Delapan Hari Famtrip Kementrian Pariwisata Bersama Media Perancis Ke Bandung, Jakarta dan Bali

0
419
Peserta Famtrip berfoto bersama para pemain angklung Saung Mang Udjo, Bandung. ( foto: Hilda Ansariah Sabri)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pesan singkat Yus Rusliati, staf  Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Afrika, Kementrian Pariwisata untuk meliput kegiatan Famtrip media dari Perancis saya terima dengan senang hati meski membaca emailnya kegiatan ini cukup panjang dari 29 April hingga 6 Mei 2016.

Sejak tamat tahun 1983 dari Institut Keguruan dan  Ilmu Pendidikan  ( IKIP) jurusan Bahasa Perancis, boleh dibilang kemampuan berbahasa Perancis saya jadi mubazir karena jarang ada lawan bicara. Karena itu saat sholat dzuhur di rest area tepi tol Cipularang dan berkenalan dengan guide berbahasa Perancis, Putri Chazali yang akan memandu rombongan, saya makin antusias mengikuti Famtrip ini.

Rombongan Famtrip kali ini terbang langsung dari Paris ke Singapura dengan Singapore Airlines dan setelah transit sekitar 8 jam baru terbang langsung ke Bandung dengan maskapai yang sama. Oleh karena itu setelah masuk kota Bandung di sore hari, Putri berpisah dengan saya untuk langsung ke Bandara Husein Sastranegara menjemput tamu Famtrip.

Kemacetan di kota Bandung membuat saya juga baru bisa tiba di hotel menjelang magrib. Tidak ada waktu untuk berlama-lama di kamar Hotel Mercure Setia Budi karena saya sudah harus langsung berkumpul di lobby. Menjelang jam 19.00 hanya ada satu wartawan yang muncul yaitu Matthieu Sarfati dari TV 5 Monde yang belum pernah menjejakan kakinya di Indonesia. Namun ibunya yang sudah berusia 62 tahun pernah berkeliling di kawasan Indonesia Timur dengan kapal pesiar selama 6 minggu.

“Dengar saya mau ke Indonesia, mama saya banyak memberikan masukan dan rekomendasikan tempat yang patut saya kunjungi. Tapi setelah tahu saya diundang oleh Kementrian Pariwisata dengan jadwal acara padat dan destinasi wisata yang sudah ditetapkan, mama akhirnya meyakinkan bahwa saya akan mendapatkan pengalaman yang menarik,” kata Matthieu.

Dalam waktu yang singkat saya sudah berkenalan dengan rekan-rekan media dari Perancis itu masing-masing adalah Yves Barraud, seorang video maker, Oliver Noyer yang pendiam  mewakili Best Globe, cowok tinggi ganteng Frank Buchi dari Derniers d’Alsace, ibu Martine Delaloye yang anggun mewakili Voyager Pratique Magazine, wanita mungil dan cantik Evelyne Dreyfus dari Radio JFM Pour Les Femmes dan cewek seksi jangkung bernama Duclos Solene, seorang blogger beralamat di www.solcito.fr

Bergabung pula Alain Ernoult, professional photographer Perancis yang menjadi kontributor Majalah Time dan Life di AS. Dia juga cukup pendiam dan suka menjadi pengamat saja. Ada juga Fasquel Christian, Blogger Voyage Insolites, Riedel Christophe dari OU Magazine, majalah pria yang cukup mewah dan Sylvie Mahene mewakili Monaco Madame. Sementara itu mewakili penerbitan majalah Hotel & Lodge adalah pria setengah baya yang energik Mignot Michel, seorang fotographer senior.

Media lainnya adalah Prestige International diwakili wartawatinya yang bernama Carole Schmitz Chia Roni dan bergaya anggun. Pria cool lainnya adalah Vincent De Monicault dari Tendance Nomad serta Anna Maria Romero Truno mewakili media Courrier de Gironde dari Bordeaux. Ada Matthieu Sarfati dari TV 5 Monde.dan wartawan termuda Mehdi Habibi dari Echo Touristique yang handsome dan murah senyum.

Makan malam di Kampung Daun ( foto: Has)
Makan malam di Kampung Daun ( foto: Has)

Jet Lag dan kelelahan membuat Alain enggan keluar hotel untuk makan malam ke Kampung Daun,  salah  satu tempat wisata kuliner di kawasan Lembang, Kota Bandung dengan konsep cafe and culture gallery yang memanjakan pengunjung menikmati alam dan suasana pedesaan yang hening.

Begitu tiba ada deretan saung-saung tradisional untuk para seniman menawarkan jasa sketsa wajah, membuat produk kerajinan dan bangunan lainnya yang menjajakan cemilan tempo dulu seperti dodol,kembang gula gulali,kue tradisional, alat permainan  congklak, juga panggung hiburan dan gallery outlet souvenir.

