Desa Wisata Sleman Dongkrak Kesejahteraan Warga

0
155
Desa wisata pentingsari Sleman (foto: http://www.slemanonline.com)

SLEMAN, Bisniswisata.co.id: Sejumlah desa wisata di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta selain menumbuhkan pariwisata daerah juga mampu mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Melestarikan lingkungan di desa, bahkan menambah lapangan kerja baru sehingga mengurangi angka penganguran.

“Keberadaan desa-desa wisata memiliki posisi strategis dalam membuka lapangan pekerjaan di pedesaan,” kata pengurus Forum Komunikasi (Forkom) Desa Wisata Sleman Sudarmadi, Ahad (9/7/2017)

Menurut dia, desa wisata dirasakan selama ini banyak memberikan pekerjaan bagi warga lokal, mulai dari jasa kuliner, pemondokan, sampai hasil kerajinan dan lainnya.

“Hingga saat ini ada sekitar 30 desa wisata yang bergabung dalam Forum Komunikasi Desa Wisata Sleman baik yang sudah mandiri maupun masih embrio,” katanya lagi.

Dari 30 desa wisata yang ada, terbagi menjadi tujuh desa wisata mandiri, sembilan desa wisata berkembang, 12 desa wisata tumbuh dan sisanya masih embrio. “Desa wisata mandiri itu sudah rutin mendapatkan tamu, bisa promosi sendiri. Kalau masih embrio itu sudah ‘launching’ tapi belum ada kegiatan,” katanya pula.

Sudarmadi mengatakan, desa wisata mandiri seperti Brayut, adalah contoh yang rutin menerima wisatawan. Secara reguler, pengelola desa wisata bisa melayani hingga 4.000 tamu atau wisatawan dalam satu tahun.

“Sejumlah layanan yang tersedia adalah tempat menginap bagi 120 wisatawan per hari, juga aneka kegiatan berbasis budaya lokal untuk dinikmati wisatawan,” kata dia.

Pengurus Desa Wisata Kelor, Kecamatan Turi, Sleman Endro Harwanto mengatakan, pada desa wisata itu, para wisatawan memang akan dimanjakan dengan suasana alam pedesaan yang asri, sehingga wisatawam lebih kenal budaya lokal yang dikemas jadi paket wisata.

“Desa Kelor banyak melayani paket ‘outbond’ di area kebun salak. Ibu-ibu rumah tangga juga dilibatkan untuk mengurusi konsumsi yang jadi kebutuhan wisatawan,” katanya.

Menurut dia, di desa wisata Kelor ada 29 rumah milik warga yang bisa dijadikan “homestay”. “Pendapatan ibu-ibu jadi ada tambahan saat tamu datang,” katanya pula. (*/ANT)

LEAVE A REPLY