Danau Kelimutu Pukau Wisatawan Jerman

0
39
Wisnus melihat keindahan Danau Kelimutu NTT (Foto: www.vebma.com)

ENDE NTT, Bisniswisata.co.id: Sebanyak 19 wisatawan asal Jerman berwisata ke kawasan wisata Danau Kelimutu untuk menyaksikan keindahan danau tiga warna yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebelumnya para pelancong asing mengelilingi Pulau Flores dan berkunjung ke kawasan wisata di Flores, seperti Labuan Bajo dan kawasan wisata lainnya.

“Ini sangat indah, keindahan alam serta keindahan warna danaunya sangat luar biasa,” kata Mark Muller, wisatawan asal Jerman yang ditemui di puncak Danau Kelimutu, Rabu (9/8/2017).

Mark mengaku untuk mencapai puncak tertinggi Danau Kelimutu penuh perjuangan, karena harus melewati kurang lebih ratusan anak tangga yang puncak ketinggiannya mencapai 1.598 di atas permukaan laut. “Tetapi capek itu semuanya bisa terbayar karena memang dari ketinggian ini semuanya terlihat jelas,” ujarnya pula.

Mark mengatakan, sebanyak 19 wisatawan asal Jerman tersebut merupakan kelompok orang tua yang tergabung dalam kelompok travel. Mereka tertarik dengan keindahan danau tiga warna ini setelah melihat di media massa juga dunia maya, sehingga mereka ingin datang langsung untuk membuktikannya.

Franky, wisatawan asal Denpasar, Bali juga mengaku baru pertama kali meninjau kawasan wisata Danau Kelimutu tersebut. “Ini pertama kali saya ke sini. Banyak yang sudah cerita bahwa kawasan ini sangat indah, karena itu saya ke sini walaupun hanya sendiri saja,” ujarnya.

Danau Kelimutu, berupa kawah di antara puncak gunung Kelimutu. Dalam satu kawasan di ketinggian 1.640 meter di atas permukaan laut itu, terdapat tiga danau dihasilkan lewat proses vulkanis gunung api. Danau terletak 54 kilometer di sebelah timur Kota Ende—waktu tempuh sekitar 2 jam—itu dikenal sebagai danau tiga warna karena memiliki tiga warna: merah, biru, dan putih. Warna itu berubah-ubah dalam jangka waktu tertentu.

Danau tersebut diberi nama lokal sesuai dengan keyakinan masyarakat tempat. Danau yang paling dalam, sekitar 127 meter, disebut Tiwu Nua Muri Koo Fai (Danau Pemuda dan Gadis). Danau seluas 5,5 hektare itu tampak berwarna hijau lumut. Di bagian tenggara terdapat Tiwu Ata Polo alias Danau yang Mempesona sedalam 64 meter dengan luas 4 hektare. Danau itu diperkirakan menjadi salah satu sumber air bagi Sungai Ria Mbuli yang mengalir di Gunung Kelimutu. Warnanya pada hari itu hijau.

Sekitar setengah kilometer dari puncak, terdapat Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua) yang berwarna hijau. Luasnya 4,5 hektare dengan kedalaman 67 meter. Ketiga danau memiliki bentuk, kondisi hidrotermal, dan geokimia yang berbeda. “Itulah yang menjadi daya tarik Danau Kelimutu,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kelimutu, Benedictus Rio Wibawanto.

Data Balai Taman Nasional Kelimutu menunjukkan, selama 1915-2011, Ata Polo mengalami 44 kali perubahan warna, Nua Muri Koo Fai berubah warna 25 kali, dan Ata Mbupu 16 kali bersalin warna. Tak ada jadwal dan pola perubahan yang pasti.

Perubahan terkadang menghasilkan warna campuran. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, pada Mei 1997, air Ata Polo berubah warna dari cokelat dan hijau tua menjadi merah hati. Mbupu berubah dari cokelat tua menjadi hijau kecokelatan.

Sedangkan Nua Muri Koo Fai berubah menjadi putih telur asin dari biru dan hijau muda. Empat tahun lalu, warna danau hampir seragam hijau. Setahun kemudian, warna berubah menjadi hijau dan hitam.

Riset Pasternak 20 tahun lalu menunjukkan Kelimutu termasuk gunung api tipe stratovolcano yang tak banyak mengeluarkan material vulkanis. Gunung ini terakhir kali meletus pada 1968. Aktivitas vulkanis Gunung Kelimutu tercatat 11 kali selama 1830-1996. Adapun perubahan warna air tiga danau itu terjadi sejak letusan pada 1886.

Sejumlah ilmuwan menduga perubahan warna itu terjadi karena aktivitas gunung api, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, ganggang, dan pantulan warna dinding dan dasar danau. Namun hasil penelitian lebih akurat menyimpulkan warna danau berubah-ubah disebabkan proses geokimia di dasar danau yang menghasilkan kandungan zat kimia tertentu di dalam air.

Peralihan warna air menjadi hijau dimungkinkan oleh perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas-gas gunung api atau bisa pula dampak kenaikan suhu. Sedangkan naiknya konsentrasi zat besi dalam fluida menghasilkan warna merah dan cokelat tua.

Warna hijau lumut mungkin berasal dari biota jenis lumut. Perubahan warna terjadi akibat erosi dinding atas danau dan dasar kawah yang menyingkap material-material tertentu.

Danau ini sangat rawan bila terjadi gempa atau getaran hebat. Mengingat, dinding pemisah antara Nua Muri Koo Fai dan Ata Polo merupakan bagian yang paling labil karena berupa dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat dan ketinggian 50-150 meter.

Walau berada di taman nasional sejak kawasan tersebut ditetapkan pada 1992, bukan berarti danau ini sepenuhnya aman dari ancaman. Salah satu ancaman utama datang dari sampah yang dibuang pengunjung. Menyedihkan memang. (*/NDIK)

LEAVE A REPLY