Bisnis Perawatan Pesawat di Indonesia Diproyeksi Capai US$2 Miliar

0
326

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Potensi bisnis industri perawatan dan perbaikan pesawar (maintenance, repair and overhaul/MRO) di Indonesia dalam 4 tahun ke depan diprediksi meningkat menjadi US$2 miliar dari saat ini US$920 juta. Indonesia akan menjadi pertumbuhan industri MRO di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2022.

Dari total potensi tersebut, MRO dalam negeri hanya mampu menyerap 30% sedangkan 70% perbaikan dan perawatan pesawat masih dilakukan di luar negeri. Hal ini disebabkan keterbatasan kapasitas maupun kapabilitas MRO di Indonesia dan juga berbagai faktor lainnya seperti Pemodalan, SDM, knowledge, kawasan industri/Aerospace Park, serta ketergantungan pada komponen impor yang masih tinggi (98%), papar Menteri Perindustrian Saleh Husin pada Konferensi Aviation Maintenance Repair and Overhaul Indonesia (AMROI) ke-4 di Jakarta, Rabu (20/4/2016).

Dijelaskan, sejak peraturan pemerintah mengenai industri jasa penerbangan di Indonesia mulai dilonggarkan pada tahun 2000, pertumbuhan jasa penerbangan melonjak tajam satu dekade terakhir di Indonesia. Dimana sejumlah industri penerbangan bersaing ketat merebut pasar domestik dan regional.

Indonesia dengan jumlah penduduk 250 juta, dan wilayah mencakup sebaran + 17.000 pulau, membentang sepanjang 5.200 km dari timur ke barat dan 2.000 km dari utara ke selatan membutuhkan sarana transportasi udara untuk mendukung konektifitas antar pulau dan antar wilayah.

Hal ini, menjadi pasar yang sangat potensial bagi para investor dunia untuk membangun industri penerbangan di Indonesia, karena menawarkan kenyamanan dan waktu yang lebih cepat, dan tentunya Jasa penerbangan juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta memberikan multiplier effect bagi sektor ekonomi lainnya.

International Air Transport Association (IATA) memperkirakan jumlah penumpang udara nasional akan naik menembus angka + 270 juta penumpang pada tahun 2034 naik lebih dari 300% dibanding pada tahun 2014 dengan jumlah + 90 juta penumpang, dan diperkirakan Indonesia akan masuk 10 besar pasar penerbangan dunia pada tahun 2020, bahkan akan menjadi 5 besar dunia pada tahun 2034.

Di sektor tenaga kerja, Industri penerbangan global pada saat ini telah menyerap tenaga kerja + 58 juta orang dengan nilai ekonomi mencapai USD 2,4 triliun. Diperkirakan dalam 20 tahun ke depan industri penerbangan mampu menciptakan lapangan pekerjaan + 105 juta orang dan menyumbang USD 6 triliun terhadap PDB dunia.

Industri penerbangan nasional saat ini memiliki + 61 maskapai penerbangan niaga didukung oleh ± 750 pesawat, yang beroperasi terjadual dan tidak terjadual. Diperkirakan jumlah pesawat akan mencapai + 1.030 pesawat pada tahun 2017. Pesatnya pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia membuka peluang usaha pada industri MRO, dan ada tahun 2022 Asia- Pacific diramalkan menjadi pusat pertumbuhan MRO.

Dikatakan, Kementerian Perindustrian akan selalu memfasilitasi, berkembangnya industri MRO. Kami mengharapkan industri MRO semakin effisien dalam operasionalnya, dan mencari celah serta terobosan-terobosan baru, sehingga memiliki daya saing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan persaingan usaha yang semakin ketat.

Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam mengembangkan industri MRO kedepan, antara lain ketersediaan komponen pesawat. Untuk memenuhi kebutuhan Industri Pesawat terbang, Industri MRO dan Industri Jasa Penerbangan, Kementerian Perindustrian telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong berkembangnya industri komponen tersebut.

Hingga saat ini, lanjut dia, beberapa industri komponen telah tumbuh dan berkembang membuat komponen pesawat, yang tergabung dalam Indonesia Aircraft and Component Manufacturer Association (INACOM). “Kami mengharapkan Industri MRO, Industri Jasa Penerbangan, Industri Pesawat Terbang bekerjasama dengan INACOM dan memprioritaskan komponen yang diproduksi industri dalam negeri, sehingga akan menghemat Devisa dan turut mendorong tumbuhnya industri komponen dalam negeri,” ungkapnya.

Kedua, Keterbatasan SDM pada industri MRO . Keterbatasan tenaga teknisi penerbangan disebabkan sekolah-sekolah teknisi penerbangan di Indonesia masih terbatas hanya menghasilkan + 200 tenaga ahli/thn, jauh dari kebutuhan yang mencapai + 1.000 org/thn. Diperkirakan Indonesia akan membutuhkan 12-15 ribu tenaga ahli hingga 15 tahun ke depan.

Untuk itu Kementerian Perindustrian akan melakukan kerjasama/bersinergi dengan Kementerian terkait untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas SDM MRO. Dan juga memberikan dukungan melalui fasilitasi bagi peningkatan kemampuan dan kompetensi SDM kedirgantaraan nasional, agar memenuhi kualifikasi dan standar nasional dan international yang ditetapkan, jelasnya.

Ketiga, Pembangunan Aerospace Park. Pembangunan Aerospace Park atau kawasan Industri kedirgantaraan yang terintegrasi untuk mendukung industri kedirgantaraan dalam Negeri sangat diperlukan. Dalam Aerospace park tersebut terdapat Industri Pesawat udara, Industri Komponen Pesawat Udara, Industri MRO, Industri Jasa Penerbangan dan Industri pendukung lainnya, termasuk perguruan tinggi sebagai tempat pengembangan SDM Kedirgantaraan, sambungnya.

“Mengingat pentingnya kawasan tersebut, Kementerian Perindustrian bersama pelaku usaha Dalam Negeri akan mengkaji untuk mengembangkan kawaan Aerospace park,” tambahnya.

Ke-Empat. Insentif untuk peningkatan daya saing. Kementerian perindustrian sedang mengkaji dan mencarikan insentif guna meningkatkan daya saing industri Kedrigantaraan nasional agar industri tersebut dapat tumbuh dan berkembang serta menyerap pangsa pasar nasional dan Internasional. (endy)

LEAVE A REPLY