Dampak Buruk Pariwisata, Terumbu Karang Pulau Bokori Hancur

0
101
Terumbu Karang di Taman Nasional Bunaken (Foto: Antara)

KENDARI, Bisniswisata.co.id: Industri pariwista bukann hanya memberikan dampak baik, sebaliknya juga berdampak buruknya, seperti kesenjangan sosial di masyarakat sampai kerusakan alam. Sudah banyak kisah rusaknya alam akibat masifnya pengembangan industri pariwisata di suatu tempat, seperti terumbu karang Great Barrier Reef dan Raja Ampat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengimbau agar pemerintah daerah dan masyarakat setempat ikut melindungi potensi alam yang ada, salah satunya yang berada di Pulau Bokori, di Kabupaten Konawe, Kendari, Pulau Bokori merupakan objek wisata perairan andalan Sulawesi Tenggara.

Sayangnya, sejak beberapa tahun ini kondisi bawah lautnya tidak seindah dulu. Susi yang sudah datang langsung ke sana mengatakan kalau terumbu karangnya sudah rusak sehingga perlu diselamatkan.

“Saya sudah berkunjung di Pulau Bokori, airnya bagus, jernih, tempatnya cantik. Tetapi, ketika menyelam tiga meter ke bawah karangnya hancur semua. Ikan hanya lari-lari dan tidak ada rumah tempat tinggalnya,” kata Susi di Kendari, seperti yang dilansir dari Antara, Senin (18/09/2017).

Susi melanjutkan ada beberapa terumbu karang yang mulai hidup dan berkembang, sehingga perlu dijaga. “Terumbu karang ini harus diselamatkan. Saya berharap konservasi bisa dilakukan demi menjaga wilayah Pulau Bokori, sehingga masyarakat senang. Kalau tidak maka tidak akan ada yang menarik untuk dilihat di pulau itu,” uajr Susi.

Mengetahui kawasannya memiliki objek wisata potensial, Pemerintah Sulawesi Tenggara terus melakukan promosi agar semakin banyak turis yang datang ke Pulau Bokori.

Jika sempat berkunjung ke sana, kemajuan industri pariwisatanya sudah mulai terasa, dengan adanya banyak tempat makan dan tempat makan di sekitar Pulau Bokori. Pembangunan memang perlu dilakukan, tapi jangan sampai keserakahan jadi melupakan alam yang telah memberikan segalanya dengan cuma-cuma.

Sebelumnya, Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) mengungkap jangan terbuai dulu saat mendengar bahwa pemandangan bawah laut Indonesia terlihat indah bak surga. Karena faktanya, saat ini kerusakan terumbu karang di perairan dari Sabang sampai Merauke disebut sudah mencapai 46 persen.

BKIPM mengatakan kalau kerusakan terumbu karang tak hanya karena diakibatkan oleh faktor alam, tapi juga faktor manusia, seperti aktivitas pengeboman ikan dan penyelundupan terumbu karang juga aktivitas pariwisata.

Yang tambah menyedihkan, saat ini Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Selatan (Sulsel) juga sedang terancam kelestariannya. Luas Taman Nasional Bunaken mencapai 16 juta hektare, yang di dalamnya terdapat satu taman laut, taman wisata dan empat kawasan konservasi.

Kepala Balai KIPM Makassar Sitti Chadijah mengimbau kepada masyarakat yang mencari ikan di sekitar Taman Nasional Bunaken untuk tidak menggunakan teknik yang mengganggu kehidupan bawah laut. “Saat ini tingkat kerusakan terumbu karang di Bunaken sangat tinggi. Kerusakan itu akan memengaruhi kehidupan semua binatang laut, termasuk yang dilindungi oleh undang-undang,” kata Sitti

Sitti lanjut mengatakan, jika tak dijaga maka Taman Nasional Bunaken tidak akan lagi didatangi turis dan bisa dinikmati oleh anak cucu di masa depan. “Untuk memulihkan terumbu karang sangat lama. Dalam tiga tahun hanya tumbuh satu centimeter. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Tapi ini harus dilakukan semua pihak yang memiliki kesamaan visi,” ujar Sitti. (*/BBS)

LEAVE A REPLY