“Deb, Deb, Deredeeb, Plaak, Ouch, Gebug Ende” BBDF 2016

0
379

PEMUTERAN, Bali, bisniswisata.co.id, SUARA bilah rotan beradu tameng terbuat dari anyaman bambu dan plak mengenai bagian tubuh seseorang mengundang minat setiap yang mendengar untuk mencari tahu, ada apakah gerangan?

Ternyata itu suara- suara itu berasal dari ajang adu nyali Gebug Ende serangkaian Buleleng Bali Dive Festival (BBDF) 2016. Sebanyak 60 pasangan tanding ambil bagian pada kesempatan tersebut. Area penuh teriak- teriak histeris, menahan sakit – penonton– mengimbangi suara gambelan, musik pengiring, penyemangat bagi peserta untuk memenangkan pertandingan.

Gebug Ende adalah salah satu seni budaya, tradisi dimiliki masyarakat desa pesisir teluk Pemuteran yang berasal dari Desa Seraya, Karangasem. Nenek moyang mereka hijrah dari wilayah Karangasem pasca letusan Gunung Agung dan sampai saat ini ikatan kekerabatan mereka masih kuat dan terjaga.

gebuk7

Gebug Ende Seraya merupakan warisan budaya dan tradisi leluhur, tradisi unik yang digelar berkaitan dengan musim kemarau untuk memohon turun hujan pada Sasih Kapat (kalender Hindu Bali) atau pada bulan Oktober – Nopember. Letak geografis desa Seraya pada dataran tinggi, memiliki karakter serupa dengan Teluk Pemuteran. Cenderung tandus, dan masyarakat mengandalkan peran alam terutama penghujan dalam memanfaatkan lahannya. Maka untuk itu Gebug Ende selalu digelar pada musim kemarau yang bertepatan juga dengan pelaksanaan BBDF.

Bukan Porno Aksi dan Sadisme

Ritual diawali dengan melakukan persembahyangan bersarana banten/sesajen, kemudian dilanjutkan dengan adu ketangkasan. Ritual dan permainan bukan sekadar penampilan, diperlukan keahlian khusus untuk dapat ‘’memukul’’ lawan pada bagian- bagian tubuh yang ditetapkan. Dua petarung dalam Gebug Ende berhadapan menggunakan peralatan tongkat rotan sepanjang 1,5 – 2 meter sebagai pemukul, alat “menggebug” (gebug), sementara tangan kiri membawa tameng (ende) berbentuk bulat  yang digunakan untuk menangkis serangan lawan.

Ke dua pria yang siap bertanding, saling menyerang, sesekali mereka menunjukkan gerakan tari untuk memancing emosi lawan, dan kembali saling serang. Adu ketangkasan ini dibatasi sebilah  tongkat pembatas dengan adanya pembatas tersebut masing-masing pihak tidak diperkenankan  memasuki daerah lawan. Mereka bertanding dipimpin oleh seorang wasit yang disebut Saye . Saye mengatur permainan petarung Gebug Ende diruang pertarungan, member aba- aba untuk memulai, meneliti kedisiplinan petarung  dan menghentikan pertarungan.

 

Dan, pertandingan ini bukan pamer porno aksi, jika petarung selama permainan bertelanjang dada. Tidak pamer sadisme, jika kedua petarung terkena sabetan rotan lawan, tubuhnya memerah bahkan berdarah. Ritual dinilai berhasil jika petarung berdarah- darah akibat sabetan rotan. Meski memerlukan keahlian khusus, ritual Gebug Ende terbuka bagi orang dewasa mau pun anak- anak. Ya, adu nyali memanggil hujan juga perlu dididik secara dini bagi generasi penerus. Mari adu berani menonton Gebug Ende Seraya di BBDF Pemuteran. *Dwi

LEAVE A REPLY