Christina Suriadjaja bangun Travelio.com demi jaring wisatawan dunia

0
1602

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Ketika memulai suatu usaha, pebisnis umumnya akan fokus dan berupaya memasarkan produk maupun jasa yang ditawarkannya agar dikenal masyarakat secara luas baik di dalam maupun luar negri.

Namun hal itu ternyata tidak berlaku pada Christina Suriadjaja, Co-Founder & Strategic Marketing Director Travelio.com. Mengedepankan pencitraan brand baru yang diusungnya justru jauh dari agenda strategi bisnis. Sebaliknya, Christina memprioritaskan kepedulian tinggi pada sesama umat manusia dan passionnya bekerja dengan hati.

Pengusaha muda berwajah imut dan mungil ini pada 24 Maret 2015 bersama tiga teman lainnya meluncurkakan Travelio.com, situs online hotel booking terbaru yang mengusung tagline “Your Trip, Your Price” dan mengadaptasi budaya masyarakat Indonesia yang suka tawar-menawar dalam menjalankan e-commerce.

Meski belum genap berusia tiga bulan, namun Christina memperlakukan ‘bayi’ Travelio.comnya dengan gebrakan-gebrakan yang dilakukan sepenuh hati. Simak saja kiprahnya bersama seleb dan tokoh olahragawan Ade Rai yang memiliki Rai Fitness & Klub.

Keduanya sepakat memberangkatkan sedikitnya 41 atlet penyandang cacat mental untuk berlaga di ajang “Special Olympics World Summer Games 2015” di Los Angeles. Para atlet akan berlaga di berbagai cabang olahraga yang akan berlangsung pada 21 Juli – 2 Agustus 2015 .

“Kami mendukung atlet Special Olympics Indonesia (SOIna) untuk bertanding di ajang internasional. Kita ingin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyandang disabilitas mental sehingga masyarakat dapat belajar dari optimisme mereka dalam menjalani hidup,” ungkap Christina yang prihatin atas rendahnya perhatian pemerintah maupun semua pihak atas potensi yang dimiliki para penyandang cacat mental seperti autism.

Dalam hal menggalang dana, pihaknya bekerjasama dengan Ade Rai yang ditunjuk menjadi duta (Ambassador) SOIna dalam bentuk penjualan baju #TravelioRai #SupportSoina. Lebih dari 1.000 buah baju dijual melalui penjualan langsung di Rai Fitness & Klub Ade Rai serta pemesanan online melalui blog.travelio.com.

Buah dari kerjasama yang baru berlangsung sekitar dua minggu saja, sejauh ini telah terkumpul donasi sebanyak Rp87 juta dari target Rp150 juta dimana seluruhnya akan disumbangkan untuk keberangkatan kepada tim SOIna ke AS. Untuk memulai kampanye ini, pada tanggal 30 Mei 2015 yang lalu Travelio.com dan Ade Rai juga telah menggelar semacam Meet and Greet dengan tim SOIna.

Suka tantangan

Travelio.com sendiri merupakan travel brand milik PT Horizon Internusa Persada, salah satu entitas anak perusahaan PT Surya Semesta Internusa Tbk yang dipimpin Johannes Suriadjaja. Perusahaan publik ini aktif dalam pengembangan hotel dan kawasan industri.

Kepedulian pada atlet olahraga SOina memang tidak lepas dari pengalamannya sendiri sebagai tim nasional Singapura untuk net ball ( basket) dan sepak bola yang dijalaninya selama tiga tahun, mulai dari kelas dua SMP hingga kelas satu SMA. Maklum sejak kecil dia memang melewati pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar hingga kelas dua SMA di negri jiran itu.

Tinggal di asrama, berlatih olahraga sebanyak dua kali dalam sehari membuat Christina mengikuti pola hidup asrama yang kental dengan kedisiplinan dan gaya hidup sehat. Dia juga terbiasa untuk bersikap sportif, jujur dan mencari tantangan.

Mewakili tim nasional Singapura, Christina kerap harus bertanding ke mancanegara pula seperti Thailand, Malaysia hingga ke Sri Lanka. Pengalaman dilapangan membentuk wataknya menjadi anak yang mandiri dan tangguh serta terbiasa memiliki tujuan atau visi dari apa yang ingin dicapainya.

Sebelum di kirim ke Singapura untuk menjalani pendidikan formal, sejak usia lima tahun Christina bahkan sudah dititipkan ke salah satu keluarganya yang menetap di Belanda. “Meski hanya selama setahun tapi makanan favorit saya jadi masakan Belanda seperti kentang,” ungkapnya

Menjunjung sportivitas dan kejujuran membawa Christina sebagai sosok yang mampu memotivasi diri sendiri dan selalu siap menerima tantangan. Ketika selesai kuliah dan bekerja di group hotel Intercontinental di Singapura, ujarnya, maka ruang lingkup pekerjaannya di rotasi sebulan sekali.

“Yang paling berat bagi saya ketika bekerja di hotel adalah di restoran dan di lounge karena waktu makan pagi, misalnya, tamu yang datang tidak putus-putus. Bekerja di lounge juga begitu, tamu VIP datang silih berganti sehingga terasa melelahkan tapi senang bisa melayani banyak orang dan bertemu dengan beragam karakter,” tuturnya

Kecerdasannya dalam menangkap pelajaran maupun ‘pesan’ yang tersirat dari setiap aktivitas yang dijalaninya membuat Christina suka pekerjaan di lapangan.Meski hanya bekerja selama enam bulan di Intercontinental Grup namun hampir semua bidang manajemen dan riset maupun operasional hotel di kuasainya.

“Saya jadi paham bagaimana menangani bidang property hotel maupun operasional seperti turun langsung di lounge atau restoran yang harus memiliki jiwa melayani. Saya juga pernah di bagian concierge sehingga harus punya pengetahuan A-Z karena kerap tamu-tamu hotel bertanya mulai dari tempat belanja, obyek wisata, cara ikut paket tour, tanya transportasi kota dan sebagainya,”

Di Jaringan hotel ternama di Singapura itu, Christina memang terpilih masuk Management Trainee yang menggembleng lulusan terbaru universitas untuk menjadi manager dalam waktu setahun. Selain paham masalah manajerial maupun riset, dia juga di rotasi untuk menduduki posisi ujung tombak ( frontliner) termasuk dalam hal Marketing & Communications. Belum cukup setahun, Christina meninggalkan karirnya di hotel dengan alasan kurang mendapat tantangan sehingga sejak November tahun lalu sudah mempersiapkan embrio situs wisatanya ini.

Seringnya berinteraksi dengan banyak orang dalam kehidupannya di asrama maupun di dunia kerja memberikan berkah tersendiri bagi Christina yaitu mudah berinterkasi dan memiliki empati yang tinggi terhadap orang yang kurang mampu baik secara financial maupun cacat mental. Sejak kecil dia juga kerap melihat aktivitas sosial dan ketekunan ibunya duduk berdoa secara khusuk dan rutin setiap hari bagi keluarga maupun orang lain.

Kepeduliannya itu juga buah dari pendidikan formal yang dijalaninya karena di sela-sela kesibukannya kuliah entrepreneurship di Stanford University, maupun di University of Southern California,AS. Dia masih mendulang ilmu pula di Marshall School of Business Los Angeles, mengambil gelar Bachelor of Science Degree in Business Administration dengan konsentrasi entrepreneurship dan occupational Science, mempelajari ilmu menangani anak-anak cacat mental.

Waktu libur dimanfaatkannya secara efektif untuk bekerja di Atwater Park Center, Los Angeles sebagai guru bantu. Dia membimbing sedikitnya 30 anak usia 1-3 tahun penderita autism & cerebral palsy untuk berlatih membaca, menulis, berhitung ( calistung) serta aktivitas therapy lainnya. Dia juga harus menyiapkan kegiatan sesuai kebutuhan mereka seperti dalam permainan pasir, melukis dan bermain dengan lilin.

Meski lahir sebagai keluarga berada dan cucu dari Benyamin Suriadjaja, adik dari taipan William Soeryadjaja pendiri Astra, Christina tampil bersahaja dan punya prinsip mandiri, berdiri diatas usaha sendiri seperti ketika mendirikan PT. Horizon Internusa Persada (Travelio.com) dengan teman-teman kuliahnya sendiri.

“Teman-teman yang menjadi mitra kerja saya yang mencari dana sebagai start-up untuk mendirikan Travelio.com. Perusahaan papa saya kan perusahaan publik jadi untuk menjadikan perusahaan kami sebagai bagian dari usahanya harus mendapat persetujuan banyak pihak dan ikuti prosedur perusahaan yang sudah go public,” tegasnya.

Di tangan Christina dan teman-temannya seperti Hendry Rusli sebagai Managing Director dan Furia Agustinus sebagai Finance Director dan Christie Tjong sebagai Co-founder dan Operations Director, Travelio.com membawa pengalaman offline tawar-menawar ke dunia online sehingga pengguna situsnya bisa memfilter hotel berdasarkan harga, star rating, lokasi spesifik

“Jadi kalau buka www.travelio.com bisa klik tawar sekarang dan masukkan harga. ada 3 skenario yang mungkin terjadi; 1. Penawaran otomatis ditolak kalau terlalu rendah; 2. Penawaran otomatis diterima; 3. Penawaran berada pada rentang “Manual Approve”. Nah di rentang terakhir inilah akan terlihat pengguna ini serius mencari harga yang diinginkan atau hanya sekedar window shopping (searching). Kalau serius dia harus menaikkan lagi harga tawaran sehingga terjadi transaksi,”

Menurut dia sistem tawar ini memberikan keuntungan bagi perhotelan untuk mengisi kamar hotelnya tetap dengan harga wajar. Bukan rahasia lagi, setiap malam banyak room night hotel-hotel berbintang lima sekalipun yang hilang percuma karena tidak terisi oleh tamu.

Lewat situs pemesanan kamar yang digagasnya ini sudah lebih dari 5000 hotel di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Hong Kong, Jepang, dan Korea Selatan bergabung dan bersedia menerapkan tarif sistem tawar sehingga bisnis mereka mampu berjalan lancar. Christina menyebutkan setiap hari konon transaksi dari bisnis online pemesanan kamar hotel yang dilakukan oleh perusahaan lain yang jadi pendahulunya bisa mencapai Rp 5 miliar.

“Di Indonesia masyarakat kelas menengahnya sudah diatas 50%, mereka suka travelling juga tapi baru sekitar 17% yang menggunakan internet. Jadi ada peluang besar untuk mendorong tumbuhnya netizen memesan kamar hotel secara online. Di sisi lain, pengelola hotel tidak perlu banting-banting harga namun pengguna masih mendapatkan harga di bawah tarif ritel,” jelas Christina.

Mendorong pergerakan wisatawan

Selain mendorong masyarakat Indonesia untuk berwisata di dalam negri, ke depan pihaknya akan menyediakan fasilitas lainnya di Travelio.com yang memungkinkan wisatawan dari mancanegara baik Free Individual Traveller (FIT) maupun group merencanakan perjalanan wisatanya ke Indonesia.

“Jadi kita akan menjaring inbound tour sebanyak mungkin karena di luar negri jumlah netizennya jauh lebih tinggi mencapai 50%-60% yang melakukan penetrasi ke dunia maya sehingga sebelum berwisata mereka bisa menciptakan paket wisatanya sendiri secara online asal kita mampu memberikan informasi dan fasilitas yang dibutuhkan secara mandiri,”

Berfikir Out of the box, tidak berhenti berinovasi dan fokus pada jasa pariwisata yang digelutinya membuat Christina semakin semangat untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata dunia. “Dulu waktu kuliah di Amerika, teman-teman tahunya Bali bukan Indonesia, jadi saya gemes pingin tunjukkan pada dunia bahwa Bali itu hanya satu daerah di Indonesia. Kita ini negara terbesar ke empat didunia,” jelasnya.

Christina mengaku justru karena sejak kecil sudah sering bertanding olah raga ke luar negri, berlibur ke lima benua dan banyak pengalaman menjadi turis maupun sebagai pengguna jasa pariwisata maka kini saatnya dia menciptakan produk-produk jasa yang mendorong pergerakan wisatawan di dalam maupun luar negri.

“Saya baru pulang dari World Entrepreneurship Event di Monte Carlo dua pekan lalu, banyak bertemu dengan pengusaha dunia seperti owner Twitter dan lainnya. Saya terpicu untuk menyiapkan layanan bergerak Apps dan inovasi lainnya,” tambahnya .

Ke depan, situs wisata yang dibangunnya ini bukan hanya untuk pemesanan kamar hotel tapi benar-benar dapat menjadi jendela wisata Indonesia yang menyediakan beragam informasi mengenai obyek dan destinasi wisata di Indonesia dan mampu menjaring kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

“Kalau mau ekonomi kita maju, giatkan inbound tour karena dari awalnya seorang turis, dia bisa  kembali ke Indonesia menjadi investor bangun infrastruktur, marina dan apa saja yang dibutuhkan. Percayalah pemerintah sudah tidak bisa mengandalkan sumber devisa dari minyak bumi, multiplier effect pariwisata dasyat dan bermanfaat  langsung  bagi rakyat,” ujarnya sambil mengakhiri pertemuan karena sore itu masih banyak pekerjaan menanti ( hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY