Creative Culture Society Ajak Kaum Hawa Bersyukur Lewat Nobar Kartini

0
288

Uti Rahardjo, pendiri Creative Culture Society saat diwawancarai usai nonton bareng ( nobar) Film Kartini di studio XXI Plaza Senayan, Jakarta. ( foto: HAS).

JAKARTA, bisniswisata.co.id: April memang bulannya perempuan. Perayaan hari Kartini kali ini istimewa dengan acara nonton bareng Film Kartini. Sepanjang pekan lalu di Studio XXI, Plaza Senayan, Jalan Asia Afrika, Jakarta Selatan.

Kaum wanita dari berbagai komunitas hadir mengenakan kebaya modern dan kain-kain etnik yang indah. Foto selvie dan foto bersama teman-teman wanitanya mendominasi sejak sebelum maupun setelah menonton Film “Kartini” apalagi para artis pendukung juga hadir.

Mengisahkan Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, film ini tayang untuk umum mulai 19 April 2017 dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, artis kawakan Christine Hakim dan artis pemain papan atas lainnya.

Usai menonton barulah kaum hawa yang hidup di era digital ini paham meski film dengan judul yang sama sudah pernah dibuat, namun sisi lain kehidupan Kartini yang terungkap memberikan kejutan-kejutan dan memberikan motivasi yang kuat untuk terus melanjutkan perjuangannya.

Adalah Uti Rahardjo, pendiri Creative Culture Society yang mengumpulkan dan nonton bareng bersama 132 perempuan profesional dan pengusaha yang tergabung dalam berbagai komunitas, Jumat lalu.

Uti yang juga Ketua Departemen Industri Kreatif dan Pariwisata Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia ( HIPPI) ini mengusung Misi “Empowering womenpreneur in creatif industry”. Semoga menjadi momentum yang tepat bagi kita semua untuk mengukuhkan spirit perjuangan kaum perempuan melalui pemberdayaan perempuan yang bergerak di industri kreatif, tegasnya.

Ajakan Nobar alias nonton bareng ini terbukti di tanggapi positif. Dalam sekejab terkumpulah para alumni dari Forum Alumni EWW (Ernst &Young Winning Women), Alumni API (Anugerah Perempuan Indonesia), WISE (Witty, Independent, Smart, Ellegant) dan Lions Magnolia.

Belum lagi ada rombongan besar dari Komunitas Putri Bumi Sriwijaya, AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), serta Golden Girls dari Solo dan yang terpenting adalah hadirnya Dewi Motik Pramono, pendiri IWAPI yang kini didaulat Kementrian UKM sebagai Duta UKM nasional memberikan dukungannya.

Film layar lebar Kartini yang hadir selama dua jam sanggup memukau dan melahirkan tangis isak kepedihan. Betapa tidak. Kita yang selama ini cuma mengenal Kartini dari buku pelajaran sekolah atau dari lagu nya yang tersohor melantunkan cita-cita Kartini yang mulia.

Lewat garapan sutradara kondang Hanung Bramantyo kali ini penonton bisa merasakan penggambaran situasi di abad 18 dimana kebudayaan Jawa masih sangat patriakis dan mengekang kebebasan perempuan bahkan cenderung menginjak-injak harkat hidup seorang perempuan.

Foto bersama komunitas WISE usai nobar

” Kita dibawa pada satu situasi mencekam ketika kaum perempuan masih hidup dalam pingitan yang penuh dengan aturan dan membuat dada kita terasa sesak. Kungkungan adat Jawa dalam keluarga bangsawan Jawa ternyata jauh dari yang kita bayangkan,” ujar Uti.

Mereka hidup dalam kekakuan aturan yang teramat sulit untuk di dobrak. Menjadi Raden Ayu harus mengikuti S.O.P ( standard operational procedure) yang tinggi bahkan mengesampingkan harga diri sendiri.

Melihat di depan mata sendiri suami sah menggilir selir-selir, ibu tercinta yang harus legawa atas pengasuhan anak-anaknya dan menerima semua perlakuan buruk atas nama “ bakti “ pada suami dan keluarga besar mungkin hanya bisa dijalani oleh kaum wanita yang hidup di era Kartini.

Poligami yang menempatkan posisi perempuan jauh di bawah harkat hidup yang layak membuat sebagian besar air mata penonton tak berhenti mengalir. Ikut merasakan luka bathin yang mendalam dan membekas di hati dan jiwa perempuan di masa itu.

Antara geram, marah, sedih dan nelongso melihat kekejian kondisi saat itu yang seperti lingkaran setan mengaduk-aduk perasaan karena perempuan yang seharusnya diciptakan sebagai garwo atau sigaring nyowo (belahan jiwa) dalam bahasa Jawa, ternyata cuma dianggap pelengkap ego laki-laki dalam mengumbar ambisinya untuk menguasai.

Menyaksikan Film Kartini yg diproduksi oleh Legacy Picture bekerjasama dengan Screenplay Film memaksa kita untuk melihat sebuah perspektif yang berdimensi kaya akan kedudukan seorang perempuan di abad 21.

Betapa tiba-tiba kita dibukakan mata akan kemewahan-kemewahan yang bisa dinikmati perempuan dewasa saat ini dengan gratis dan melimpah ruah tanpa harus diperjuangkan. Bahkan sering kita nikmati tanpa rasa syukur.

“Air mata saya semakin bersimbah merasakan sesaknya dada ini atas seluruh nikmat yang belum saya syukuri sepenuhnya,” kata Uti Rahardjo.

Lewat film Kartini dan para artis pendukung dengan karakternya yang kuat maka kaum hawa yang hidup di jaman ini memang harus berterima kasih pada RA Kartini atas keberanian yang dilakukannya untuk mengikis kebodohan, kemalasan dan kepicikan.

Kartini yang memiliki jiwa entrepreneur dan mampu mendorong para perajin ukiran Jepara untuk memamerkan hasil karyanyadi negri Belanda juga memperlihatkan bahwa kekuatan pikiran manusialah yang mampu menundukkan hambatan dan rintangan meski harus melalui perjuangan yang panjang.

Berfikir out of the box sudah dimiliki oleh Kartini sehingga meskipun di penjara dalam kamarnya sendiri namun dengan berbagai cara karya-karya tulisnya akhirnya dipublikasikan di Belanda hingga akhirnya mendunia.

“ Terimakasih Kartini atas kegigihan yang kau perlihatkan dan mengingatkan kami, betapa sedikitnya yang kami perbuat untuk kemajuan bangsa,” kata Uti menahan haru.

Salut bagi Hanung Bramantyo yang telah berhasil mengaduk-aduk emosi penonton dengan tampilan audio visual yang super indah dan menyentuh. Salut bagi seluruh pemain film Kartini yang telah bermain dengan gemilang dalam ekspresi yang hidup dan wajar.

Untuk Dian Sastro, Christine Hakim, Dedy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Acha Septriasa, Adinia Wirasti, Ayushita Nugraha, dan seluruh pemain lain nya serta seluruh crew yang terlibat, jangan pernah lelah menghasilkan karya-karya yang membawa pengaruh baik bagi negri kita, tambahnya.

Terimakasih untuk Beby dan Mbak Jani yang telah memberi kesempatan bagi kita semua untuk bisa menikmati tontonan yang luar biasa. Terbukti Ketika sesama wanita saling mendukung, banyak hal yang luar biasa terjadi.

Ratusan wanita berkumpul, menguatkan kembali silaturahim, sinergi, kolaborasi terjadi saat nobar di bioskop. Bersama para sahabat perempuan, tidak ada yang tak bisa. Semoga semakin banyak karya yang kita hasilkan bersama demi kemajuan Indonesia tercinta, harap Uti. (*/HAS)

 

 

LEAVE A REPLY