Bangunan saung dengan meja panjang yang kami tempati cukup artistik dengan suasana romantis ditambah lagi siraman hujan yang tiba-tiba mengguyur. Perut yang kenyang, wajah lelah dan ingin segera bertemu bantal membuat acara makan malam tidak berlangsung lama.

Pagi hari saat bus meninggalkan hotel sudah diputuskan oleh anggota rombongan mereka tidak mau mengikuti jadwal pagi itu untuk ke Kampung Naga yang bisa makan waktu pulang pergi 10 jam ditengah kemacetan dan hujan yang rajin datang sewaktu-waktu.

Perjalanan belasan jam ke Indonesia dan popularitas konferensi Asia Afrika tahun 1955 lebih menarik sebagai obyek liputan apalagi  berjalan kaki di seputar Jalan Asia-Afrika terus ke Jalan Braga membuat mereka dapat menikmati sejarah kota lama di pusat kota Bandung dengan bangunan Art Deco sambil menikmati mengapa kota ini dijuluki Paris Van Java.

Kegemaran masyarakat Perancis untuk jalan kaki dan berinteraksi langsung dengan masyarakat terutama para pedagang kaki lima membuat mereka asyik memotret dan menghabiskan waktu hampir dua jam. Matthieu malah bertahan akan menunggu Museum Asia Afrika yang baru buka setelah jam makan siang padahal di depan pintu tertera jam bukanya pagi hari

Usai makan siang kami langsung menuju  Saung Angklung Mang Udjo, pusat pelestarian dan pertunjukan kebudayaan tradisional di  Jalan Padasuka no: 118 tidak jauh dari pusat kota. Pertunjukan dimulai jam 15.30 sampai jam 17.30 dan karena masih ada waktu luang, rombongan digiring melongok saung pembuatan angklung di halaman belakang untuk melihat proses pembuatan mulai dari sebuah batang bambu hingga menjadi alat musik tradisional Sunda, Jawa Barat itu.

Saung Angklung Udjo dibangun pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena atau juga dikenal sebagai Mang Udjo bersama dengan istrinya, Uum Sumiati  dengan tujuan melestarikan seni dan budaya tradisional Sunda. Tahun 2016 ini merupakan ulangtahun ke 50 atau setengah abad eksistensinya Saung Mang Udjo.

Udjo Ngalagena adalah seorang seniman angklung yang berasa dari Jawa Barat yang lahir pada tanggal 5 Maret 1929. Udjo Ngalagena adalah anak keenam dari pasangan Wiranta dan Imi. Udjo Ngalagena sudah mengenal kesenian angklung dengan akrab sejak berumur 4 tahun sehingga tidak heran bila Udjo Ngalagena sangat mencintai kesenian ini sampai akhirnya mendirikan Saung Angklung Udjo.

Selain angklung, Udjo Ngalagena juga mendalami seni bela diri tradisional yaitu pencak silat, gamelan, kecapi, dan juga lagu-lagu daerah berbahasa  Indonesia dan Belanda. Karena itu Saung Angklung Udjo tidak hanya menyajikan pertunjukan angklung, namun juga berbagai macam kesenian khas Jawa Barat.

Sore itu, hampir tidak ada tempat duduk yang tersisa karena bangku semen bertingkat-tingkat seperti stadion berbentuk lingkaran itu dipenuhi wisatawan mancanegara terutama dari Eropa, Timur Tengah dan Asia seperti Korea, Jepang, Singapura dan Malaysia.

Saat masuk ruang pertunjukkan para penonton sudah dibekali dengan synopsis dengan berbagai bahasa. Tertulis juga lagu-lagu daerah dari berbagai negara tapi memiliki kesamaan seperti lagu Melati Kenanga, The Song of Do Re Mi serta Burung Kakatua. Seperti halnya falsafah Bhineka Tunggal Ika, meskipun tamu datang dari berbagai negara tetapi tetap bersatu dalam lagu.

Pertunjukan dimulai dengan demonstrasi wayang golek, boneka kayu khas Sunda yang mirip badan manusia dengan kostumnya. Setiap adegan selalu terselip pesan moral untuk penonton. Setelah itu anak-anak mulai dari usia SD dan SMP dengan kostum warna-warni masuk dari dua arah samping panggung melakukan helaran.

Helaran biasanya dimainkan untuk upacara tradisional khitanan dan upacara panen padi karena bertujuan untuk menghibur dan bersyukur kapada Tuhan. Setiap anak memegang angklung kecil bernada pentatonis dan bernyanyi bersama dengan riang.

Tiga anak dara masuk menari dengan gemulai diiringi tiga gadis kecil mengendap-endap dan meletakkan selendang berisi sesuatu di pojok panggung. Ketiga penari langsung mengambil selendang dan kembali ketengah ruangan sambil tetap menari. Isi selendang rupanya adalah topeng yang langsung di pasang di wajah masing-masing.

Rupanya kali ini para remaja putri memberikan kejutan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi topeng. Tarian khas Cirebon ini menceritakan penyamaran tiga perempuan di masa Kerajaan Majapahit untuk menyelidiki keadaan di Kerajaan Blambangan menjadi pria yang gagah dan topeng berwarna merah melambangkan karakter yang temperamental.

Penonton makin asyik menikmati pertunjukan di sesi angklung mini, arumba, angklung massal nusantara hingga angklung orchestra karena angklung bisa mengiringi beragam lagu mulai dari lagu tradisional, dangdut, pop, lagu-lagu opera hingga lagu hits band-band jaman dulu seperti Queen yang legendaris. Kali ini rombongan wartawan Perancis masing-masing sibuk merekam video.

Konon jumlah total para pelajar yang menjadi artis dalam pertunjukan mencapai lebih dari 500 orang, namun setiap kali pertunjukkan jumlahnya kurang dari setengahnya dan setiap hari dalam seminggu bergantian tampil.

Momen yang paling banyak ditunggu-tunggu adalah bermain angklung bersama dimana anak dan dua cucu Mang Udjo menjadi konduktor musik yang memberikan aba-aba pada penonton untuk membunyikan angklung ditangan masing-masing sehingga terhimpun menjadi sebuah lagu.

Di setiap angkung yang dibagikan pada penonton sudah ada sticker dan gambar kode-kode berbentuk jari dan genggaman tangan sehingga penonton tinggal melihat bentuk tangan yang diperlihatkan tiga konduktor di tengah ruangan. Seperti terhipnotis, semua penonton dan para pemain musik Arumba di panggung mampu mengharmoniskan berbagai tangga nada lagu menjadi lagu-lagu popular dunia yang bisa dinikmati bersama.

Puncak acara adalah menari bersama dimana para pemain angklung cilik menghampiri para wisatawan dan mengajaknya menari bersama. Tidak ada yang malu untuk berpartisipasi serta melenggak-legokkan pinggul dan tertawa bersama.

Usai acara, acara masih berlanjut dan di dalam bus menuju Dusun Bambu untuk makan malam. Olivier Noyer asyik memutar video yang dibuatnya di Saung Mang Udjo sambil mengekspresikan dengan mengacungkan jempol pada saya. Kalau mengikuti bahasa gaulnya anak muda hanya bisa diwakilkan dengan satu kata: Keren !.

Untung peserta mendapat atraksi wisata yang menyenangkan sehingga mereka bisa menikmati perjalanan yang cukup jauh untuk sebuah makan malam di kaki gunung Burangrang menyusuri kegelapan malam dan hujan yang mengguyur kawasan pegunungan itu.

Ke Jakarta

Peserta Famtrip menikmati snorkling dan berenang di Pulau Perak dan Pulau Putri, Kepulauan Seribu ( foto: has).
Peserta Famtrip menikmati snorkling dan berenang di Pulau Perak dan Pulau Putri, Kepulauan Seribu ( foto: has).

Esok harinya sebelum jam makan siang rombongan sudah tiba di Hotel Dharmawangsa di kawasan elit Kebayoran Baru, Jakarta. Alexander Nayoan sang Managing Director hotel dan para managernya dari berbagai divisi langsung menyambut dan  menjamu dengan makan siang.

Setelah itu tidak ada waktu untuk menikmati hotel mewah dengan luas kamar minimal 66 meterpersegi karena mereka harus segera melongok hutan mangrove di kawasan Muara Angke, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara dan baru kembali malam hari. Hari ini Evelyne Dreyfus dari Radio JFM Pour Les Femmes berulang tahun sehingga dia mendapat kejutan tiga kue Ultah. Kue pertama saat menikmati sore di restoran tepi laut di Pluit, ketika menikmati makan malam di Restoran Kembang Goela serta satu kue tart lagi setiba di Hotel Dharmawangsa lagi di malam hari.

Aktivitas hari keempat di Ibukota dimulai jam 6.00 pagi menuju Dermaga Marina, Ancol untuk menuju Pulau Putri di Kepulauan Seribu, salah satu destinasi wisata prioritas tahun 2016 ini.

Tiba ditempat kami menuju dermaga 16 tapi masih terkendala belum siapnya kapal untuk berangkat sehingga ketika matahari sudah tinggi sekitar jam 9.30 baru tiba di Pulau Putri, sekitar 90 menit dari Marina.

Dermaga Pulau Putri, berbahan kayu kekar dengan bahan beton sebagai penyangga lokasi masuk dan tempat sandar kapal. DI dermaga tersedia pula berbagai fasilitas water sport seperti Glass Buttom Boat, Banana boat, sofa boat dan kano. Sylvie Mahene dari majalah Monaco Madame langsung berpose mengikuti patung para Putri Duyung yang menjadi mascot pulau ini.

Untuk snorkeling dan berenang rombongan dibawa ke pulau Perak, tepat  disebelah Pulau Putri dan hanya lima menit dengan boat. Tanpa dikomando masing-masing sudah sibuk mengoles tubuh dengan sun cream dan langsung menceburkan diri ke laut. Kapten kapal Sofyan dan seorang anak buah kapalnya ikut nyemplung sebagai life guard untuk mengawasi tamu-tamunya mandi matahari dan bermain air.

Di Pulau Putri istimewanya ada Underwater tunnel Aquarium,  sejenis trowongan yang posisi berada di bawah permukaan laut di kedalaman lima meter dengan panjang trowongan 15 meter. Sisi – sisinya di lapisi oleh kaca tembus pandang sehingga wisatawan dapat melihat terumbu karang dan ikan berseliweran tanpa harus berbasah basahan.

Esok harinya sebelum meninggalkan Jakarta, rombongan harus melongok Museum Nasional, Kota Tua Jakarta dan berkesempatan makan siang di Café Batavia sebelum dilanjutkan ramah-tamah dengan Nia Niscaya, Asisten Deputi Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Afrika di Kementrian Pariwisata. Acara masih dilanjutkan dengan terbang ke Bali dan baru bisa istirahat dan memeluk bantal hotel setelah jam 12.00 malam.

Aktivitas di Pulau Dewata

Pagi-pagi jam 9.00 rombongan sudah siap di lobby hotel, kali ini tujuannya adalah pantai Dreamland di Pecatu, Bali. Sepanjang hari itu, selain makana siang di Café Degan Bali milik juri Masterchef Indonesia, Degan Septoadji Supriyadi,  masih ada obyek wisata Pura Uluwatu untuk menonton sun set dan Tari Kecak serta menghabiskan makan malam di Jimbaran.

Pengalaman kuliner masakan Indonesia sekaligus jumpa dengan chef Degan Septoadji dan istrinya yang cantik merupakan momen yang paling membuat rombongan ini heboh dan makan banyak. Tanpa malu-malu hampir setiap anggota rombongan menambahkan nasi dan hidangan sambal matah dengan suwiran daging bebek goreng yang lezat. Bule-bule Perancis ini melahap pula udang dengan campuran pete.

Suasana pagi berikutnya di hari ke tujuh membuat hati saya miris karena Mehdi Habibie, pria ganteng berusia 26 tahun seusia anak saya mulai mengeluh karena tidak ada waktu luang atau free time buat mengeksplore Bali karena padatnya acara. Pemuda yang mendaulat saya sebagai ibunya di Indonesia ini mulai merajuk untuk tetap tinggal dan menikmati pantai di lingkungan hotel saja. Tapi akhirnya dia mengikuti program lanjutan a.l mengunjungi desa, melihat sawah sambil makan siang serta ke Pura Besakih.

Hari terakhir, bus wisata yang kami tumpangi menuju Tanah Lot yang digaungkan oleh Tommy, guide kami selama di Bali sebagai landmark Bali. Seperti orang yang datang ke Paris tidak afdol tanpa berkunjung ke Menara Eifel. Libur nasional Kenaikan Isa Almasih dan peringatan Isra Miraj membuat perjalanan untuk mencapai tujuan menjadi sebuah perjuangan tersendiri apalagi makan siang dipilih Warung Made Seminyak, yang lokasi menuju kesana juga sarangnya kemacetan.

Usai makan siang menjadi momen perpisahan karena mereka akan kembali ke Paris via Singapura dan saya sendiri ke Jakarta. Dalam perjalanan ke Seminyak saya secara pribadi membagikan oleh-oleh kalung bagi wartawati putri dan magnet kulkas berbentuk topeng kayu Bali bagi para wartawan yang total berjumlah 16 orang.

Kami semua menjadi takjub karena  mute-mute kalung yang saya berikan sangat cocok dengan warna baju masing-masing yang saat itu dikenakan sehingga bisa selaras dan tampil lebih chic.

Saya percaya tidak ada yang kebetulan dengan semua itu karena 8 hari bersama. Meski ada perbedayaan budaya dan pandangan tetap saja kami disatukan oleh rasa sayang, solidaritas dan saling melengkapi. Au Revoir Mes Amis, Selamat Jalan Teman-Teman…..( Hilda Ansariah Sabri).

 

LEAVE A REPLY