Emisi, “the Invisible Killer” bagi Pemudik

0
108

BALI, bisniswisata.co.id,- MUDIK dan terjebak macet mewarnai ceritera- ceritera libur Lebaran bagi banyak kalangan. Ada keluhan, ada yang justru mendapat inspirasi aktivitas pencair kebosanan. Pengalaman terburuk selain kecelakaan adalah kematian yang tidak terduga.
Teringat pada periode mudik Lebaran 1437 H tahun lalu, tercatat 11 orang meninggal dunia diduga akibat keracunan emisi CO (Carbon Monoxide), selain akibat paparan emisi lain dari pembuangan kendaraan bermotor. Bukan karena kecelakaan lalu lintas, terguling, tertabrak atau benturan fisik kendaraan bermotor, tetapi meninggal dunia oleh pembunuh tak tampak (invisible killer) akibat terpapar emisi kendaraan yang terjebak kemacetan.

Mudik dan Pencemaran Udara
Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB/Indonesia Effort for Environment) dalam siaran tertulis yang diterima redaksi bisniswisata.co.id, menyebutkan pencemaran udara masih mengancam Indonesia, khususnya kota-kota besar yang sarat dengan industri dan kendaraan bermotor. Tak terkecuali kawasan jalur mudik Lebaran dengan tingkat kemacetan luar biasa seperti jalan PANTURA mau pun jalur Selatan Jawa via Nagrek. Pencemaran udara, tidak saja mengancam para pemudik, tetapi juga bagi para pemukim di sekitar jalur mudik tersebut. Sumber pencemaran udara adalah pembakaran bahan bakar fosil untuk industri dan transportasi.
Bahan beracun yang terkandung di dalam polutan emisi gas buang kendaraan bermotor antara lain Particulate Matter (PM), Sulfur Dioxide (SO2), Nitrogen Dioxide (NO2), Carbon Monoxide (CO), Ozone (O3), Hydro Carbon (HC), timbel (Pb), dll. Umumnya zat-zat polutan udara ini langsung mempengaruhi sistem pernafasan, pembuluh darah, sistem saraf, hati dan ginjal dengan gejala pusing-pusing, mual dengan penyakit/sakit ISPA, astma, tekanan darah tinggi, hingga pada penyakit dalam seperti gangguan fungsi ginjal, kerusakan pada sistem syaraf, penurunan kemampuan intelektual (IQ) anak-anak, kebrutalan pada remaja, keguguran, impotensi, jantung coroner (coronary artery dieses) kanker dan kematian dini.
Invisible killer membunuh (terutama CO) tanpa terlihat, tidak berbau dan membuai si calon korban dengan rasa kantuk yang kemudian tertidur dan tidak pernah bangun kembali. Keadaan CO dan parameter pencemar lainnya, menjadi invisible killer perlu beberapa kondisi yaitu tingkat, jenis, konsentrasi, ukuran dan komposisi kimiawi berbagai parameter pencemaran udara tersebut.
Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan terjadinya: iritasi pada saluran pernafasan, menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan dapat terhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan. Peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar . Produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernafasan.Rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Pembengkakan saluran pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel, sehingga saluran pernafasan menjadi menyempit. Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir.
Akibatnya terjadinya kesulitan bernafas yang berujung tidak benda asing termasuk bakteri/mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan tetapi juga memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan serta barakibat kematian.
Untuk mencegah terulangnya korban meninggal karena invisible killer, KPBB menyarankan perlu diatur agar kemacetan selama prosesi perjalanan mudik dapat dicegah. Para pemudik harus mempersiapkan diri untuk mengelola perjalanannya sehingga tidak selalu berada di dalam mobil dan sekitarnya ketika terjadi kemacetan yang panjang dan lama. Disarankan keluar dari kendaraan dan menjauh dari posisi mobil (30 – 50 m) setelah terlebih dahulu mematikan mesin mobil. Untuk menghindari terik matahari atau hujan, tentu harus mempersiapkan payung, ponco, tenda portable dll; ketika tidak menemukan perumahan penduduk atau warung/restoran untuk berteduh dan beristirahat. Mempersiapkan makanan siap santap yang ringkas tetapi cukup gizi. Semoga kasus invisible killer akibat paparan Co 2, tidak terulang. *Dwi/bisniswisata.co@gmail.com

LEAVE A REPLY