Bisnis MICE Berkembang, Pelaku Rindukan Kehadiran Direktorat Khusus Untuk Bersinergi

0
161

Meeting, Incentive, Convention & Exhibition merupakan bisnis yang memberikan multiplier effect yang besar ( foto; google)

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia terus mengembangkan industri Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE). Berbekal potensi aneka ragam budaya dan keindahan alam, Indonesia kini menjadi tujuan pelaku industri MICE kelas dunia, seiring dibangunnya berbagai infrastruktur pameran dan konferensi tingkat internasional.

“Indonesia sudah semakin diperhitungkan sebagai destinasi MICE dunia. Multiplier effect yang diciptakan dari kegiatan ini besar dengan 3S yaitu size marketnya lebar, sustainable growth-nya tinggi, dan spread labanya besar, “ kata Menpar Arief Yahya dalam berbagai kesempatan.

Karena itu, makin banyak kegiatan MICE, makin cepat industri dan turunannya berkembang. Sampai saat ini kesiapan Indonesia untuk menjadi tuan rumah beberapa event skala internasional juga makin diperhitungkan dunia international, tambahnya.

Tengoklah event enam tahun terakhir dimana sejumlah event utama berhasil digelar di antaranya ASEAN Summit pada 2011, ASEAN Tourism Forum pada 2012, APEC Summit pada 2013, WorldEconomic Forum in 2015. Ada juga 60th Commemorative Asian-African Conference pada 2015, dan World Islamic Economic Forum(WIEF) pada 2016.

Tahun depan sejumlah agenda besar juga akan berlangsung di Indonesia dengan menjadi tuan rumah the 2018 IMF-World Bank meeting pada Oktober 2018 di Bali dengan peserta mencapai 13.000 orang dari 189 negara.

Sedikitnya 30.000 orang diperkirakan akan berkunjung ke Bali pada Oktober tahun depan. karena selain peserta juga akan berpartisipasi pengamat internasional, akademisi, jurnalis, dan perwakilan LSM.

Event besar lain yang akan digelar yakni Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang yang diperkirakan akan dihadiri 15.000 atlet dan delegasi dari 45 negara anggota Olympic Council of Asia (OCA).

Pemerintah telah menempatkan MICE sebagai produk unggulan pariwisata nasional sebagai daya tarik wisatawan mancanegara. Bulan lalu Kementrian Pariwisata mempromosikan 16 destinasi wisata Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) dalam ajang IMEX Frankfurt pada 16-18 Mei 2017 di Jerman.

Sebanyak 16 destinasi MICE unggulan Indonesia dipromosikan yakni Jakarta, Bali, Surabaya, Medan, Batam, Padang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Makassar, Manado, Solo, Lombok, Bintan, Palembang, dan Balikpapan

Asisten Deputi Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Afrika Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Nia Niscaya mengatakan sebagai destinasi MICE utama, Jakarta dan sekitarnya dilengkapi dengan ruang pertemuan yang representatif di antaranya Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta International Expo (JIExpo), dan Indonesia Convention Exhibition (ICE).

Fasilitas ICE ini dibangun oleh kelompok usaha Kompas-Gramedia bersama Sinarmasland, lokasi yang tak jauh dari Jakarta dan dikelola bersama oleh pelaku usaha MICE asal Jerman, Deutche Messe AG.

ICE didesain sebagai pusat konvensi dan pameran terbesar dan terluas terbentang di area 220.000 m2 dengan 10 exhibition halls terdiri dari 50.000 m2, 4.000 m2 convention hall, 50.000 m2 ruang pamer outdoor, 12.000 m2 convenient pre-function lobby, dan 33 ruang rapat untuk rapat kecil ataupun besar. Fasilitas itu didukung kapasitas parkir mencapai 5.000 kendaraan.

Venue yang lain seperti JIExpo menawarkan area indoor yang fleksibel dari 2.000-4.000 m2 dan area outdoor hingga 60.000 m2 yang sangat sesuai untuk menjadi tempat ekshibisi, konser, dan konvensi.

Sedangkan JCC yang juga dikenal sebagai Balai Sidang Jakarta Convention Center berlokasi di kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang terdiri dari plenary hall dengan 5.000 kursi, assembly hall dengan area 3.921 m2, dan 13 ruang meeting dengan ukuran bervariasi.

Minat investor

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah, Tazbir mengatakan harapan Menpar Arief Yahya dengan makin banyak kegiatan MICE dan makin cepat industri dan turunannya berkembang terbukti seiring dengan tingginya minat investor untuk membangun fasilitas MICE yang baru.

Pemberitaan akan munculnya kota baru Meikarta dengan fasilitas MICE melebihi kapasitas venue yang ada marak di berbagai media nasional. “ Saya baru mendengar rencana swasta membangun kota baru berskala internasional dengan fasilitas MICE itu,” kata Tazbir ketika diminta tanggapannya.

Menurut dia, Setelah lokasi JCC di Jakarta Pusat, JIExpo di Utara dan ICE di Barat maka kalau terwujud fasilitas baru akan melengkapi kebutuhan meeting, incentive, convention and exhibition di kawasan timur Jakarta.

“Saya harapkan pengelola MICE nantinya mampu menciptakan event-event dan pro-aktif memanfaatkan jejaringnya yang ada sehingga untuk ibukota negara kegiatan MICE bisa diselenggarakan di segala penjuru,” kata Tazbir.

Wisnu Budi Sulaeman , SStr, CMMC, Kepala Bidang Pengembangan Industri Badan MICE, KADIN Indonesia mengatakan fasilitas konvensi dan pameran ( MICE) baru bukan jaminan Indonesia masuk peta dunia karena negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Pilipina dan negara Asean lainnya sudah lebih dulu memiliki badan khusus untuk menangani bidang ini.

“Dengan fasilitas yang ada sekarangpun kita seharusnya sudah bisa berjaya di bidang MICE asal diantara para stakeholders bisa bersinergi dengan solid baik pelaku bisnis pariwisata, asosiasi pariwisata (ASITA, PHRI, INCCA, ASPERAPI) , perguruan tinggi, media, dan Pemerintah untuk saling bergandengan guna meningkatkan daya saing industri MICE.

“Indonesia tahun 1990 an sebenarnya sudah memiliki Direktorat MICE, namun kini Kemenpar baru terfokus pada marketingnya jadi baru promosi justru yang lebih menonjol ketimbang memberikan kualitas pelayanan terbaik,” ungkap Wisnu Budi Sulaeman.

Menurut dia, untuk menjaring sebanyak mungkin wisatawan asing maka pemerintahnya harus serius dan fokus menggarap MICE market yang karakteristiknya sangat berbeda dengan Leisure Tourism. Hal ini disebabkan dari satu event saja bisa menjaring 10.000 -30.000 peserta serta besarnya dampak berganda yang diciptakan.

“MICE adalah business tourism yang memerlukan treatment yang sangat berbeda dengan leisure tourism. Jika di akhir tahun 2019 diharapkan RI dapat menjaring 20 juta wisman maka perlu diadakan restrukturisasi di Kementerian Negara Pariwisata dengan memfasilitasi Stakeholder MICE lewat pembentukan Direktorat/Deputi Bidang MICE yang tidak perlu dirangkap oleh Deputi Bidang2 lain,” tegasnya.

Wisnu mengatakan delegasi MICE datang sesuai kepentingan profesi dan business masing-masing. Jika profesional conference organizer sebagai pelaksana kegiatan membuat pre dan post tour maka hal itu adalah ‘bonus’ tambahan bagi industri pariwisata.

“ Jadi intinya kualitas pelayanan yang bisa meningkatkan daya saingnya di samping produk. Kalau sibuk berpromosi tapi masalah SDM yang jadi ujung tombak terabaikan bisa jadi bumerang padahal kepercayaan dunia intenasional untuk menjadikan Indonesia destinasi MICE sudah tumbuh,” ungkap Wisnu Budi Sulaeman.

Pelaku MICE yang sudah puluhan tahun membangun bisnis ini di tanah air menjelaskan bahwa tugas pokok dan fungsi Deputi Bidang MICE antara lain membina pelaku industri terkait MICE.

Pembinaan Sumber Daya Manusia ( SDM ) dan pembinaan 16 destinasi prioritas MICE agar memberikan pelayanan terbaik menjadi prioritas. Direktorat ini juga diharapkan memiliki bidang hubungan antar kelembagaan dan kerjasama yang menyatukan asosiasi profesi, asosiasi industri dan perguruan tinggi baik di dalam dan luar negri.

“Kehadiran Direktorat MICE diharapkan mampu membuat strategi pemasaran dan teknik promosi yang jitu. Selain juga melakukan perekaman dan pelaporan data secara online tentang kegiatan MICE di 16 destinasi utama”, tandasnya.

Kemampuan mengolah dan menganalisa data yang valid, akurat dan akuntabel terkait kota dan nama venue kegiatan, nama dan cakupan kegiatan, jumlah dan asal negara dekegasi, lama kegiatan, luas lagan pameran yang digunakan, luas lahan pameran yang digunakan, transaksi hingga jumlah turis asing

Pria yang juga anggota Tim Percepatan Wisata MICE Kemenpar ini menjelaskan perlu ada firum komunikasi antara para stakesholder dan Menpar Arief Yahya sehingga masalah krusial bisa diatasi.

“Menpar harus duduk bareng dengan pelaku MICE dan meyakinkan pemerintah untuk bisa melakukan bidding ( penawaran) untuk event-event dunia,”

Untuk itu penggunaan uang negara dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bidding. Rupanya selama ini aturan yang berlaku baru sebatas mempromosikan MICE itupun karena tidak ada Direktorat MICE di Kemenpar maka program promosipun dititip-titipkan di bidang promosi dalam dan luar negri.

“Kami senang dan sambut baik adanya fasilitas-fasilitas baru MICE di ibukota maupun destinasi unggulan lainnya. Namun masalah-masalah dasar terutama pembinaan SDM menjadi prioritas disamping goodwill memiliki biro konvensi nasional yang menangani MICE satu atap,” kata Wisnu Budi Sulaiman. Nah tunggu apalagi ?. Ayo total action .( Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY