Emirates & Etihad Jajaki Peluang Merger

0
35

DUBAI, bisniswisata.co.id: Dua maskapai papan atas dunia asal Uni Emirat Arab yakni Emirates dan Etihad dikabarkan menjajaki kemungkinan melakukan penggabungan usaha alias merger.

Bloomberg mengutip pemberitaan pers lokal melaporkan, keluarga penguasa Uni Emirat Arab yang mengontrol Emirat dan Etihad telah mengadakan pembicaraan tentang kemungkinan menggabungkan dua maskapai tersebut.

Etihad, maskapai yang bermarkas di Abu Dhabi tercatat membukukan kerugian senilai US$ 1,87 miliar pada tahun 2016 akibat kegagalan strategi membangun aliansi dengan maskapai penerbangan lain. Catatan saja, Etihad menjalin aliansi bisnis dengan Air Berlin Plc dan Alitalia SpA, namun belakangan ua perusahaan itu bangkrut. Padahal Etihad telah menggelontorkan dana besar ke Air Berlin dan Alitalia.

Selentingan rencana merger Emnirates dengan Etihad itu pernah dibantah Chairman Emirates Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum. Bulan lalu, ia mengatakan tidak pernah ada pembicaraan dengan Etihad soal rencana merger.

Senada, Presiden Emirates Tim Clark dalam wawancara dengan Bloomberg Television di Sydney, Selasa (5/6), mengatakan rencana merger tersebut merupakan hak pemegang saham untuk memutuskan dan tidak ada perkembangan seperti itu kemungkinan dalam waktu dekat. “Itu ada di tangan para pemegang saham. Dalam jangka pendek, jangka menengah, saya akan mengatakan tidak,” kata Clark.

Emirates merupakan maskapai penerbangan jarak jauh terbesar di dunia. Emirates membukukan laba bersih 4,11 miliar dirham atau setara US$ 1,1 miliar tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2018. Kinerja Emirates salah satunya terpengaruh kenaikan harga minyak dunia yang mendorong geliat arus perjalanan penumpang dari dan ke kawasan Timur Tengah yang mengandalkan ekonominya pada minyak.

Laba Emirate tersebut telah kembali ke level periode 2013-2014, menandakan pemulihan bisnis setelah jatuhnya harga minyak dunia,
“Pemesanan tiket pesawat musim panas ini sangat kuat dan harga tiket telah meningkat dari tahun lalu,” lontar Clark.

Namun prospek bisnis penerbangan di tahun ini juga menghadapi pukulan ganda, yakni dari menguatnya kurs dollar AS serta meningkatnya biaya bahan bakar, sambungnya. (BTV)

LEAVE A REPLY