Diprotes, Presiden Jokowi ‘Groundbreaking’ Bandara New Yogya

0
240

KULONPROGO, bisniswisata.co.id: Presiden Joko Widodo dijadwalkan meninjau kesiapan lahan bandara internasional di Kulonprogo, Yogyakarta pada hari ini. Organisasi petani maupun mahasiswa melakukan aksi protes terhadap rencana Jokowi di area tersebut.

Bandara itu dikenal dengan nama New Yogyakarta International Airport (NYIA). Jokowi berangkat ke Yogyakarta dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Jokowi dijadwalkan meletakkan batu pertama atau groundbreaking dalam pembangunan bandara itu.

Pembangunan bandara internasional itu sendiri mengalami penentangan dari sejumlah warga lokal, terutama petani di kawasan Kulonprogo. Proyek bandara tersebut merupakan hasil kerja sama PT Angkasa Pura I (Persero) dan Grama Vikas Kendra (GVK) Power and Infrastructure, perusahaan asal India pada awal 2011. Luas bandara itu diperkirakan mencapai luas 600 hektare. Bandara tersebut pun masuk Proyek Strategis yang ditetapkan pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Wasiyo, petani dari Wahana Tri Tunggal (WTT), menyatakan sejak jam 09.00 WIB kelompok petani melakukan aksi protes terkait kedatangan Jokowi untuk meletakkan batu pertama itu. Hingga kini, aksi demo masih dilakukan oleh para petani. “Kami menolak Presiden meletakkan batu pertama, karena pembangunan itu berdampak pada lahan produktif petani,” kata Wasiyo seperti dilansir laman CNNIndonesia.com, Jumat (27/01/2017).

Dia menuturkan aksi demonstrasi dilakukan di Desa Palihan, Kecamatan Temon. Menurutnya, dampak pembangunan bandara itu akan berdampak besar pada petani karena akan kehilangan pekerjaan mereka.

Gerakan Solidaritas Tolak Bandara NYIA Kulonprogo menyatakan lahan yang akan dipakai untuk bandara itu adalah lahan produktif baik lahan kering maupun lahan basah. Gerakan itu juga beranggotakan Wahana Tri Tunggal, paguyuban petani yang menolak lahan sawah dijadikan pembangunan bandara. “Jika NYIA dibangun maka akan ada 12.000 pekerja pertanian kehilangan mata pencaharian dari produksi terong dan gambas,” kata Pramila Deva.

Dia menuturkan pembangunan di Yogyakarta akan berorientasi pada pariwisata sehingga menghilangkan ruang hidup di wilayah lainnya. Hal itu, kata dia, bukan hanya dari pembangunan bandara namun infrastruktur sekunder lain, macam kota aetropolis.

Gerakan solidaritas itu mendesak pemerintah tak melakukan peletakan batu pertama pada hari ini. “Kami mendesak pemerintah menghentikan seluruh tahapan pengadaan tanah untuk pembangunan New Yogyakarta International Airport Kulonprogo,” kata Pramila. (*/CIO)

LEAVE A REPLY