan tenaga kerja baru untuk kebutuhan berbagai acara yang dapat diciptakan.

Menara timah mengedepankan simbolisasi logam timah dalam bentuk unik dan monumental. Wujud timah disimbolkan melalui bentuk balok timah yang dipegang kedua tangan seolah sedang dipersembahkan. Kedua belah tangan yang menopang timah cetakan dalam posisinya yang stabil menyiratkan sikap memberi atau mempersembahkan secara kokoh.

Tak heran banyak kalangan menilai Emron Pangkapi adalah sosok yang tepat dalam perusahaan negara yang bergerak di bidang tambang ini. Bukan karena Bangka sebagai daerah kelahiran saja, tapi dia memang pelopor bertipe pendobrak. baik di medan perjuangannya di organisasi politik maupun kemasyarakatan dia selalu tampil sebagai pelopor perubahan

Tak perlu menelisik sampai puluhan tahun silam, simak saja karirnya mulai dari persiapan Bangka Belitung berdiri sendiri sebagai provinsi 15 tahun terakhir, sudah membuat perjalanan hidupnya penuh dengan beragam prestasi yang membanggakan sebagai putra daerah.

Emron Pangkapi ( tengah) mengantar tamunya gingga ke pelosok desa
Emron Pangkapi ( tengah) mengantar tamunya gingga ke pelosok desa

Sang Pelopor

Emron Pangkapi, lahir di Pangkalpinang Kepulauan Bangka Belitung, 26 juni 1957 dan di partai jabatan terakhnirnya adalah Wakil Ketua Umum DPP PPP (2011-2016), Ketua Dewan Penasehat Lembaga Adat Melayu Bangka Belitung dan Pendiri/Ketua Yayasan Tamadun Melayu Bangka Belitung.

Dia dikenal sebagai tokoh Melayu Indonesia. Bergelar Dato Seri Radindo Haji Emron Pangkapi yang menjadi salah satu tokoh utama dalam perjuangan terbentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bersama rekannya Usmandie Andeska dan Safari ANS yang menyusun dan menyiapkan draft RUU Provinsi Babel, Emron tak segan bergerilya dan menemui satu persatu Anggota DPR RI untuk mendapatkan dukungan Usul Inisiatif DPR untuk pembahasan RUU tersebut.

Emron Pangkapi yang ditunjuk sebagai Kordinator Tim Percepatan Pembentukan Provinsi Bangka Belitung mengawal setiap  tahapan proses pembahasan RUU provinsi itu di forum parlemen, meletakkan dasar-dasar pembangunan Babel sekaligus menjadi jurubicara daerah.

Tak heran setelah Provinsi Babel diresmikan 9 Februari 2001, Emron Pangkapi langsung diangkat menjadi staf Ahli Gubernur untuk menyiapkan konsep dasar provinsi baru tersebut. Kemudian dia terpilih sebagai Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pertama dan dilantik pada tanggal 24 September 2001.

Bersama tim kecil yang dibentuk Pejabat Gubernur, Emron pula yang menggagas nama Bangka Belitung sebagai Negeri Serumpun Sebalai dan mengukuhkan ruh (spirit)  Pembangunan di Bangka Belitung diletakkan pada landasan Budaya Melayu.

Nama-nama Datuk Seri Haji Romawi Latif, Guru Suhaimi Sulaiman, Ahmad Rusdi dan Emron Pangkapi adalah tokoh-tokoh utama yang meniup ruh Negeri Serumpun Sebalai dan kemudian meligitimasinya dalam Peraturan Daerah (Perda).

Terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Penghulu Mohammad Asir Haji Aris dan Hj Ketineb Haji Limin. Ayahnya Mohammad Asir dikenal sebagai guru agama yang berdakwah hampir ke santero pulau Bangka adalah asli orang Kampung Dalam Pangkalpinang, cucu kandung dari Patih Halil pendiri kota Pangkapinang.

Tidak heran kakeknya Haji Aris/Nek Anit dan hampir semua sanak beruyutnya tinggal di Kampung Dalam dan sebagian menempati tepi Sungai Rangkui.  Ibunya Hj Ketineb Haji Limin berasal dari Desa Menduk yang mempunyai tradisi keluarga orang alim Mendo Barat, yang menyebarkan pemuka-pemuka agama di hampir semua pelosok Babel.

Setelah terpilih menjadi Ketua DPRD (2001),  Emron Pangkapi  kemudian memprakarsai Bangka Belitung sebagai tuan rumah pekan budaya/konfrensi tahunan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI)  tahun 2003, yang dihadiri delegasi Melayu se dunia. Pekan budaya DMDI adalah perhelatan akbar yang spektakuler bagi sebuah provinsi baru, dan hingga kini, kisah suksesnya, belum bisa diulangi oleh pemerintah daerah setelahnya.

Kebanggaan sebagai bangsa Melayu memang sudah mengakar dalam dirinya, ditambah lagi ketika menjadi wartawan yang bertugas di di Kuala Lumpur (1995-1998) dan kerap mangkal di Menara UMNO di PWTC, dia banyak bergaul dengan tokoh politik di kawasan serantau seperti  PM Dr Mahathir Mochammad, Wakil PM Anwar Ibrahim, bersahabat dengan Menlu Abdullah Ahmad Badawi, dan sering bertemu trio UMNO Najib, Muhyidin Yasin dan Thaib Muhammad.

“Semua itu berkat kedekatannya dengan Sekjend UMNO Dato’ Mochammad Rachmad, mantan Dubes Malaysia di Jakarta dan alumni Universitas Indonesia. Inshaa Allah saya tidak pernah menyia-nyiakan makna pertemanan dan pentingnya bersilaturahim,” ungkapnya polos.

DMDI melambungkan nama Bangka Belitung ke-seantero jagat apalagi event itu juga diwarnai berbagai event hingga Babel menjadi pemegang rekor dunia, antara lain, pembuatan Stanjak Terbesar,  Gasing Terbesar, Ketupat dan Lepat Raksasa yang tercatat dalam buku Museum Rekor Indnesia (MURI).

Ini merupakan perhelatan akbar pertama dan terbesar dalam sejarah Bangka Belitung. Sukses DMDI 2003 mengangkat Nama Emron bersama Pemangku Adat Negeri Serumpun Sebalai Datuk Seri Haji Romawi Latief dan  budayawan Bangka  Ibnu Hajar  bergaung jauh, sebagai tokoh yang meletakkan dasar kultural daerah baru tersebut. Mereka bertiga senantiasa diundang ke berbagai forum di dalam dan luar negeri untuk berbagai pengalaman melestarikan nilai-nilai tradisi dan budaya bangsa.

Kiprah  Emron tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2010 bersama Budayawan Dato’ Seri Radindo DR Ibnu Hajar, Emron Pangkapi berhasil membangun Rumah Adat yang diberi nama Balai Rampai Budaya Melayu Negeri Serumpun Sebalai  ( NSS) di kota Pangkalpinag sebagai simbol pusat kesenian, tradisi dan budaya Melayu.

Kegigihannya melestarikan adat istiadat dan budaya Melayu mengantar Emron Pangkapi akhirnya mendapat pengakuan sebagai budayawan Melayu. Dia menerima Gelar Kehormatan; Gelar Datuk Seri Tuah Bestari diberikan oleh Pemangku Adat Langkat (MABMI) Datuk Seri Haji Syamsul Arifin.

Gelar Radindo Panglima Bertuah dianugerahkan kepada Emron Pangkapi oleh Kerajaan Jiering Bangka. Datuk Seri yang diberikan oleh Gubernur Eko Maulana Ali sebagai Pemangku Adat NSS pasca wafatnya Datuk Seri Haji Romawi Latif dan gelar Dato Seri Pangeran Nata Astana diberikan oleh Kesultanan Amantubillah Mempawah Pontianak.

Prestasi lainnya ketika provinsi ini baru berdiri adalah menyelenggarakan Seminar Nasional Kelautan yang dibuka oleh Wakil Presiden RI DR H. Hamzah Haz di Tanjung Pesona Sungailiat. Dari sini lahir Deklerasi Tanjung Pesona yang mewajibkan pemerintah pusat memberlakukan sama antara daerah kontinental dan  kepulauan di Indonesia.

Kontribusinya juga terus bergulir karena dari situlah kemudian terbentuk Asosiasi Pemerintahan Daerah Provinsi Kelautan di Indonesia yang menjadi mitra pemerintah pusat dalam menyusun program khusus bagi masyarakat daerah  pesisir dan kepulauan.

Keindahan alam, aset utama pariwisata Babel ( foto: Garuda Indonesia Holiday)
Keindahan alam, aset utama pariwisata Babel ( foto: Garuda Indonesia Holiday)

Pria yang ahli hukum dan telah menerbitkan sejumlah buku ini juga membidani Asosiasi DPRD Provinsi, memanfaatkan bunyi undang-undang tentang pemerintah daerah yang  memungkinkan berdirinya asosiasi pemeritah daerah dan asosiasi DPRD.

DPRD Babel dengan beraninya menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional Asosiasi Pimpinan DPRD Provinsi di Indonesia yang diikuti lebih dari 300 peserta yang terdiri dari Pimpinan DPRD dan Sekwan Provinsi se Indonesia, padahal pada masa itu kamar hotel seluruhnya di Bangka belum mencapai 200 unit.

Sebagai ketua penyelenggara, Emron berimprovisasi, menutup segala kekurangan itu, dengan memberikan konpensasi pelayanan khas Melayu bagi seluruh peserta Munas artinya sebagian peserta ditampung di rumah-rumah penduduk dengan keramahan khas Melayu. Kemampuannya  memimpin perhelatan itu menjadikan dia terpilih sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pipinan DPRD se Indonesia mendampingi Ketua Mayjend TNI (Purn)  Eddy Waluyo dari DKI Jakarta untuk masa bhakti 2002-2004.

“Event erat kaitannya dengan pariwisata karena peserta yang datang dari berbagai daerah akan butuh akomodasi, transportasi, makan-minum, hiburan, oleh-oleh yang seluruhnya disediakan oleh masyarakat bukan hanya oleh industri pariwisata yang mapan. Di situlah dampak bergandanya sektor pariwisata. mantap kan..,” kata Emron.

Pengalaman berwisata dan menghadiri beragam pertemuan di dalam dan luar negri juga yang membuatnya menyadari sektor pariwisata sangat ampuh menggerakan perekonomian daerah terutama industri kreatif. Nah siapa yang masih ragu berwisata ke Babel ? tantangnya menutup pembicaraan. (hildasabri@yahoo.com)

 

 

LEAVE A REPLY