“Catatan Edan”, Terinspirasi Menjadi Tahu

0
462

BALI, bisniswisata.co.id,- BUKU Hotelier Stories (HS) “Catatan Edan Penuh Teladan”, membuat orang terinspirasi,menjadi “tahu”, workshop atau training  menjadikan pembaca “bisa” meneladaninya,  karena pembaca  mendapat makna how- nya (bagaimana melakukannya—Red). HS merupakan ilustrasi realitas , papar konselor life strategy, hypnotheraphist Purnawan EA.

“ Yang saya tulis memang surface of the knowledge. Tidak menggali dalam karena sudah banyak ahlinya dan tidak menyentuh disiplin ilmunya,” jelas Jeffrey Wibisono V  penulis buku HS: “Catatan Edan Penuh Teladan” yang saat ini menjabat General Manager Alaya Resort Kuta.

Buku HS berbicara pengalaman sehari- hari pekerja dibidang jasa pelayanan wisata, terdiri dari  tujuh BAB dengan 35 judul unik, lucu dan nyeleneh bagi kebanyakan penikmat buku.

Sebagai ilustrasi realitas, buku HS menurut trainer bidang HRD dan motivator Purnawan EA, layak baca bagi semua orang. Khusus bagi kalangan HRD atau manajer pada program in house training diperusahaan, buku “Catatan Edan Penuh Teladan” ini, pantas dijadikan bahan lokarya, training membangun karakter karyawan.


Dari buku HS jelas Direktur Program dan Produksi Wellness World ini, dibuatkan hand-out per topik atau, topik utama sesuai judul BAB di buku HS, berisi ringkasan “ilmu”nya yang disusun secara sistematis. Termaktub didalamnya uraian, diskusi dan tugas bagi peserta

Purnawan mencontohkan buku 7 habits of highly effective people yang ditulis Dr Stephen Covey. Isi buku adalah ilustrasi realitas, dalam workshop masing- masing Bab dijadikan topik untuk dipelajari, sehingga “ bisa hidup” seperti pengalaman Stephen Covey.

“Buku HS sebagai bahan, disusun sylabusnya agar sistemastis”, tegasnya.

Dari “Catatan Edan Penuh Teladan”, menurut Purnawan,  pembaca menjadi tahu, sukses itu bukan hanya hokkie, tapi karakter seseorang sesuai atau tidak dengan lingkup kerjanya. Di Bab 1, — walau judulnya guyon –Prestasi Hasil Ingkar Janji—, pembaca menjadi paham mengapa Jeffrey, tanpa pendidikan di sekolah perhotelan Swiss kok bisa jadi GM?

Hotel adalah perusahaan yang jual layanan, Jeffrey sebagai pekerja dihadapkan pada berbagai keadaan. Bagi Jeffry, melayani dulu, bukan menuntut dulu. Untuk profesi ini perlu sikap mental melayani dulu ini lah yang diperlukan.  Kalau dasarnya Jeffrey ini lebih mengedepankan “hak” pasti sudah kandas, saat dia diminta kembali ke toko buku di Malang.

Jika seseorang ingin berkarir di Hotel, ya sikap mental itu yang didahulukan. Kalau belum punya (karena masih tebel sikap menuntut “hak” atau sikap “minta keadilan”) maka yang bersangkutan harus mawas diri, mau mengubah menjadi menomor satukan layanan atau nggak? Kalau ngggak ya udah jangan berkarir disitu cari karir lain, ungkap pak Pur —demikian dia suka disapa—.

Sikap mental ini mungkin sudah built in padaJeffrey. Nah, dalam training, sikap mental inilah yang dijabarkan sehingga orang tahu bagaimana supaya bisa menomor satukan layanan. Contoh, kalau tidak punya sifat melayani, saat mamie (ibunda Jeffrey) mengatakan “ojo adoh- adoh”, Jeffrey tetap akan berangkat ke Austin, jelas pak Pur.

Analisi pak Pur, Bab1 buku HS, jika dijabarkan dalam program training merupakan training pembentukan karakter insan perhotelan. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa mata kuliah character building, di dunia pendidikan kepariwisataan belum ada, sibuk dengan “kompetensi”, ungkap pak Pur dengan nada merendah sedih.

Bab- bab lain? Silahkan baca, analisis dan kemudian lihat mimpi anda. * Dwi,bisniswisata.co@gmail.com

LEAVE A REPLY