Di Bali, Okupansi Kamar Hotel Belum Optimal

0
614
Inna Sindhu Beach Hotel, Sanur,

DENPASAR, test.test.bisniswisata.co.id: SELAMA libur Natal dan Tahun Baru, jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke Bali grafiknya meningkat. Sayangnya, tingkat keterisian kamar hotel di Pulau Dewata tidak terlalu banyak meningkat akibat semakin menjamurnya hotel dan vila di kawasan wisata tersebut.

“Industri pariwisata di Bali biasanya mulai menggeliat sejak 20 Desember hingga 7 Januari 2016. Juga biasanya naik sekitar 5-10 persen dibandingkan dengan hari normal. Kini situasinya malah beda,” papar Ketut Ardana, Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Indonesia (ASITA) Bali di Denpasar, Jumat (25/12/2015).

Pantauan Ardana, Bali bagian selatan, terutama Kuta dan Legian kini tampak sibuk dan ramai oleh aktivitas wisatawan domestik dan asing. Sementara di Bali bagian utara seperti di Ubud, keramaian lumayan meningkat meski tak sepadat Bali Selatan.

Justru yang membedakan libur Natal dan Tahun Baru tahun ini dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya adalah tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel. Apabila sebelum tahun 2014 biasanya turis asing dan domestik sulit mesan kamar hotel di akhir tahun, saat ini relatif mudah karena banyak hotel yang tingkat keterisian kamarnya belum maksimal.

“Dulu susah sekali cari kamar di akhir tahun. Kalau sekarang mudah. Rata-rata tingkat hunian kamar hotel saat ini belum mencapai 60 persen,” tuturnya.

Dari total 95 ribu kamar hotel di Bali, ASITA mencatat rata-rata tingkat keterisian kamar hotel saat ini baru sekitar 51 persen. Sekalipun terjadi lonjakan pada akhir tahun, diprediksi maksimal hanya 60 persen.

“Mulai 2 Desember hingga 7 Januari biasanya memang lumayan tingkat hunian kamarnya, terutama untuk hotel-hotel yang persis berada di pesisir pantai atau tempat keramaian seperti di Kuta. Tapi belakangan ini hotel-hotel bintang tiga ke bawah itu tingkat huniannya masih sekitar 30 persen,” katanya.

Meski demikian, kata Ardana, meningkatnya aktivitas wisatawan berpengaruh positif terhadap bisnis perjalanan wisata yang sempat lesu di tengah berkembangnya aplikasi travel online. Saat ini terdapat sekitar 390 biro perjalanan wisata di Bali, dengan total guide mencapai kisaran 7 ribu orang.

Prediksi Pasar

Tahun lalu, ASITA mencatat jumlah kunjungan wisatawan asing ke Pulau Dewata mencapai 3,7 juta turis. Sementara tahun ini ditargetkan sebanyak 4,2 juta turis asing melancong ke Bali. “Tapi prediksi kami sampai kahir tahun hanya 4 juta. Itu prediksi optimis ya,” katanya seperti dikutip laman CNNIndonesia.com.

Dia menambahkan, ada beberapa faktor yang menghambat kedatangan turis asing ke Bali selain disebabkan oleh perlambatan ekonomi. Antara lain faktor erupsi sejumlah gunung yang mengganggu penerbangan, serta gangguan keamanan di Perancis pasca serangan teroris.

“Tahun depan kami perkirakan masih akan sama dengan tahun ini. Paling hanya tumbuh sekitar 10 persen. Kecuali ada terobosan fantastis untuk mendatangkan turis asing, misalnya dengan membuka direct flight dari India, China dan Vietnam,” tuturnya. (*/c)

LEAVE A REPLY