Bunker Nuklir, Daya Tarik Wisata Baru Jerman

0
716
Lokasi Bunker Nuklir Jerman dikunjungi wisatawan

BERLIN, test.test.bisniswisata.co.id: Wisata tak harus melulu menikmati keindahan alam, pantai, sungai, menikmati matahari terbit atau tenggelam, menyelam atau atraksi wisata lainnya. Ada kalanya mengunjungi tempat bersejarah, bisa menjadi aktivitas berwisata yang menyenangkan.

Seperti wisata bunker nuklir, yang tersembunyi di hutan yang bersebelahan dengan Ibukota Jerman. Bunker era Perang Dingin yang dulunya dibangun untuk menahan, melindungi serangan nuklir, sudah tak berfungsi sejak perang berlalu. Dan selama ini, bungker dibiarkan begitu saja. Kini disulap menjadi objek wisata baru di Berlin, Jerman.

Dilansir dari News, Ahad (16/11/2014) bunker seluas 83 ribu kaki ini memiliki tiga lantai yang dikenal dengan julukan Honecker di Bunker. Dibangun oleh seorang pemimpin komunis Erich Honecker untuk melindungi pasukannya dari serangan nuklir Soviet Barat.

Bunker ini merupakan salah satu bunker paling canggih yang dibangun antara 1978 hingga 1983. Berdiri di atas tumpuan 85 ribu beton bertulang, bangunan ini mampu menahan serangan kimia serta 1 mega ton bom atom, lebih kuat dibandingkan yang dijatuhkan di Hiroshima pada tahun 1945.

Sebelumnya, bunker ini pernah dibuka pada tahun 2008, dan menarik sekitar 20 ribu pengunjung dalam waktu tiga bulan. Kini, di hari jadi runtuhnya Tembok Berlin ke 25 tahun, bunker peninggalan Partai Komunis Jerman ini akan dibuka setiap hari untuk wisatawan asing maupun lokal.

Lokasi bunker ini, tersambung dengan Museum History of Berlin. Bunker ini diklaim bisa menampung 3 ribuan warga untuk berlindung dari serangan nuklir.

Untuk ke lokasi ini pengunjung mesti turun 5 lantai. Kemudian bertemu sebuah pintu baja. Ada sebuah shower di depan
pintu baja itu. Melewati pintu baja, suasana gelap menyambut. Penerangan hanya remang dari lampu berwarna biru yang nyaman. Masih ada ribuan tempat tidur bersusun.

Ada juga WC bagi perempuan dan pria, kemudian klinik, dan dapur umum. Ruang komunikasi, penyaringan oksigen, dan juga penampungan air tersedia. Ternyata, hingga selesainya dibangun, tempat itu tak pernah digunakan. Kini hanya menjadi tempat wisata, itu pun harus dengan pemandu karena tempat yang luas dan gelap bisa berbahaya bila tersasar. Luas tempat itu dua kali lapangan sepakbola.

Holger Happel, peneliti dan pimpinan grup wisata Berlin Unterwelten menjelaskan ketika negara Eropa Timur lain mengubah sistem politik mereka setahap demi setahap di tahun 1980-an, Jerman Timur tetap bertahan pada ajaran komunisnya dan menghabiskan banyak uang untuk membangun perlindungan perbatasan, bunker dan fasilitas militer.

Skenarionya ketika itu jika perang pecah dan Barat menyerang, East Germany’s National Defence Council akan menarik dire ke bunker setelah masing-masing anggota dibilas dari efek radioaktif dan materi kimia dalam bilik dekontaminasi.

Tinggal di bunker itu jika perang benar-benar meletus sebenarnya cukup aman. Mereka bisa secara mandiri bertahan hidup setidaknya selama dua minggu, menggunakan sumber air, listrik sendiri. Bahkan dengan pendingin ruangan dan persediaan makanan. Setelah dua minggu, diperkirakan kondisi bekas serangan nuklir atau atom bisa reda dan lebih aman untuk berpindah ke tempat lain dengan kendaraan bersenjata.

Honecker sendiri meninggal dunia pada tahun 1994 dalam pengasingan ke Chile. Dia hanya sempat sekali berkunjung ke bunker itu. Kunjungan itupun tak diketahui oleh orang-orang Jerman Timur. “300 tentara yang berpatroli tak tahu mereka mengarah kemana. Mereka hanya tahu mereka sedang mengawal sesuatu yang sangat penting, tapi mereka tak tahu siapa itu.” katanya.

Honecker bukan satu-satunya bunker yang dibangun. Di dekat kota Bonn, juga ada sebuah bunker yang sengaja dibangun untuk melindungi pemimpin Jerman Barat saat itu. Sejak dibuka untuk umum pada tahun 2008, bunker ini sudah menarik 80 ribu pengunjung tiap tahunnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY