Berkunjung ke Provinsi Ningxia, Melongok Wuzhong Muslim New Village

0
98

Wilayah provinsi Ningxia kaya dengan obyek wisata seperti gurun pasir, Sungai Kuning atau Hwong Ho dan Wuzhong Muslim New Village. ( foto ICT )

WUZHONG, NINGXIA, bisniswisata.co.id: Tak terasa sudah memasuki hari ke lima dari perjalanan tour Inner Mongolia bersama rombongan dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia ke wilayah China Utara dibawah konsorsium Grand China Travel dan IslamiChina Travel.

Lima hari berada di tiga provinsi sekaligus memang perjalanan panjang di tunjang bis yang lux dan supir handal serta jalan bebas hambatan melalui sejumlah kota. Petualangan seru ini masih ditambah dengan pengalaman berinteraksi dengan 120 teman seperjalanan mulai dari usia anak-anak hingga peserta lanjut usia

Chang, guide lokal yang menemani kami selepas dari Ordos, pintu gerbang ke wilayah Utara China ini menyebutkan akhir kunjungan tour hari ini adalah ke kompleks perumahan Suku Hui di salah satu sudut Kota Wuhzong, Provinsi Otonom Ningxia.

Kehidupan suku minoritas muslim di tengah 90% masyarakat Suku Han yang beragama Budha, ditambah penjelasan Chang bahwa Suku Hui diyakini sebagai keturunan para pedagang Arab membuat saya menghayal di dalam bis seperti memasuki lorong waktu.

Warga suku Hui beraktivitas di luar rumah.

Suku Hui 

Leluhur Suku Hui datang ketika perdagangan di Jalur Sutera ( Silk Road) berlangsung sejak tiga abad sebelum Masehi. Sebagian pedagang Arab yang tidak kembali ke kampung halamannya kemudian bermukim dan menikahi warga setempat. Dari merekalah agama Islam kemudian berkembang di Ningxia.

Mengikuti  arus perdagangan Jalur Sutera, agama Islam juga berkembang di Xian, Gansu, dan terbesar di Xinjiang, provinsi paling barat China. Saya jadi teringat pelajaran sejarah saat masih di sekolah dasar.

Adalah ayah saya sendiri Haji Abdul Kadir Sabri yang bercerita atau saat ikut TPA, guru-guru kami di Mesjid Agung Al-Azhar sekitar 1970 fasih bercerita sejarah Islam. Saat mereka bercerita sejarah Islam saya kerap duduk dengan melongo dan menyimak karena sangat suka cerita sejarah.

Banyak versi yang ditulis dalam buku-buku sejarah namun salah seorang kerabat Rasul bernama Sa’ad Ibnu Abu Waqqash adalah salah seorang yang membawa Islam ke daratan China.

Sa’ad adalah orang ketiga yang memeluk Islam saat umur 17 tahun dan yang pertama melepaskan anak panah di jalan Allah alias ikut berperang dan menegakkan agama Islam.

Ibunya tidak merestui Sa’ad masuk Islam dan hingga kini bagi umat Islam beliau dikenal sebagai pemilik doa-doa mustajab karena selalu mendoakan ibunya agar mendapat hidayah Allah SWT.

Sa’ad lahir di Makkah pada tahun 595 M. Beliau adalah paman Rasul dari pihak Ibu. Kakek beliau, Wuhaib adalah paman Aminah, Ibu Rasul.

Saad bin Abi Waqqash, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M datang ke China dari Abessinia atau yang sekarang dikenal dengan Ethiopia.

Dia mengikuti rute Jalur Sutra hingga tiba di Guangzhou, pesisir selatan China. Setelah kunjungan pertamanya ke China dan kembali ke Arab maka 21 tahun kemudian atau pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Saad datang lagi dengan membawa salinan Al Qur’an ke China.

Kisah sejarah ini klop dengan keterangan dari Chang bahwa Suku Hui adalah salah satu suku dari lima suku terbesar di Republik Rakyat Tiongkok ( China) yang berpengaruh dari total 56 etnis suku yang ada.. Suku ini memeluk agama Islam dan tersebar di hampir seluruh provinsi di Tiongkok, namun terkonsentrasi di Ningxia, Hainan, Gansu, Yunnan dan Qinghai.

Musa, supir bis dari suku Hui yang beragama Islam

“Ningxia adalah otonomi khusus untuk suku muslim Hui. Hal ini juga termasuk kebijakan di sekolah-sekolah. Karena saya lahir di Ningxia yang mayoritas muslim jadi waktu duduk di sekolah dasar saya suka ngiri teman-teman muslim saya libur saat bulan Ramadhan,” kata Chang yang menjelaskan bahwa mereka sekolah bersama di sekolah umum.

