‘Bidik Generasi Milenial Belanda Untuk Tingkatkan Kunjungan Ke Indonesia ‘

0
51

William Satriaputra( kiri) di depan Kincir Angin Belanda

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Indonesia perlu membidik kalangan muda ( milenial) Belanda dengan destinasi digital sehingga mampu mendongkrak kunjungan wisatawan Belanda ke Indonesia di atas angka satu juta orang, kata William Satriaputra, Finance and Business Executive sebuah perusahaan World Class di Belanda, hari ini.

Sentimental journey dengan memories tidak bisa dijadikan harapan untuk menjaring turis asal Belanda lagi. Meski RI selama 350 tahun pernah dijajah Belanda,  generasi lama sudah menipis jadi bidiklah generasi muda yang kerap disebut generasi milineal atau Kid Zaman Now “ kata pria Indonesia yang puluhan tahun tinggal di Belanda ini.

Hal ini diungkapkannya berkaitan dengan kegiatan Misi Penjualan (sales mission) Destinasi Wisata Prioritas Mandalika di Belanda oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada tanggal 30 Mei–5 Juni 2018 lalu.

“Kami warga Indonesia di Belanda mendukung adanya kegiatan promosi pariwisata Indonesia di Belanda seperti di Vacantiebeurs, Pasar Malam Tong-tong dan event lainnya “ kata William Satriaputra yang akrab disapa Willy.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya yang membawahi pasar Belanda dalam rilisnya mengatakan kegiatan sales mission berlangsung di dua kota besar Belanda yaitu Amsterdam dan Eindhoven.

Sales mission tidak hanya sebagai upaya mengejar target 225.000 wisman dari Belanda ke Indonesia tahun ini,  namun sekaligus meregenerasi pasar tradisional,” kata Nia Niscaya.

Hal menarik dari rangkaian sales mission kali ini adalah diangkatnya destinasi Mandalika dan sekitarnya sebagai daerah pariwisata prioritas ( DPP). Pemerintah tengah fokus pada 4 DPP, yaitu Danau Toba, Borobudur,  Labuan Bajo dan Mandalika sebagai “Bali Baru”

Menurut Willy, secara umum wisatawan Belanda memang lebih mengenal Bali di banding Indonesia sehingga konsentrasi terbesar turis pada tempat ini. Pergeseran destinasi ke Lombok sebagai “Bali Baru” dan ke tempat lain diyakininya perlu waktu lama.

Seperti diketahui analisa outflow wisatawan Belanda menunjukkan tujuan wisata mereka tetap negara-negara di Eropa , terutama kecendrungan saat ini banyak yang senang mengunjungi negara-negara di Eropa Timur.

“Tujuan wisata orang Belanda yang ke  Prancis, 2.2 juta orang, Jerman, 2.1 juta orang, Spanyol, 1.7 juta orang, ke Itali, 1.1 juta orang, ke  Austria, 1 juta orang, Belgia sekitar 600 ribuan orang, Yunani, 500 ribu, ke Inggris ( UK) 500 ribu, Turki, 480 ribu orang dan ke Portugal 460 ribu orang,” kata Willy yang juga ketua berbagai organisasi di Belanda.

Belanda dikenal dengan taman bunganya yang indah terutama Tulip.

Eksekutif di LyondellBasell yang pernah memimpin Samsung Electronics kawasan Eropa ini menambahkan bahwa wisatawan Belanda mempunyai kriteria tersendiri dalam berlibur. Destinasi yang dipilih harus friendly untuk keluarga termasuk anak anak dan disables,harga terjangkau dan perhitungkan jarak tempuh.

“Itu sebabnya berlibur lebih banyak ke negara tetangga seperti Jerman,  Itali , Prancis , Turki , Spanyol dan Portugis karena disamping lebih dekat dan disana ada segalanya. Kalau ke Asia pilihannya Thailand, Jepang, Hong Kong, Korea dan Vietnam  sehingga Indonesia harus menawarkan produk yang unggul dan variatif untuk mensiasati persaingan ketat,”

Willy yang aktif menimpin Komunitas Persatuan Pemuda Muslim Se-Eropa, Indonesia Integrated dan sebagai  Ketua Forum Komunikasi Alumni( FKA) ESQ Eropa, Timur Tengah dan Afrika ini mengatakan melalui beragam aktivitasnya juga aktif mempromosikan pariwisata Indonesia.

Lebih dari 80% penduduk Belanda suka berlibur. Oleh karena itu warga Indonesia di Belanda kerap menjadi volunteer untuk kegiatan  mempromosikan pariwisata. Mereka yang rutin pulang ke tanah air minimal satu tahun sekali akan menginformasikan destinasi baru pada komunitas Belandanya.

“Warga Belanda saat musim panas yang juga liburan sekolah akan berwisata memanfaatkan libur panjangnya. Jumlahnya  saat high season bisa mencapai  lebih 10 juta orang. Kalau musim dingin juga berlibur tapi cuma sekitar 4 juta orang. Musim libur lainnya adalah menjelang akhir tahun tapi hanya libur pendek,” kata Willy.

Alumni University of Derby, Avans University dan The Hague University ini menambahkan selama puluhan tahun berpromosi di Belanda dengan hasil kunjungan masih di angka 200 ribuan maka sebaiknya Kemenpar fokus pada pasar milenial Belanda.

“Aktif promosikan destinasi digital  andalan yang heboh di dunia maya, viral di media sosial dan nge-hits di Instagram. Temukan cara-cara baru untuk merebut hati wisatawan Belanda sehingga lebih banyak yang mau datang ke Indonesia,”

Data Kementrian Pariwisata RI menunjukjan jumlah kunjungan wisman Belanda ke Indonesia tahun 2017 sebanyak 205.844 atau meningkat 2,82% dibanding tahun 2016 sebanyak 195.463 wisman.

Sementara pada Januari hingga Maret 2018 tercatat sebanyak 37.395 wisman atau mencapai 16,62% dari target wisman Belanda yang tahun ini ditetapkan sebanyak 225.000 wisman.

 

LEAVE A REPLY