Destinasi Breksi & Candi Ijo Dikagumi Band New Jersey

0
237
Tebing Breksi (Foto: http://piknikasik.com)

SLEMAN, Bisniswisata.co.id: Destinasi wisata Breksi serta Candi Ijo di kawasan Selatan Candi Prambanan, Sleman mendapat perhatian sekaligus dikagumi grup band musik Cash Cash asal Roseland, New Jersey Amerika Serikat. Kekaguman itu saat band kebanggaan warga New Jersey ini melakukan kujungan wisata d dunia destinasi yang tengah ngehits.

Usai menjadi pengisi acara di hari kedua We The Fest (WTF) di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, Sabtu (12/8), grup band itu mampir ke Yogyakarta. Mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata yang menjadi nominasi Anugerah Pariwisata Indonesia (API) 2017.

Lewat Instagram @cashcash, terlihat grup yang aslinya terdiri dari Jean Paul Makhlouf, Alexander Luke Makhlouf, dan Samuel Warren Frisch, memamerkan foto-fotonya di beberapa lokasi di Yogyakarta.

Saat berada di Puncak Tebing Breksi yang menjelang HUT RI dipasang Bendera Merah Putih, mereka pun berfoto. “Mad LOVE for INDONESIA #Yogyakarta was amazing… #Surabaya tonight at @jimmyssby for round #2!!” tulis mereka sebagai keterangan foto yang diunggah pada Jumat (11/8/2017). Di situ, mereka tengah berpose di depan bendera Merah Putih.

Tak hanya di Taman Tebing Breksi, grup band dengan lagu “How to Love, Millionaire dan Take Me Home” ini juga mampir ke Candi Ijo. Candi yang berada di lokasi tertinggi di Yogya ini hanya berjarak sekira 2 km dari Breksi. “INDONESIA feels all day!!” tulis mereka sebagai keterangan foto, Sabtu (12/8), yang memperlihatkan salah satu personel melompat tinggi di atas Candi Ijo. Pose yang ngehits.

Kekaguman mereka berlanjut ketika memamerkan foto berisi pose di depan Tebing Breksi, Prambanan, Sleman. “Every block of stone has a statue inside it…it’s up to the sculptor to discover it. #INDONESIA #AllMyLove,” tulis mereka, Ahad (13/8).

Ada satu lagi foto indah tentang Yogyakarta yang diunggah. Foto di Puncak Tebing Breksi yang menampakkan latar belakang pohon pisang dan gubug. Mereka menuliskan caption dengan bercanda: “Om telolet om šŸ‡®šŸ‡© We’re gonna make INDONESIA our 2nd home….”

Sayangnya, hanya dua personel Cash Cash yang ada di dalam foto-foto itu. Namun begitu, antusiasme fans Indonesia terhadap foto-foto mereka di Yogyakarta sangat tinggi . Foto yang di depan relief Tebing Breksi di-like 13.700 lebih. Yang di Candi Ijo juga di-like di atas 13.000.

Sambutan dari fans juga tampak dari komentar di IG. Misalnya dari @pus-ping yang menulis “thanks for visiting Jogja. Would you put it on your next video? Por favor!!

“Enjoy our beautifully INDONESIA, dude @cashcash,” ujar. @ariebsn. “Welcome to Indonesia,” kata @hannafidyanti.

Dari @dolanyogyakarta juga mengucapkan terima kasih atas kedatangan @cashcash.
“In indonesia there are many more beautiful places besides this,” tulis @itawainrukave. Sedangkan @shanfqis merespons soal 2nd home. “Yesss second home. Enjoy it!!!

Tebing Breksi tumbuh menjadi destinasi baru yang diminati wisatawan nusantara maupun mancanegara. tebing ini dulunya merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran. Di areal penambangan batu kapur yang luas itu, masih tersisa tebing kapur yang menjulang tinggi.

