Dua Film Indonesia Masuk Festival Film Cannes 2016

0
575

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Sineas Indonesia masih menjadi perhatian industri film internasional, seperti Festival Film Cannes yang segera digelar di Prancis.Tahun 2016i, dua film Indonesia akan dipertontonkan dalam festival bergengsi tingkat internasional. Dua film itu masuk seleksi L’Atalier Cinefondation Festival Film Cannes pada 11-22 Mei 2016.

Pertama masuk seleksi L’Atalier Cinefondation Festival Film Cannes’Marlina The Murderer in Four Acts’ hasil garapan sutradara perempuan pertama peraih Piala Citra, Mouly Surya, Film yang skenarionya di garap Garin Nugroho terpilih menjadi salah satu dari 15 proyek film dari seluruh dunia, yang akan masuk dalam project market untuk mencari mitra koproduksi, penjualan dan distribusi internasional.

Marlina yang akan diperankan Marsha Timothy akan syuting di Pulau Sumba. Marlina adalah seorang janda 35 tahun yang memenggal kepala pimpinan gerombolan perampok dan membawa lari kepalanya dalam sebuah perjalanan.

Mouly mengatakan film yang digarap rumah produksi Cinesurya Pictures berkolaborasi dengan Kaninga Pictures. “Setelah terseleksi dalam beberapa project market serupa di Asia, Marlina akan dipresentasikan di Cannes, untuk pertama kalinya di Eropa,” paparnya di Jakarta, Jumat (29/4/2016).

Kedua, film pendek terbaru ‘Prenjak/In The Year of Monkey’ (2016), yang terpilih dalam kategori film pendek program La Semaine de la Critique di Festival Film Cannes 2016. Film ini digarap sineas muda Indonesia,Wregas Bhanuteja.

Film besutan pria lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini bercerita tentang Diah, seorang wanita yang sangat butuh uang cepat menawarkan Jarwo, teman kerjanya, untuk membeli sebatang korek api miliknya seharga Rp10.000. Apabila Jarwo membakarnya, dia bisa melihat salah satu bagian dari tubuh Diah. “Film pendek ini berdurasi 12 menit dan sudah dapat ditonton dengan latar belakang kota Yogyakarta,” ucap Wregas.

Terpilihnya dua sineas Indonesia ini menandakan Indonesia masih memiliki peran dalam dunia perfilman dunia. Untuk itu, semoga hal ini juga turut mendukung anak bangsa lainnya untuk terus berkarya menciptakan karya berkualitas yang bisa bersaing dengan film internasional.

Garin mengungkapkan dirinya senang karyanya bisa kembali terpilih dalam Cannes 2016 dan menunjuk sutradara favoritnya yang memang berpengalaman luar biasa. “Memang diakui, film Indonesia memang banyak terinspirasi oleh film Prancis, hubungan ini juga mempererat kedua belah negara dengan film,” bebernya.

Kiprah film Indonesia di Festival Film Cannes dimulai dari diputarnya film ‘Tjoet Nyak Dien’ (1988) karya Eros Djarot pada 1989 dalam program La Semaine de la Critique untuk kategori film panjang. Di ajang tersebut film peraih 9 piala Citra ini meraih penghargaan sebagai Best International Film.

Dalam program yang sama tahun 2015, film ‘The Fox Exploits The Tiger’s Might’ karya sutradara muda Lucky Kuswandi berhasil menjadi salah satu dari sepuluh film pilihan yang ikut kompetisi kategori film pendek.

Selain program tersebut, film Indonesia yang juga masuk dalam program bergengsi lainnya adalah ‘Daun di Atas Bantal’ (1998) dan ‘Serambi’ (2005) karya Garin Nugroho yang terpilih dalam program Un Certain Regard.

Film ‘Kara, Anak Sebatan Pohon’ (2005) karya Edwin terseleksi dalam program Director’s Fortnight, sementara project film ‘Postcard From The Zoo’ (2012) terpilih dalam program L’Atelier Cinefondation 2010. Sineas muda Indonesia yakni Kamila Andini juga pernah terpilih mengikuti residensi dalam program Cinefondation Residence 2013 untuk karyanya ‘The Seen and Unseen’. (*/BO)

LEAVE A REPLY