Desa Wisata Ubud Jadi Percontohan Pengembangan Desa Wisata

0
368
Turis China menikmati desa wisata Ubud Bali (Foto; http://www.ydcbalitour.com/)

GIANYAR, Bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan Kementerian Koperasi dan UKM sepakat mendukung program Pengembangan Desa Wisata di Indonesia. Untuk itu, Desa Wisata kawasan Ubud, Gianyar Bali menjadi percontohan bagi pengembangan desa wisata di Tanah Air.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (DPDTT) Eko Putro Sandjojo menjelaskan dalam memacu pembangunan meningkatkan kesejahteraan masyarakat diharapkan desa fokus pada program-program unggulan masing-masing. Sehingga kemajuan desa akan lebih cepat dalam mengangkat kesejahteraan masyarakat.

Dan desa wisata Ubud sangat tepat sebagai akselerasi untuk mempercepat pengembangan Desa Wisata dengan menyelaraskan wirausaha berbasis budaya dan pariwisata. Karena itu, dengan fokus pada program unggulan, kemajuan desa akan cepat lagi dan mengangkat kesejahteraan masyarakat. Program unggulan untuk pembangunan desa itu diantaranya Pro Kades, Embung Desa dan BUMDes tetap menjadi fokus kementeriannya.

“Program Pro Kades dilakukan dengan membuat klasterisasi desa, bisa pertanian, perikanan dan paling penting pariwisata. Pariwisata ini dimana fokusnya. Saya mau dapat masukan di Ubud ini fokusnya dimana dan apa saja kebutuhannya,” ucapnya padan acara “The 4th Ubud Royal Weekend” di Ubud, Denpasar, Bali, akhir pekan lalu.

Setelah mendapat banyak masukan khususnya dalam pengembangan pariwisata desa, pihaknya akan mengumpulkan 16 Kementerian terkait, dunia usaha plus bank agar bisa membantu. Mendes Eko melanjutkan, program kedua untuk desa yakni program Embung Desa, meskipun embung tidak relevan di Ubud namun tetap bisa untuk pariwisata.

“Jadi ada akselerasi. Jadi, bukan semata hanya kepentingan pertanian. Embung ini juga bisa untuk perikanan guna meningkatkan gizi masyarakat,” ungkapnya dalam acara yang juga dilakukan MoU PT Mitra BUMDes dengan Pemerintah Kabupaten Gianyar.

Saat ini, katanya, masih banyak balita masih kekurangan gizi. Terkait program BUMDdes, Menteri Eko ingin mengetahui apa PT Mitra BUMdes kabupaten seperti di Gianyar sudah terbentuk apa belum. Dengan danya PT Mitra BUMdes di kabupaten bisa dibentuk mitra BUMdes di desa-desa sehingga ada pendampingan di tiap BUMDdes desa.

Dengan begitu, sambung Mendes Eko, bisa terjadi “link and match” antara perusahaan besar, UKM dengan pengusaha kecil di desa-desa. Yang selama ini menjadi problem UKM dan pengusaha kecil ini, mereka tak memiliki “resources management” distribusi dan marketing karena hal tersebut mahal.

“Nantinya melalui “link and match” antara perusahaan besar dan UKM, nantinya UKM akan menjadi suplayer perusahaan-perushaaan besar. Jadi standarnya bisa ikuti perusahaan besar. Akan ada muncul “benefit” dimana industri yang kecil bisa belajar dan tak lagi memikirkan marketnya,” jelasnya.

Menurut Mendes Eko, mereka yang besar bisa juga “costnya” ditekan karena mereka “outsourcing”. Pasalnya, didunia sekarang ini modelnya seperti itu misalnya sepatu Nike dan Apple. Mereka tidak memiliki pabrik, namun memiliki dan menguasai marketing serta distribusi sehingga industri besar jadi efisien dan industri kecil bisa jadi kuat.

“Selama ini telah banyak dana yang dikerahkan untuk pembangunan desa, di antaranya dengan membentuk perkembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dimaksudkan untuk menjadikan wilayah desa sebagai tempat wisata (cultural tourism) di Indonesia, Kami bekerjasama dengan kementerian terkait untuk percepatan pembangunan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” sebutnya.

Sementara Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan, tidak hanya sebagai destinasi wisata, Ubud juga mampu menyelaraskan wirausaha UKM dan mengembangkan desanya sebagai upaya untuk menarik wisatawan.

“Desa Wisata itu bisa berfungsi ganda. Bisa sebagai amenitas dengan homestay, akomodasi di rumah penduduk yang sudah sadar wisata. Juga sebagai atraksi, karena berada dalam atmosfer kehidupan masyarakat desa yang hommy, kaya dengan sentuhan budaya, dan nuansa kekeluargaan yang belum tentu bisa ditemukan di negara lain,” papar Menpar. (*/bbs)

LEAVE A REPLY