Cegah Wabah Difteri, Wisatawan Asing akan Divaksin

0
137

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Mencegah masuknya wabah penyakit difreti lebih parah lagi, Pemerintah mengkaji menerapkan outbreak response immunization (ORI) kepada wisatawan asing yang akan berkunjung maupun masih tinggal di Indonesia. Mengingat, wabah difteri bukan hanya menyebar di Tanah Air. Namun penyebaran penyakit serupa juga terjadi di India, Myanmar, Venezuela, hingga Bangladesh.

“Jadi kalau ada mereka yang datang ke Indonesia seharusnya kita tanyakan di pintu masuk bandara maupun pelabuhan laut, sudah diimunisasi atau belum?” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek usai menggelar rakor tentang wabah penyakit difteri di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (19/12/2017).

Pihaknya melakukan imunisasi ORI kepada anak sampai usia 19 tahun. Kemudian pada orang-orang yang berisiko, kepada tenaga kesehatan, TNI dan Polri juga orang dewasa juga harus diberikan pencegahan. Selain itu, memperhatikan masalah wabah difteri ini dalam sektor pariwisata.

Menurut dia, turis asing yang akan atau ada di Indonesia juga perlu divaksin. Namun hingga kini memang belum ditemukan wabah difteri dari kalangan wisatawan. Meski demikian langkah pencegahan terus digencarkan.

Hingga kini, sambung Menkes, tindakan ORI dilakukan di 20 kabupaten/kota yang ada di Indonesia.‎ Kemudian, langkah yang sama juga akan dilakukan di 70 kabupaten/kota lainnya dari berbagai provinsi dalam waktu dekat. “Sebenarnya, provinsi lain kan ada dinas kesehatannya, mereka sudah melakukan. Itu kita harapkan sudah bisa sekaligus. Sudah mulai dari sekarang,” tuturnya.

Menkes Nila melanjutkan, penanganan medis berupa imunisasi mencegah penyakit difteri harus dilakukan sebanyak tiga kali. Imunisasi tersebut dilakukan dalam rentang waktu selama satu bulan sekali, dan imunisasi terakhir dilakukan enam bulan kemudian. “Diingatkan ya, harus tiga kali. Tolong disosialisasikan. (Pertama) satu bulan kemudian dan enam bulan kemudian,” tukasnya.

Difteri adalah infeksi bakteri menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia.

Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP.

Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti: Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.

Juga, Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk. Bahkan Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Terkadang, difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Gejalannya, terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel. Demam dan menggigil. Sakit tenggorokan dan suara serak. Sulit bernapas atau napas yang cepat. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher. Lemas dan lelah Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit. (NDIK)

LEAVE A REPLY