BPS: Tingkat Hunian Hotel Berbintang Naik

0
2895

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: TINGKAT hunian kamar atau occupancy room rate hotel berbintang di Indonesia mengalami kenaikan yang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat tingkat hunian hotel berbintang mengalami kenaikan sebesar 7,12 persen dibandingkan Desember 2014 (year-on-year/yoy).

“Oocuancy room rate di hotel berbintang pada 27 provinsi di Indonesia pada bulan Desember 2015 mencapai 57,25 persen. Jumlah hunian ini meningkat dibanding tingkat hunian hotel berbintang Desember tahun lalu sebesar 50,1 persen,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (1/2/2016).

Menariknya, lanjut Suryamin, tingkat hunian hotel berbintang ini juga meningkat sesuai standar yang dimiliki oleh hotel berbintang. Semakin tinggi standar yang ditawarkan, maka semakin besar jumlah pengunjung pada hotel tersebut. “Ini unik. Semakin banyak jumlah bintangnya, semakin besar juga tingkat huniannya,” lontarnya.

Tingkat hunian pada hotel bintang satu mencapai 40,95 persen, sedangkan pada hotel berbintang dua tingkat hunian pada Desember 2015 mencapai 53,66 persen. Jumlah hunian juga meningkat pada hotel berbintang tiga sebesar 56,38 persen. Pada hotel berbintang empat, jumlah hunian semakin meningkat hingga 59,6 persen.

“Hotel berbintang lima justru mencatatkan kenaikan tersebar, yaitu sebesar 59,96 persen. Ini menarik juga. Ternyata wisatawan lebih memilih untuk menginap di hotel yang berbintang lima,” tukasnya.

Selama 2015, sebanyak 2.900 kamar hotel dibangun di Jakarta dari hotel bintang 3 sampai bintang 5. Harga kamar rata-rata untuk hotel bintang 3, bintang 4 dan bintang 5, masing-masing mencapai Rp410.800, Rp833.000 dan Rp1.848.000 per malam pada akhir 2015.

Sebaliknya, Riset yang dilakukan Cushman & Wakefield Indonesia mengemukakan bisnis perhotelan di Jakarta tahun 2015 terlihat lesu. Penyebabnya. Pertama, pertumbuhan ruang perhotelan yang tidak diikuti dengan pertumbuhan permintaan, menyebabkan industri perhotelan di Jakarta mengalami kelebihan pasokan.

Kedua, perlambatan ekonomi juga menyebabkan permintaan kamar hotel menurun. Ketiga, peraturan pemerintah yang melarang pegawai negeri untuk melaksanakan pertemuan atau seminar di hotel, juga turut memberikan dampak pada bisnis perhotelan.

Riset Cushman & Wakefield Indonesia menyebut, rata-rata tingkat hunian dari seluruh segmen pasar perhotelan diproyeksikan masih menurun, lantaran tingginya angka pasokan sejak 2012. Sementara, tingkat hunian hotel bintang 3, bintang 4, dan bintang 5 masing-masing sebesar 60,8 persen, 64,0 persen, dan 63,7 persen hingga akhir 2015.

Meskipun kondisi ekonomi kurang baik, industri perhotelan masih dianggap potensial oleh para pengembang. Hal ini dapat dilihat dari keputusan jaringan hotel untuk membangun hotel baru. Dengan estimasi sebanyak 3.300 kamar hotel yang akan terbangun, maka total pasokan hotel bintang 3 sampai bintang 5 di Jakarta akan mencapai 34.900 kamar hotel pada akhir 2016.

Adanya permintaan aktivitas MICE pada skala kecil dan menengah, mendorong para operator hotel untuk mempertimbangkan pengembangan hotel bintang 3 dan bintang 4. Pada 2016, hotel bintang 4 diperkirakan akan mendominasi pasar sebesar 38% dari total pasokan.

Sepanjang tahun 2016, Tingkat hunian untuk hotel bintang 3, bintang 4 dan bintang 5 diprediksi mencapai 60,2 persen, 60,3 persen dan 63,3 persen. Harga kamar diperkirakan akan tetap tumbuh sebesar 8 -10 persen, walaupun akan ada banyak pasokan yang masuk di 2016. (endy)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.