Dollar Menguat Bagaimana Pariwisata Kita ? Wisdom Jadi Solusi

0
489
Para nara sumber dari kiri ke kanan: Anton Thedy, Sapta Nirwandar, Sukrisno Iwantono dan Frans Budi Pranata.

JAKARTA, bisniswisata: Pelaku bisnis pariwisata maupun pengusaha yang gemar berwisata sepakat pergerakan nilai tukar rupiah yang terus tertekan dalam sepekan ini karena menguatnya dolar AS justru saatnya untuk memanfaatkan peluang menggerakkan pariwisata nusantara atau biasa disebut wisata domestik (wisdom) karena masyarakat langsung yang akan memanfaatkan dampak multiplier effect dari pariwisata.

“Dalam situasi pelambatan ekonomi seperti sekarang ini, sektor pariwisata termasuk salah satu sektor usaha yang masih bertahan. Contoh dalam industri lain sudah banyak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” kata Sutrisno Iwantono,  Ketua Bidang Hotel Non Bintang PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dalam diskusi pariwisata bertema Dolar Mneguat, Bagaimana Pariwisata Kita ? di restoran Mie HCM, Plaza Semanggi, Jakarta, malam ini (29/9/2015)

Oleh Karena itu, ia meminta kepada pemerintah mendorong dan memperbesar spending  dengan meningkatkan kegiatannya dilakukan di hotel-hotel, supaya perputaran ekonomi di sektor pariwisata ini terus berjalan. “Hotel bintang tiga ke bawah, pasarnya sebagian besar para wisdom itu, sehingga kami berharap jangan sampai pelemahan rupiah bisa berpengaruh besar pada daya beli masyarakat,” ujarnya.

Berbicara pada Forum Dialog Pariwisata yang diselenggarakan bisniswisata.co dan  Biro Hukum dan Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, Sutrisno Iwantono mengatakan. Pemerintah sangat berperan besar dalam memperbesar spending itu mengingat kebijakan pelarangan kegiatan di hotel pernah dilakukan pemerintah pada awal Januari 2015 lalu membuat bisnis hotel meredup

“Tidak adanya rapat-rapat atau event yang dilaksanakan pemerintah di hotel, bisa berdampak pada penurunan spending di sektor pariwisata. Apalagi dengan  melemahnya rupiah sekarang ini, bisa mempengaruhi daya beli wisdom yang menjadi target pasar hotel bintang tiga ke bawah,” ungkap dia.

Dia mengakui sejak melemahnya rupiah sepanjang bulan ini, di daerah tertentu, hotel-hotel mengalami penurunan tingkat hunian. Seperti di hotel-hotel di Jakarta tingkat hunian masih berkisar 58 persen, sedangkan tingkat hunian hotel di daerah berkisar 30 persen.

Dampak pelemahan rupiah belum banyak berpengaruh pada tingkat hunian, namun pemerintah harus memberi dukungan fasilitas pada hotel bintang tiga yang jumlahnya lebih besar dibanding hotel bintang empat ke atas.

“Misalnya masalah pajak yang terlalu besar, biaya perizinan (izin domisili) yang setiap tahun mengalami kenaikan, ini juga bisa menjadi kendala bagi hotel bintang tiga. Sebab melemahnya rupiah ini sangat berpengaruh pada daya beli wisatawan domestik atau disebut wisatawan nusantara sehingga biaya yang mahal dapat mengurangi tingkat hunian,” ucapnya.

Pendapat yang setuju untuk mengurangi beban biaya pajak, perizinan dan promosi, juga disampaikan pengusaha travel Anton Thedy. Sebab pelemahan rupiah yang berpengaruh pada daya beli masyarakat, bisa mempengaruhi jumlah kunjungan wisata domestik.

Bagi Anton situasi pelemahan perekonomian juga bukan waktunya untuk mengeluh karena justru kreativitas dibutuhkan dalam mengemas paket wisata di dalam negri, yang harganya terjangkau.

“Bagi kami sebagai pengusaha travel agent kami mengemas paket wisata dengan kereta api karena kereta api dan berbagai fasilitasnya hingga kondisi stasiun sekarang sudah aman dan nyaman bagi wisatawan dalam dan luar negri. Kami akan luncurkan pula buku 50 titik spot wisata nusantara tambahnya.

Dalam menghadapi daya beli wisdom yang menurun itu, kita perlu membuat paket wisata yang harganya disesuaikan,” kata Anton Thedy, Managing Director TX Travel.

Anton mengakui dalam kondisi sekarang ini, mempromosikan paket wisata domestik jauh lebih sulit ketimbang paket wisata ke luar negeri. “Contohnya saya mempromosikan paket wisata ke Korea yang harganya Rp 12 juta bisa dijual Rp 7,5 juta selama 3 hari. ternyata  lebih banyak yang berminat, ketimbang saya menjual paket wisata domestik yang harganya lebih mahal,” ujarnya.

Paket wisata ke luar negeri bisa lebih murah, kata dia,  karena beban biaya itu didukung  antara penyelengara travel dengan perusahaan maskapai penerbangan. Bahkan mendapat subsidi dari pemerintahnya.

“ Di China libur kerja bukan hanya Sabtu dan Minggu tapi perkantoran juga memberikan libur pada hari kerja sehingga obyek wisata terus ramai. Jadi biarlah rupiah melemah mau sampai di tikungan di posisi US$15.000 kalau kita bersatu dan bahu membahu maka pariwisata bisa jadi pelampung penyelamat di saat ekonomi jalan di tempat,”

Forum Dialog Pariwisata ini selain dihadiri oleh kalangan pers nasional dan komunitas entrepreneur juga di ikuti para pelaku dan konsumen premium di bisnis perjalanan. Sejumlah nara sumber yang berpartisipasi seperti Anton Thedy, Managing Director TX Travel, Frans Budi Pranata, Chief Financial Officer Zalora Indonesia, Sukrisno Iwantono, Ketua Bidang Hotel Non Bintang PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), Anggota Komisi X DPR-RI Nico Siahaan, Prof Roy Sembel Phd dari International Business School IPMI, Panca Sarungu, Managing Director Raja MICE serta pialang saham Richard Gunawan dari Sydney, Australia. (arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY