Demi MEA, Desa Wisata Yogyakarta Berbenah

0
1302
Desa wisata Pentingsari, Sleman (foto: http://omahesimbhokpentingsari.com)

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: STANDAR homestay Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah dibuat Kementerian Pariwisata. Bahkan, pelayanan homestay desa wisata juga harus memenuhi standar minimal, yakni penguasaan Bahasa Inggris. Karena itu, Pengelola homestay dan desa wisata di Yogyakarta terus berbenah untuk memenuhi standar MEA.

“Guna memenuhi standar MEA, pengelola desa wisata harus memenuhi sejumlah hal. Di antaranya kamar homestay desa wisata tak boleh lebih dari lima. Juga harus menyatu dengan pemilik rumah. Ini yang membedakan pondok wisata dan hotel. Itu ciri khas homestay,” kata Doto Yogantoro, pengelola desa wisata Pentingsari Desa Umbulharjo, Sleman, Kamis (11/02/2016).

Menurut Doto, desa wisata Pentingsari menawarkan program tinggal bersama untuk tamu di rumah pemilik rumah dan menikmati keseharian masyarakat desa. Misalnya bertani. Ada juga kegiatan seni budaya. Di antaranya menari, membatik, bermain gamelan.

Tamu juga bisa membuat kerajinan dan membuat kuliner bersama masyarakat. “Mengamati keseharian masyarakat, selama ini juga jadi unggulan wisata Malaysia,” paparnya.

Dilanjutkan, homestay desa wisata punya standar harga yang tidak boleh seperti hotel. Sayangnya, banyak homestay di Yogyakarta yang menerapkan standar seperti hotel. Misalnya soal harga sejumlah homestay menerapkan harga Rp 700 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Sedangkan homestay desa wisata rata-rata Rp 50 ribu-Rp 200 ribu. Harga itu untuk fasilitas menginap, makan. Sedangkan, bila tamu menginginkan paket wisata harganya bervariasi antara Rp 150 ribu-Rp 200 ribu. Paket ini sudah meliputi menginap, makan, dan kegiatan seni budaya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanto mengatakan, desa wisata di daerah ini tumbuh pesat. Jumlah desa wisata bertambah dari 80 pada 2014 menjadi 112 pada 2015. Wisatawan asing banyak yang antusias melihat keseharian masyarakat pedesaan. Misalnya bertani, membajak sawah, dan membatik. “Kehidupan pedesaan diminati turis asing,” kata Aris.

Menurut dia, MEA membuat pengelola desa wisata harus bekerja keras untuk membenahi fasilitas yang mereka tawarkan untuk wisatawan. Misalnya kebersihan toilet. Pengelola desa wisata juga harus punya kemampuan Bahasa Inggris.

Aris menyatakan Pemerintah DIY menargetkan jumlah kunjungan turis asing sebanyak 274 ribu orang pada 2016. Sedangkan, pada 2015 jumlah kunjungan turis asing mencapai 254 ribu orang atau naik 17 persen dibanding tahun lalu.

Urutan jumlah turis asing yang paling banyak berkunjung itu berasal dari Belanda, Jepang, Malaysia, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Australia, dan Korea Selatan. (*/t)

LEAVE A REPLY