Chang kecil juga sudah paham bahwa teman muslimnya punya perayaan besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha dan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dia juga menjelaskan bahwa supir bis yang selama 9 hari membawa kami ke berbagai provinsi di China Utara ini juga berasal dari suku Hui bernama Musa.

Sungai Kuning 

Perjalanan pikiran saya menembus lorong waktu berhenti ketika guide utama kami, Caca menghimbau rombongan untuk bersiap-siap singgah di tepi sungai Hwang Ho atau yang sekarang disebut Huang He  atau disebut  the Yellow River ( Sungai Kuning).

Pose di pinggir sungai Hwang Ho ( foto; Andika)

Sungai ini sering diasosiasikan dengan naga, sebuah kiasan tidak hanya saja karena berliku-liku, tetapi juga dengan alam yang tidak terkendali seperti mendatangkan banjir hingga manfaatnya yang menyuburkan daerah sepanjang sungai .

Tidak tanggung-tanggung karena sungai Hwang Ho memiliki panjang 5.464 km, terpanjang kedua di Tiongkok setelah Sungai Panjang (Yang Tse ) dan mengalir melalui sembilan provinsi di China dan bermuara ke Laut Kuning.

Sungai ini bersumber dari Pegunungan Kwen-Lun di Tibet dan mengalir melalui daerah Pegunungan Cina Utara hingga membentuk dataran rendah dan bermuara di Teluk Tsii-Li, di Laut Kuning tadi.

Pantas saja  sepanjang perjalanan yang melalui berbagai kota dan provinsi, Chang selalu menunjuk sungai Hwang Ho. Rupanya karena panjangnya ribuan kilometer dan disebut juga Sungai Kuning karena membawa lumpur kuning sepanjang alirannya.

Sungai ini juga dikenal sebagai sungai paling berlumpur di dunia dan lumpurnya merupakan tanah yang subur, karena banyak mengandung zat organik dan anorganik di dalamnya.

Konon dari penelitian para ahli maka lumpur yang mengendap di lembah sungai itu berasal dari tanah loss Gurun Gobi yang diterbangkan angin dan terbawa air sampai ke lembah sungai Hwang Ho dan berwarna kuning.

Bis berhenti di tepi jalan raya dengan gerbang khas China. Turun di kelilingi jajaran pohon setinggi dua meteran yang daunnya semua sudah berguguran sehingga yang terlihat batang-batang pohon yang polos dan cabangnya meliuk-liuk.

Daun-daun berserakan disepanjang jalan menuju bangunan berbentuk tetesan air berwarna biru di tepi sungai Hwang Ho. Rombongan langsung menyebar untuk berpose di spot yang instagramable tentunya.

Menurut Chang, bagian hilir dari Sungai Kuning, terdapat dataran rendah China yang subur dan merupakan pusat kehidupan bangsa China. Masyarakat umumnya bercocok tanam gandum, padi, teh, jagung, kedelai dan gandum.

Selama 20 menit singgah, bis bergerak lagi ke tempat lainnya di tepi sungai ini. Hanya saja kali ini banyak yang bisa dilihat karena ada keindahan karya seni seperti gapura megah dan bangunan pagoda seperti di Pulau Kamaro, Palembang.

Dari parkiran kami berjalan menuju gerbang yang megah dan melewati kiosk pedagang. Tiba di bawah gapura sebenarnya bisa melanjutkan menyebrang melewati jembatan ke pagoda. Namun hari itu akses tertutup sehingga cukup berfoto ria dari jauh.

Pintu gerbang tepi sungai Hwong Ho

Konon dari lembah sungai yang subur inilah kebudayaan bangsa China berawal. Pada tahun 2500 SM tumbuh peradaban manusia didukung oleh bangsa Han yang merupakan campuran ras Mongoloid dengan ras Kaukasus.

Selain berupa sastra, kebudayaan Cina yang muncul dan berkembang di lembah Sungai Kuning adalah seni lukis, keramik, kuil, dan istana. Perkembangan seni lukis terlihat dari banyaknya lukisan hasil karya tokoh ternama yang menghiasi istana dan kuil.

Kampung Muslim Suku Hui

Suasana perkampungan muslim suku Hui

Mampir dan foto-foto sambil singgah ke toilet kami melanjutkan pejalanan ke kota Wuzhong karena tujuan utama dari tour hari ke lima ini adalah berkunjung ke Wuzhong Muslim New Village. Berinteraksi langsung dengan penduduk dari Suku Hui dan bersantap malam di rumah mereka.

Pertemuan ini juga sudah saya tunggu-tunggu malah ada sedikit oleh-oleh berupa jilbab untuk saudara muslim di perkampungan ini yang saya beli di pusat grosir Thamrin City, Jakarta.

Sebelum turun dari bis menjelang magrib, Caca justru mengingatkan untuk buru-buru berfoto ria di kawasan parkir yang dilengkapi taman dengan sebuah cangkir teh rakrasa serta bangunan-bangunan kecil berbentuk kubah mesjid.

Bersama Guo Ca wu , 43 tahun, ketua Suku Hui sekakigus pemilik restoran di Whuzong Islamic Village

Perumahan khusus Muslim yang disebut Wuzhong Muslim New Village itu sengaja dibangun sebagai bentuk perhatian Pemerintah Provinsi Ningxia kepada penduduk asli suku Hui yang umumnya beragama Islam.

Kompleks perumahan penduduk beragama Islam itu sekaligus menjadi salah satu obyek wisata khas Ningxia. Turis dari sejumlah negara dapat melihat langsung kehidupan mereka, berwisata kuliner dan belanja souvenir cukup di satu tempat.

Melewati pintu masuk kami bertemu seorang pria tua memakai kopiah. Melihat kami datang masuki kompleks perumahan, muncul seorang wanita setengah tua menggendong anak bayi umur setahunan. Kami menyapa dengan mengucapkan “ Assalamualaikum” atau lengkapnya Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam dalam Bahasa Arab ini digunakan oleh kultur muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang dapat merekatkan Ukhuwah Islamiyah umat muslim di seluruh dunia. Untuk yang mengucapkan salam, hukumnya adalah Sunnah Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya dengan Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.

Salam ini merupakan doa Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah kepada kalian dan jawabannya semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah juga kepada kalian.

Perkampungan yang hanya memiliki satu jalan utama ini langsung menyita perhatian saya. Pintu gerbang di setiap kluster seragam berwarna hijau. Kami berjalan ke ujung dan bertemu seorang anak perempuan usia SD yang baru pulang les bahasa Inggris.

Saya lalu menyapa seorang wanita yang berjualan di halaman dan mengintip isi rumahnya sambil mengacungkan jempol. Senangnya melihat kehidupan sehari-hari secara langsung dari penghuninya dan di sambut ramah sebagai saudara muslimah.

Di perumahan ini tinggal sekitar 300 orang muslim suku Hiu. Pendidikan generasi muda menjadi prioritas karena sebagai minoritas di Provinsi Ningxia, mereka ingin maju.Sejumlah mobil niaga dan mobil sedan parkir di jalan utama perumahan ini menandakan kemakmuran yang telah mereka nikmati.

Dari jauh saya melihat Chang mengibarkan bendera kecilnya saat memandu. Kalau chang tidak berdiri di situ saya akan bingung kluster mana yang harus saya datangi untuk makan malam bersama.

Rombongan berfoto dengan keluarga Guo di Lapak oleh-olehnya

Disambut Guo Ca wu , 43 tahun, sang kepala suku di perkampungan itu, kami langsung menghadapi meja penuh dengan aneka masakan halal termasuk menu kambing domba. Ada kue manis untuk penutup dan secangkir teh rempah-rempah yabg isinya termasuk korma dan buah goji berry.

Guo bercerita perkampungan muslim ini dibangun dan diresmikan pemerintah tahun 2007. Banyaknya wisatawan yang datang akhirnya menbuatnya memutuskannya menjadikan rumahnya menjadi restoran pada 2011.

Ada sedikitnya enam ruangan dan dapur besar di klusternya itu. dan dalam setiap ruangan makan juga tersedia ruang shalat dan pojok souvenir berisi kopiah khas muslim China, berbagai kemasan racikan teh, cangkir-cangkir teh dari porcelain dan aneka makanan lainnya.

Selesai makan Guo dibantu sejumlah asistennya terdiri dari istri serta saudara-saudara perempuannya melayani tamu-tamunya yang membeli oleh-oleh di lapak halaman. Melihat saya keluar dari ruang makan dia langsung memberikan oleh-oleh jilbab yang saya serahkan sebelumnya ketika baru datang pada para asistennya.

Jadilah acara sebelum ke hotel adalah tutorial menggunakan hijab ala kaum muslimah di Indonesia. Guo Ca wu dan keluarga besarnya gembira setelah acara tutorial itu. Peserta lainnya Henny Hayatie Djunaid dari Razek Tour mengajaknya ikut ke bis karena ada hadiah sarung Makasar untuk Guo.

Kami berpisah di area parkir dan tak sampai 30 menit bis tiba di kota Yinchuan, ibukota provinsi Ningxia yang menjadi daerah otonomi bagi suku muslim Hui ini. Kami bisa beristirahat selama dua malam dan besok bisa mengunjungi pusat kebudayaan Islam di kota Yinchuan.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY