Christine Hakim Bangga Jumlah Film Indonesia Meningkat

0
353
Chiristine Hakim (Foto: Asia Pacific Screen Awards)

BANDUNG, bisniswisata.co.id: Aktris Senior Christine Hakim mengatakan kebutuhan masyarakat untuk menonton dan mengapresiasi film-film Indonesia yang berkualitas semakin meningkat. Meski begitu menurutnya perfilman Indonesia masih butuh berkembang lagi saat ini karena masih kuatnya pengaruh film asing.

“Saat ini telah ada 130 judul film Indonesia yang diproduksi pada 2016, jumlahnya terus meningkat. Itu menandakan adanya peningkatan kebutuhan masyarakat untuk melihat dan mengapresiasi film-film Indonesia yang bermutu,” kata Christine pada Kuliah Umum dan Bedah Film di Auditorium Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Bandung, Jumat (28/10/2016).

Ia mengatakan banyak film Indonesia yang mampu merajai pasar dan menjadi box office, misalnya Rudi Habibie dan Guru Bangsa Tjokroaminoto. “Dari sisi kualitas dan kuantitas sudah mulai membaik,” kata Herlina Christine Natalia Hakim – nama lengkap Christine Hakim seperti diunduh laman Antara.

Kendati mengalami peningkatan yang signifikan, Christine menyayangkan perfilman Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. “Padahal, perfilman Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang,” lontar Christine Hakim menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi juri dalam Festival Film Cannes di Perancis dan Christine Hakim menjadi aktris Indonesia pertama yang main film Hollywood berjudul Eat,Pray,Love, bersama artis Julia Roberts di Bali

Menurutnya, bisnis perfilman ini sebenarnya menjanjikan dan mampu menghasilkan devisa negara yang besar bila dikelola dengan baik. “Perfilman Indonesia harus berjuang lagi. Saingan kita saat ini bukan lagi Amerika, tetapi Korea dan India yang mencuri hati masyarakat beberapa waktu ini,” papar wanita kelahiran Kuala Tungkal Jambi, 25 Desember 1956.

Peraih Piala Citra FFI 1974 di Surabaya dalam film pertamanya berjudul Cinta Pertama juga menyesalkan, rencana pencabutan bisnis film dari Daftar Negatif Investasi (DNI) di Indonesia. Bila hal itu terjadi, film atau televisi Korea dan India mendominasi, film-film Indonesia yang jumlahnya memang sedikit akan kalah saing. “Bila film-film Korea dan India mendominasi, maka akar budaya dari film Indonesia akan hilang,” tambah Best Actrees pada Asia Pasific International Film Festival dalam film Daun di atas bantal (1998). (*/AN)

LEAVE A REPLY