Creative Center Indonesia Lahirkan Crebo Untuk Fasilitasi Para Pengusaha

0
263

Ketua Bekraf, Triawan Munaf ( paling kanan) panel diskusi bersama Ratih Ibrahim, Uti Raharjo dan Aviliani.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kalangan pengusaha membutuhkan  Creative Biz Forum  ( Crebo) untuk terus melatih kreativitas dan inovasi yang dituntut oleh dunia usaha, kata Uti Raharjo, Pendiri Creative Center  Indonesia, hari ini.

“Kreativitas masih menjadi satu-satunya andalan terbesar yang bisa menciptakan solusi dan inovasi bagi bisnis yang kita jalankan sehari-hari untuk tetap kuat dan terus berkembang,” tambahnya dalam bincang bisnis bertajuk How Creativity builds business from Zero to Hero

Untuk itu pada kesempatan ini dia menampilkan lima nara sumber sekaligus para pengusaha wanita  yang menjadi EY Entrepreneurial Winning Women seperti Anne Sri Arti, pendiri Raja Tani Agro Nusantara, Novita Yunus, pendiri Batik Chic, Swan Kumarga, pendiri resto Dapur Solo, Mirawati Basri, pendiri PT Asiatech Integrasi dan Wilda Yanti, Social Entrepreneur,  pendiri PT Xaviera Synergie.

Penggagas Crebo yang juga Wakil Ketua Bidang Industri Kreatif HIPPI ini mengatakan dunia usaha punya banyak peluang  dan terus membutuhkan inovasi sehingga  bincang bisnis ini perlu hadir untuk memberikan pencerahan dan arah bagi pelaku bisnis, tegas Uti.

Acara yang dipandu Ratih Ibrahim, psikolog dan pendiri PT Personal Growth yang menjadi mitra pengusaha sukses ini menghadirkan pula Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif ( Bekraf), Suryani Motik, Ketua Umum HIPPI serta pengamat ekonomi Aviliani sekaligus pembina Crebo ini.

Suryani Motik mengatakan kreativitas bukan hanya dibutuhkan pengusaha karena ibu rumahtangga juga harus kreatif untuk menghemat pengeluaran sehari-hari. Intinya kreativitas yang terus diasah dan melahirkan ide-ide baru mendatangkan bisnis dan menghasilkan uang.

“Kreativitas itu on going procces dan kita butuh pengusaha kreatif bukan yang hanya copy paste. Begitu juga dalam melihat peluang pasar karena generasi milenial jaman sekarang potensi hidupnya lebih panjang sehingga dalam membuat produk juga harus menyesuaikan,” kata Suryani Motik.

Para nara sumber dan pendukung fashion show

Kepala Bekraf, Triawan Munaf sebagai wakil pemerintah mengatakan dalam membina inkubator bisnis, maka ibarat aquarium pemerintah harus bisa menyediakan aquarium dengan air yang jernih sehingga ikan-ikan di dalamnya sehat.

“Kreativitas sangat penting apalagi di era generasi milenial maka masa hidup dari produk yang kita keluarkan juga pendek sesuai karakteristik dari konsumennya sehingga dalam satu perusahaan butuh tim kerja terdiri dari hipster, hacker dan hustler,” kata Triawan.

Menurut dia tim kerja seperti diatas dibutuhkan dengan kepiawaiannya masing-masing dalam melihat trend pasar, menciptakan peluang dan orang yang penuh tenaga dan kreativitas sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Jangan buru-buru menyalahkan kondisi perekonomian tapi seberapa jauh kita dapat memahami dan mengakses pasar dan kreatif dengan produk baru. Kalau dalam perusahaan ada hipster, hacker dan hustler  maka perusahaan yang kolap bisa bangkit lagi,” tambahnya.

Senada dengan Triawan maka Aviliani juga menilai kreativitas dan inovasi merupakan kata kunci. Bagi mereka yang punya DNA creatives ini maka golongan ini tidak buru-buru menuding bahwa bisnisnya  terpengaruh lesunya perekonomian.

“Kesalahan besar dari sistem pendidikan kita adalah dari usia PAUD hingga perguruan tinggi tidak pernah diajarkan dan dilatih untuk kreatif. Pengajarannya satu arah padahal kita membutuhkan kurikulum yang sesuai jaman. Jika tidak paham perubahan pasar domestik dan luar negri sehingga perusahaan yang sudah berusia 40 tahun pun mati,” ungkap Aviliani.

Jadi kreativitas dan inovatif yang membuat usaha bisa survive. Jangan lupa, tambahnya,  42% dari penduduk Indonesia adalah generasi milenial sehingga memahami karakteristik mereka yang selalu butuh tantangan baru dan keunikan harus dipahami oleh para produsen produk maupun jasa.

Uti Raharjo, psikolog yang ahli dibidang periklanan ini mengatakan bahwa kreativitas bukan monopoli milik para seniman karena gen-nya sudah ada sejak manusia lahir dan bisa dipelajari dan dilatih serta mendatangkan keuntungan.

Ciri dari orang kreatif sedikitnya ada 8 DNA yang dimiliki sehingga mampu menikmati hidup, bisa mengatasi masalah dan bisa me-monetize ide-ide kreatifnya karena dalam dirinya ada curiosity dan courage.

Pengusaha kreatif juga bersikap resilient, penuh energi, agile, transeden atau berfikir yang melampaui apa yang terlihat, punya imaginasi yang kuat, visi serta empati sehingga dalam menjalankan usaha dapat mengatasi masalah yang dihadapi serta menikmati tantangan yang ada.

Lima pengusaha sukses

Anne Sri Ati ( kanan) bersama Swan Kumarga, Novita Yunus, Mirawati Basri dan  Wilda Yanti sharing pengalaman dipandu Ratih Ibrahim.

DNA di atas terbukti sudah tertanam dalam diri lima pengusaha wanita yang sukses dibidangnya masing-masing. Anne Sri Arti misalnya mengaku bahagia karena Raja Tani Agro  Nusantara  membina petani dengan  visi ke depan para petani punya pasar pasti.

“Saat ini kami punya jasa menyediakan 85.000 catering industri per hari. Nah kebutuhan catering itu dihasilkan dari para petani sehingga mereka punya pasar yang pasti. Kami bina pola tanam dan panennya untuk kebutuhan catering,” kata Anne.

Swan Kumarga dengan bisnis kulinernya Resto Dapur Solo juga eksis selama 30 tahun. Semula berjualan rujak door to door dan menerima pesanan lewat telpon sambil membawa anak balutanta keliling komplek  akhirnya punya 5 cabang restoran dan usaha catering lainnya.

Mantan banker Novita Yunus dengan kreasi Batic Chic juga bermula usaha dari berjualan tas melalui media sosial Facebook. Hasilnya ternyata melebihi gaji bulanannya sehingga fokus menjadi designer tas, sepatu, baju dan aksesoris .

“ Saya juga ketok pintu Kementerian sehingga setahun bisa 15 kali pameran di luar negri. Brand yang bisa bertahan selain harus kreatif dan penuh inovasi juga bisa beradaptasi dengan cepat sehingga tahu apa yang lagi hits dan perkuat networking,”

Mirawati Basri mengaku baru belajar IT tahun 2000. Ahli keuangan ini mengaku terjun ke bisnis IT yang mensupport jasa IT dari perbankan nasional dengan modal networking dan kepercayaan. Mira akhirnya menjadi  perusahaan IT yang bersinergi dengan perusahaan  di Silicon Valley AS dan menjadi satu-satunya wanita dan muslimah IT yang eksis.

Nara sumber lainnya adalah Wilda Yanti, social entrepreneur yang mula-mula mengolah sampah rumahtangga hingga menjadi pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dia mengaku 8 creative DNA terutama sikap transeden akhirnya membuatnya mampu mengatasi problem solving terutama dalam hal pemasaran pasti.

Acara ini diisi dengan fashion show dari Batik Chic berkolaborasi dengan Amandari Gallery, Griya Cinere Hijau, Radana dan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia serta didukung oleh Smart FM.

Hal menarik dalam sesi Crebo ini adalah kehadiran Maya Hasan, pemain harpa yang membuka V-Clinic di kawasan Permata Hijau, Jakarta. Dia memberikan terapi musik sehingga seseorang dapat melakukan penyembuhan dan menemukan kedamaiannya.

Maya memberikan pencerahan bahwa terapi musik selain memicu kreativitas, dalam organ tubuh juga memiliki frekwensi yang bisa sinkron dengan musik yang didengarkannya. Maya menggabungkan teori frekwensi, quantum dan metafisika untuk menangani stress yang dialami seseorang.

Creative Biz Forum ini acara yang sukses mengumpulkan para wanita pengusaha dari beragam komunitas untuk bersinergi dan networking serta akan saling memberdayakan karena selesai acara para nara sumber bahkan sepakat untuk saling bersinergi. 

 

LEAVE A REPLY