Dongkrak Kunjungan Wisatawan, Bukit Menoreh pun Dibelah

0
35
Bukit Menoreh dipandang dari obyek wisata Kalibaru Kulonprogo

KULONPROGO, Bisniswisata.co.id: Potensi wisata Kulonprogo memang melimpah. Tercatat, ada 40 obyek wisata. Sayangnya, jumlah kunjungan wisatawan belum melimpah seperti potensi wisata. Masalah klasik masih menghantuinya, yakni infrastruktur serta terbatasnya transpotasi publik menuju berbagai destinasi wisata.

Untungnya inovasi dan semangat tinggi bangun pariwisata terus digenjot oleh kabupaten yang dibelah Sungai Progo. Bahkan inovasinya sangat spektakuler: Membelah Bukit Menoreh. Tujuannya mempersingkat jarak tempuh, memperlancar wisatawan usai berwisata ke Borobudur agar bisa mampir sehingga bisa mendongkrak kunjungan wisatawan.

Apalagi akan lahir bandara New Yogyakarta Internasional Airport sehingga inovasi itu sangat dibutuhkan. Inovasi itu memang sangat hebat, namun tak semudah membalikkan tangan. Berbagai aral rintangan masih menyelimutinya.

“Tantangan terberat adalah anggaran membedah bukit cukup besar untuk membangun dan melebarkan jalan, jembatan serta infratruktur lainnya. Karenanya, kami kerjakan secara bertahap dan diperkirakan selesai tahun 2022,” papar Wakil Bupati (Wabub) Kulonprogo Sutedjo saat menerima rombongan Presstour Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di Wates Kulonprogo DI Yogyakarta, akhir pekan.

Pembangunan jalan membelah Bukit Menoreh sepanjang 65 km, mulai digarap sejak 2016. Hingga kini baru 9 km, sampai penghujung tahun 2017 bertambah lagi 3 km. Keberadaan jalur bedah menoreh, bukan hanya akan memperlancar akses jalan dari bandara baru menuju kawasan Borobudur. Namun juga potensi wisata di wilayah Perbukitan Menoreh juga bisa lebih dieksplorasi. Pasalnya, banyak objek wisata yang sayang dilewatkan.

“Sebenarnya sudah ada jalan bisa menghubungkan Kulonprogo dengan Borobudur, tapi kondisi jalannya relatif kecil, sempit dan berkerikil maupun tanah. Meski demkian kami akan melebarkan jalan, bangun jembatan dan bikin jalan baru,” ucapnya.

Wabub Sutedjo meyakinkan jika jalan membelah bukit ini teralisasi, sederet obyek wisata sepanjang jalan baru ini bisa dikunjungi wisatawan setelah puas berwisata ke Candi Borobudur. Destinasi wisata itu wisata alam, wisata jalan ke kebun teh, kopi, durian, wisata menelusuri goa, air terjun dan wisata buatan.

“Rinciannya jalur baru ini melalui ruas Siluwok-Klepu, Waduk Sermo, Goa Kiskendo, wisata kebun teh Tritis, wisata alam Suroloyo, wisata ziarah Sendangsono, Bendo, dan terakhir sampai ke Borobudur,” sambungnya.

Saat ini destinasi wisata yang tengah berkembang di Kulonprogo. Mulai Desa Wisata Nglinggo, Ayunan Langit, Hutan Manggrove, Waduk Sermo, Kali Biru, Pantai Glagah dan masih banyak lagi yang tengah beredar dengan viral foto-fotonya di media sosial.

“Memang pariwisata memberikan dampak positif bagi kehidupan perekonomian masyarakat, namun kami belum puas dengan kondisi yang ada sehingga membelah bukit Manoreh adalah salah satu solusi untuk mendongkrak kunjungan wisatawan, “ ungkapnya.

Selain itu, lanjut dia, pariwisata di Kulonprogo harus menjadikan masyarakat sebagai subyek bukan sebagai obyek. Juga tetap menjaga nllai-nilai tradisi yang ada di Kulonprogo yang dikenal dengan semangat berdikari mengusung moto “Bela Kulon Progo, Beli Kulon Progo!”.

Dengan kata lain agar masyarakat membeli produk-produk daerah sendiri, tidak bergantung dengan komditas dari daerah lain. Makan dari beras sendiri, baju batik buatan dan bermotif khas Kulon Progo hingga air minum kemasan pun produksi Kulonprogo.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kulon Progo Krissutanto mengatakan kawasan Perbukitan Menoreh memang kaya akan potensi wisata. Selain wisata alam berupa curug, bukit, hingga gua, ada pula perkebunan teh, kopi, cengkeh, dan durian yang bisa dioptimalkan sebagai agrowisata.

Disisi lain, tambah dia, masyarakat semakin kreatif dalam mengembangkan objek wisata secara mandiri. Misalnya, komunitas offroad menjual paket wisata berkeliling naik mobil offroad ke kebun teh, menjelajah hutan pinus, hingga kawasan Candi Borobudur. “Kami berikan kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang. Kami akan berikan pendampingan dan pembinaan, khususnya terkait sapta pesona,”

Dampak kunjungan wisatawan ke Kulonprogo grafiknya terus meningkat. Tahun 2016 lalu jumlah wisatawan ke Kulonprogo sebanyak 110 ribu orang. Diprediksi tahun 2017 mencapai 300 ribu orang. Serta pada tahun 2018 diperkirakan akan mencapai 400 ribu orang.

“Kami memperkirakan jumlah wisatawan terus bertambah, walau tidak banyak, karena dua pantai kami kena dampak pembangunan bandara, kami hanya berani memperkirakan peningkatan wisatawannya sekitar 100 ribu per tahun,” tegasnya.

Masalah yang dialami di semua destinasi ini adalah masalah sumber daya manusia (SDM), karena kurangnya memadai, terutama untuk masalah bahasa. Sementara untuk fasilitas, beberapa destinasi sudah tersedia sekitar 220 homestay. Dan untuk pengembangan homestasy ini ada 4 hotel besar telah melakukan pembinaan dan bekerjasama dengan pengelola homestay untuk menampung wisatawan yang ingin ke Kulonprogo.

“Memang SDM kami masih kurang dalam pelayanan untuk wisatawan, namun saat ini ada 4 hotel besar telah melakukan pembinaan dalam pengelolaan dan pengembangan homestay serta telah bekerja sama untuk menampung wisatawan yang ingin melakukan kunjungan ke Kulonprogo,” paparnya meyakinkan. (NDIK)

LEAVE A REPLY