Melihatnya sebagai situs bersejarah yang unik, warga pun secara sukarela mengelolanya menjadi kawasan wisata. Tebing tersebut kemudian disulap menjadi destinasi liburan, tanpa mengubah kondisi geologis dan bentuk aslinya. Tempat ini mirip dengan Brown Canyon di Semarang atau bentuk mini dari Grand Canyon di Amerika Serikat.

Di areal Tebing Breksi, ada Tlatar Seneng, sebentuk area luas dilengkapi tempat duduk melingkar dilengkapi panggung bulat berdiameter kira-kira 15 meter. Tlatar ini difungsikan untuk tempat pertunjukan kesenian. Sekilas panggung ini mengingatkan kita pada Colosseum di Roma Italia.

Tebing breksi memang lebih banyak disukai bagi penikmat wisata khusus yang bersifat petualangan seperti misalnya panjat tebing, sepeda gunung atau fotografi. Banyak bagian dari tempat ini yang indah untuk dijadikan sebagai obyek foto. Foto pre wedding juga sangat cocok jika dilakukan di tempat ini.

Dari puncak tebingnya, kita dapat melihat lanskap Candi Prambanan, Candi Sojiwan, Candi Barong dan kemegahan Gunung Merapi bahkan kota Yogyakarta. Bagi yang ingin mencapai puncak tebing tidak perlu khawatir repot, dikarenakan suda dibentuk anak tangga di sisi tebing menuju ke atas. Anak tangga di sisi tebing ini juga cantic untuk obyek berfoto.

Obyek wisata geo heritage ini bukan terbentuk secara alami, melainkan berasal dari bukit batu biasa yang menjelma akibat terkikis aktifitas penambangan bahan material bangunan oleh warga sekitar selama bertahun-tahun lamanya sejak tahun 80-an dan menjadi sumber mata pencarian warga.

Sementara Candi Ijo, terletak di ketinggian 375 meter di atas permukaan laut (Mdpl), Candi Ijo merupakan candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta. Dari ketinggian itu, sudah terbayang keindahan panorama perbukitan.

Disebut Candi Ijo karena candi yang dibangun sekitar abad ke-9 itu dibangun di sebuah bukit yang dikenal Bukit Hijau atau Gumuk Ijo. Penyebutan nama desa Ijo pertama kalinya disebut di dalam Prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi.

Dalam prasati ditulis tentang seorang hadirin upacara yang berasal dari desa Wuang Hijau. Jika benar demikian maka nama Ijo setidaknya telah berumur 1100 tahun hingga tahun 2006. Kompleks candi Ijo merupakan kompleks percandian yang berteras-teras yang semakin meninggi ke belakang yakni sisi timur dengan bagian belakang sebagai pusat percandian.

Teras pertama merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Sedangkan bangunan pada teras teratas berupa pagar keliling dan delapan buah lingga patok. Di teras terakhir ini pula candi utama berdiri lengkap dengan tiga candi perwara.

Pada candi utama terdapat sebuah bilik dengan Lingga Yoni yang melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati. Di dalam candi-candi perwara, pengunjung dapat melihat arca candi yang konon merupakan kendaraan Dewa Siwa dan meja batu atau disebut padmasana.

Ragam bentuk seni rupa juga dapat dijumpai di kompleks Candi Ijo. Salah satunya ukiran kala makara dengan motif kepala gandĀ­a dan beberapa atributnya. Bagi pengagum wisata sejarah, di candi ini juga dapat ditemui karya yang masih menyimpan misteri yang tercantum pada sebuah prasasti.

Prasasti itu terletak pada teras ke-9 yang bertulisan Guywan atau Bhuyutan yang berarti pertapaan. Prasasti lainnya yang terbuat dari batu berukuran 14 cm dan tebal 9 cm tercantum mantra-matra yang diperkirakan berisi kutukan ā€œOm sarwwĀ­awinasa, sarwwawinasaā€ yang bertulis berulang hingga 16 kali. Hingga kini masih belum terkuak peristiwa apa yang berhubungan dengan prasasti tersebut. (*/NDIK)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.