BVK Dipakai Banyak Negara untuk Strategi Persaingan Menjual Pariwisata

0
863
Agus Santoso kasubdit visa direktorat imigrasi, kemenkumham

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Bebas Visa Kunjungan (BVK) dipakai banyak negara sebagai strategi persaingan untuk menjual pariwisata. Sebab BVK memberikan kemudahan kepada wisatawan dengan tanpa ada hambatan biaya dan birokrasi, sehingga membuat nyaman perjalanan para turis asing itu untuk menuju destinasi wisata di suatu negara.

“Kebijakan BVK ini akan menguntungkan negara dalam meningkatkan devisa negara, namun dari sisi keimigrasian dapat berdampak pada pendapatan biaya administrasi Ditjen Imigrasi yang akan kehilangan sebesar Rp 1 triliun per tahun,” kata Kasubdit Visa Ditjen Imigrasi, Kemenkumham, Agus Santoso.

Karena setiap turis asing masuk ke Indonesia, lanjut dia, saat melalui pintu imigrasi harus membayar. Salah satu contoh untuk mendapatkan visa perjalanan bagi setiap turis asing harus membayar US 35 dolar. Dan visa ini diberikan kepada para turis dari negara-negara yang ingin berwisata ke Indonesia.

Tetapi dengan pemberian fasilitas BVK, tegas dia, turis asing yang masuk ke Indonesia tidak dikenakan biaya lagi. Sehingga pihak Ditjen Imigrasi tidak menerima pemasukan dari biaya administrasi bebas visa tersebut. “Bagi Ditjen Imigrasi tidak masalah akan kehilangan pendapatan Rp 1 triliun per tahun, demi mendukung target pencapaian 20 juta kunjungan wisman ke Indonesia,” ujarnya.

Agus mengatakan BVK merupakan bagian dari strategi persaingan yang diterapkan banyak negara dalam menjual pariwisata. Contoh di Thailand memberikan bebas visa kepada 56 negara dengan hasil pencapaian 24,8 juta turis pada 2014, Malaysia ada 164 negara bebas visa dengan jumlah turis menembus 27,4 juta, dan Indonesia dengan 15 negara bebas visa hanya dikunjungi 9 juta turis saja.

 

Melihat perbandingan jumlah kunjungan wisatawan di tiga negara ASEAN tersebut, menurut dia, maka kebijakan BVK yang diberikan kepada 90 negara dengan pencapaian target 20 juta wisman pada 2019 optimis bisa tercapai.

“Karena sejak Perpres No. 69 Tahun 2015 tentang BVK ini diberlakukan pada Juni 2015 lalu, dalam waktu satu bulan saja jumlah kunjungan wisman ke Indonesia naik 15 persen,” cetusnya.

Dalam BVK Tahap I dan II, kata Agus, diproyeksikan 20 persen atau sekitar 1,2 juta dari jumlah 6 juta kunjungan wisman. Karena itu, sebelum BVK tahap II diteken oleh Presiden Jokowi pada Januari 2016, maka BVK tahap I selayaknya dipromosikan secara gencar guna meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia.

Kasubdit Visa Ditjen Imigrasi, Kemenkumham, Agus Santoso, menjelaskan diterbitkannya Perpres yang menetapkan pemberian bebas visa kepada 90 negara, menunjukkan komitmen Presiden Jokowi ingin memprioritaskan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan.

“Dibuktikan dengan penerbitan Perpres No. 105 tahun 2015 tentang kunjungan yacht asing ke Indonesia yang menghapus ketentuan mengenai CAIT (Clearance Approval for Indonesia Territory) dan impor sementara. Ini memudahkan yacht  asing bisa memasuki wilayah perairan Indonesia cukup dengan pengurusan dokumen CIQP (Custom, Immigration, Quarantine, Port) di 18 pelabuhan saja,” ujarnya. “Kebijakan ini diproyeksikan untuk meningkatkan jumlah kunjungan yacht ke Indonesia hingga 6.000 yacht  pada 2019 yang bisa menghasilkan devisa USD 600 juta,” sambungnya.

Perpres No. 69 Tahun 2015 tentang BVK itu, lanjut dia, turis asing diberikan izin tinggal kunjungan untuk waktu paling lama 30 hari, dan tidak dapat diperpanjang atau dialih statuskan menjadi izin tinggal, seperti diatur bunyi 4 Ayat (1,2) dalam Perpres tersebut.

Dengan Perpres No. 69 Tahun 2015 ini, menurut Agus, maka Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2003 yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 43 Tahun 2011 dicabut, dan dinyatakan tidak berlaku.

Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 9 Pepres No. 69 Tahun 2015 yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly pada tanggal 10 Juni 2015 lalu. (ariefrmedia@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.