Berwisata di Pantai Parangtritis, 661 Wisatawan Tersengat Ubur-ubur

0
1754
Korban sengatan ubur-ubur beracun belum tertangani. (Foto: www.lintas.me)

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: MENYEDIHKAN disaat menikmati liburan Lebaran, justru petaka datang menyerang. Sedikitnya 661 wisatawan nusantara menjadi korban sengatan ubur-ubur atau impes, saat berwisata di pantai selatan Parangtritis Yogyakarta. Diprediksi jumlah korban grafiknya terus bertambah. Mengingat, banyak korban yang tak melapor dan tak mau datang ke posko kesehatan yang disediakan.

Meski ada posko, namun petugas sekaligus persediaan obat sangat terbatas. Sehingga wisatawan yang tak sabaran, langsung ngacir untuk mencari solusi pengobatan lainnya.

“Hingga Senin korban yang sudah melaporkan tercatat 661 orang wisatawan nusantara. Jumlah ini terus bertambah. Mengingat
jumlah wisatawan yang datang terus bertambah,” papar Rio Pradana, anggota Search and Rescue Perlindungan Masyarakat (SAR Linmas) Pantai Parangtritis dalam keterangannya, Selasa (21/07/2015).

Para pelancong yang terkena sengatan ubur-ubur, sambung Rio, tersebar di sepanjang pantai yang berjarak 27 kilometer sebelah selatan Kota Yogyakarta.

Dari perhitungan SAR bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan Dinas Kesehatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah korban tercatat 661 orang. “Hari Jumat itu ada 37 orang, Sabtu ada 3 orang, Minggu ada 198 orang dan hari Senin 661 orang,” sambungnya.

Dijelaskan, SAR selalu mengimbau kepada wisatawan agar tidak mandi di laut, karena saat sedang musim ubur-ubur beracun. Namun peringatan melalui pengeras suara tidak pernah dihiraukan. Akibatnya korban yang mandi menjadi korban sengatan ubur-ubur, yang kebanyakan anak-anak dan ibu-ibu yang tersengat. “Mereka mengeluhkan panas. Malah ada dua ibu pingsan,” ungkapnya.

Wisatawan yang terkena sengatan ubur ubur beracun pada kaki, tangan, punggung dan tubuhnya. Korban langsung diberi cuka sebagai penanganan awal. “Kita siapkan cuka tadi sebagai awal. Tapi enggak ada yang dibawa ke rumah sakit.” tambahnya.

Data SAR Baron melalui akun @Sarsatlinmas menyebutkan update jumlah wisatawan yang terkena impes. Rincinya di Pantai Kukup 70 orang, Pantai Sepanjang 81 warga, Pantai Drini 17 pelancong, Pantai Krakal 4 orang, Pantai Nguyahan 31 warga, dan Pantai Sadranan 1 wisatawan. Total ada 204 orang yang terkena sengatan ubur-ubur di Gunungkidul. Wisatawan pun diminta berhati-hati jika berlibur ke pantai selatan Yogyakarta.

Jumlah korban sengatan ubur-ubur beracun mengalami kenaikan jika dibandingkan pada Lebaran tahun sebelumnya. “Kenaikannya bisa meningkat 300 persen,” tambahnya.

Koordinator SAR Linmas Korwil II Gunungkidul, Marjono mengatakan wisatawan yang tersengat ubur-ubur di Gunung Kidul mencapai 158 wisatawan. Bahkan saat ini SAR Linmas Pantai Korwil II Gunungkidul mulai kehabisan stok obat-obatan untuk penanganan korban.

Pada saat penyelaman, kerumunan ubur-ubur itu sedang berpindah beramai-ramai dari sisi timur danau ke sisi barat. Serangan ubur-ubur beracun paling banyak terjadi di Pantai Sepanjang. Namun pantai lain juga terjadi wisatawan yang tersengat ubur-ubur. “Terjadi di Pantai Kukup, Krakal dan Pantai Pulang Sawal atau Indrayanti, tapi paling banyak di Pantai Sepanjang,” beber dia.

Marjono mengaku sudah memberikan peringatan larangan mandi di pantai, karena saat ini di bulan Juli sampai September merupakan musim ubur-ubur bermigrasi di sekitar pantai. Sayang, larangan itu tak pernah diindahkan. “Kita sudah menyadari bahwa datang ke pantai jika tak berenang, main air dan mandi memang kurang afdol, tapi inilah resiko yang dihadapi,” paparnya.

Selain itu, tambah dia, wisatawan banyak yang menganggap ubur-ubur tidak berbahaya, biasanya mereka pegang karena bentuknya lembek dan berwarna biru. “Tapi jika sudah ada yang kena baru mereka sadar,” ujar Marjono seperti diunduh laman Liputan6.com.

Marjono menyebut jika sengatan ubur-ubur dapat membuat kulit panas seperti terbakar. Sengatan ini dapat diobati menggunakan alkohol dan amoniak. Namun saat ini stok alkohol dan amoniak di tempatnya sudah menipis.

Sekitar 5 Liter alkohol dan 15 botol kecil cuka sumbangan puskesmas mulai habis. Sementara swadaya SAR sebanyak 5 liter juga sudah hampir habis. Akibatnya dari 158 pengunjung beberapa di antaranya harus dilarikan ke Puskesmas Tepus. “Kita mendapatkan alkohol dari Puskesmas Tepus, untuk yang kita ajukan ke pemkab belum ada,” pungkas Marjono. (*)

LEAVE A REPLY