BPS: Masyarakat Sekarang Senang Leisure Ketimbang Beli Barang

0
54
Pesona alam Yogyakarta (Foto: .tripcanvas.co)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi masyarakat Indonesia kini berubah dari belanja barang-barang lebih kepada jalan-jalan (leisure) ke suatu daerah maupun ke luar negeri. Fenomena ini ditunjukkan dengan data-data indikator pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal III-2017 sebesar 4,93 persen secara tahunan (year on year). Realisasi ini melemah jika dibandingkan periode yang sama 2016, yakni 4,99 persen.

“Pelemahan konsumsi terjadi pada barang-barang konsumsi, seperti konsumsi makanan dan minuman yang melambat dari 5,01 persen di tahun lalu ke 4,93 persen di tahun ini, serta konsumsi pakaian yang turun dari 2,24 persen ke 2 persen,” ungkap Kepala BPS Suhariyanto di kantor BPS Jakarta, Senin (6/11/2017).

Dilanjutkan, justru pertumbuhan signifikan terjadi pada konsumsi kebutuhan untuk mengisi waktu luang (leisure). Misalnya, pertumbuhan konsumsi restoran dan hotel, rekreasi kecenderungannya semakin meningkat meskipun kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga belum terlihat signifikan sekitar 14 persen-15 persen. Juga pertumbuhan sektor transportasi dan komunikasi tumbuh ke posisi 5,86 persen.

Menurutnya, ini murni terjadi karena pergeseran pola konsumsi. Golongan usia produktif lebih senang membelanjakan uangnya guna mencari pengalaman ketimbang memiliki barang. “Bahkan adanya media sosial online yang menawarkan tarif wisata murah dan berpegaruh ke gaya hidup masyarakat, apalagi orang bisa menunjukkan pengalaman saat jalan-jalan. Nah, ini berpengaruh terhadap pergeseran konsumsi. Hasilnya, konsumsi untuk leisure naik dan konsumsi barang kebutuhan melemah,” jelasnya

Tren ini terlihat sejak kuartal III 2016. Fenomena ini terasa signifikan saat ini. Meski sumbangsihnya terhadap total konsumsi sepanjang kuartal lalu hanya kisaran 15 persen. Sehingga, hasilnya tak bisa menopang pertumbuhan konsumsi rumah tangga. “Kalau dilihat peningkatannya ya, sebenarnya tak besar-besar amat. Tapi, kami yakin pergerakan antar waktunya mungkin akan naik terus,” paparnya.

Berdasarkan pengamatannya, sebagian besar masyarakat yang menggeser pola konsumsinya ini merupakan masyarakat dengan pendapatan menengah ke atas. Bukan berarti sebagian porsi pendapatannya dihabiskan untuk menikmati waktu senggang. “Juga ada kecenderungan lapisan masyarakat menengah ke atas kini mulai menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung,” jelasnya.

Hal ini terlihat dari Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang berhasil dihimpun mencapai Rp4.236 triliun per Agustus 2017 atau meningkat 9,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya Rp3.858 triliun.

Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan ada tambahan kepemilikan efek individual. “Kalau pendapatan tetap dan tabungan bertambah, maka porsi untuk konsumsi juga berkurang. Ini yang mungkin mengakibatkan pertumbuhan konsumsi turun juga,” tutur dia.

Sekadar informasi, nilai konsumsi rumah tangga secara harga konstan di kuartal III 2017 tercatat sebesar Rp1.372,1 triliun atau naik 3,46 persen dari posisi tahun sebelumnya Rp1.326,5 triliun. Konsumsi menyumbang 55,68 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) atau turun dari periode yang sama tahun lalu 55,88 persen. (NDIK)

LEAVE A REPLY