Dua Bank Timur Tengah Talangi Garuda US$ 400 Juta

0
790

JAKARTA, BISNISWISATA.CO.ID: PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memperoleh fasilitas pembiayaan talangan (bridging financing) senilai US$ 400 juta dari National Bank of Abu Dhabi (NBAD) dan Dubai Islamic Bank PJSC (DIB). Garuda dan dua bank asal Timur Tengah menandatangani perjanjian komitmen berkonsep pembiayaan syariah tersebut pada 18 Februari 2015.

“Jangka waktu fasilitas financing selama 12 bulan. Fasilitas ini untuk menjembatani rencana penerbitan surat utang syariah (sukuk) global perseroan tahun 2015 sebesar US$ 500 juta,” papar Direktur Keuangan Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra dalam keterangan resmi, Selasa (24/2/2015).

Dilanjutkan, bridging financing dari NBAD dan DIB merupakan backstop loan facilities. Artinya, jika penerbitan sukuk global tidak terserap maksimal, fasilitas itu bisa dicairkan menjadi pinjaman. Komitmen bridging financing ini membuktikan Garuda Indonesia tidak terpengaruh hasil pemeringkatan Fitch Ratings, yang menurunkan rating nasional jangka panjang Garuda menjadi BBB+ dari A-. Fitch juga merevisi outlook Garuda dari stabil menjadi negatif.

Penerbitan sukuk global menjadi prioritas Garuda, karena pasarnya cukup menjanjikan. Sukuk global itu pun bakal menjadi aksi penerbitan terbesar perseroan, bahkan kemungkinan menjadi yang pertama di Indonesia, lontarnya.

Garuda Indonesia bakal menggunakan hasil penerbitan surat utang tersebut untuk membayar (refinancing) utang jatuh tempo tahun ini sebesar US$ 350 juta. Perseroan juga akan refinancing utang yang akan jatuh tempo pada kuartal I-2016 sebesar US$ 135 juta.

Sebelumnya, Garuda Indonesia berniat menerbitkan obligasi valas (global bond) senilai US$ 500 juta pada kuartal I-2015. Namun, perseroan terpaksa menunda rencana tersebut, karena pasar yang belum kondusif.

Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo pernah mengatakan, perseroan berupaya memaksimalkan revenue generator untuk meningkatkan pendapatan di atas pertumbuhan kapasitas. Selain itu, perseroan akan melakukan efisiensi di berbagai struktur biaya sepanjang 2015. “Efisiensi ini bukan untuk menurunkan layanan sebagai maskapai bintang lima,” katanya.

Strategi efisiensi bertujuan untuk mencapai pertumbuhan yang lebih baik. “Ada banyak biaya yang akan ditekan pada tahun ini dengan menerapkan strategi efisiensi dari beberapa biaya operasional perusahaan. Kami akan melakukan efisiensi sampai US$ 200 juta,” sambungnya seperti dikutip laman beritasatu.com, Selasa (24/2/2015).

Biaya operasional yang menyerap anggaran besar akan dioptimalkan agar mampu menyetabilkan keuangan perusahaan. Selain itu, Garuda akan memperkuat penerbangan domestik dan mengurangi frekuensinya, serta merestrukturisasi jaringan penerbangan luar negeri yang tak efisien.

Tahun 2015, Garuda Indonesia mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$ 130 juta atau dipangkas US$ 70 juta dari rencana semula. Pemangkasan terbesar untuk menegosiasi ulang atas kedatangan pesawat pada tahun ini, sehingga hanya menjadi 15 unit armada baru.

Pada Februari lalu, Garuda Indonesia menandatangani kerja sama lindung nilai (hedging) senilai Rp 1 triliun dengan tiga bank. Hedging melalui transaksi cross currency swap ini dilakukan untuk mengantisipasi risiko perubahan kurs tahun ini.

Tiga bank yang diajak bekerja sama lindung nilai ini antara lain PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank CIMB Niaga Tbk, dan Standard Chartered Bank.

Perseroan perlu melakukan lindung nilai lantaran selama ini sekitar 70 persen biaya perusahaan menggunakan dolar Amerika Serikat (AS). Biaya tersebut antara lain digunakan untuk biaya sewa pesawat, bahan bakar, perawatan pesawat, dan biaya lainnya.

Dalam kerja sama ini, CIMB Niaga mendapat porsi hedging terbesar senilai Rp 500 milliar. Sedangkan BNI dan Standard Chartered masing-masing mendapat Rp 250 milliar.

Garuda Indonesia juga siap menaikkan transaksi hedging bahan bakar dari hanya 10 persen pada 2014 menjadi 35 persen dari total belanja avtur sepanjang 2015. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY