Berau Ingin Musik Keroncong Jadi Warisan Budaya

0
956

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Musik keroncong pernah berjaya di era di tahun 80an hingga awal tahun 90an dengan penyanyi terkenal di masa itu yakni Gesang, Idris Sardi, Waljinah, Hetty Koes Endang, Soendari Soekotjo, Mamiek Slamet, dan lain-lain. Namun, musik yang terkenal dengan suara khas ukulele ini mulai ditinggalkan kaum muda karena gempuran musik-musik luar negeri.

Padahal, musik keroncong tidak terlepas dari perjuangan berdirinya negara Republik Indonesia. Ini bisa dilihat dari judul lagu-lagunya seperti Sepasang Mata Bola, Rangkaian Melati, Melati Di Tapal Batas, Keroncong Kemayoran, Keroncong Telomoyo, Indonesia Pusaka, Keroncong Mahameru, dan lain sebagainya.

“Musik keroncong itu memiliki sejarah dan budaya Indonesia. Musik itu sebagai hiburan di saat masih jaman kemerdekaan. Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa-jasa pahlawan dan warisan budaya,” ungkap Hj. Seri Marawiyah Makmur selaku pembina keroncong Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, pada acara Kerontjong Djoeara Noesantara (Kedjora) di Galeri Indonesia Karya, Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (10/4/2015) malam.

Seri Mariwiyah mengakui musik keroncong memang berasal dari Jakarta tepatnya di Kampung Tugu di Jakarta Utara yang dibawa oleh budak pasukan Portugis dari orang-orang Ambon yang kemudian berkembang terkenal di daerah Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi yang dipadukan oleh kesenian Tanjidor. Dari Jakarta itulah berkembang ke Jawa dan ke pulau-pulau lain di Indonesia.

“Itulah khasanah Indonesia. Walau jauh,kami tetap semangat bersatu di bumi Nusantara melalui semangat musik keroncong. Kalau di Kalimantan terkenal karena ada hutan-hutannya dan suku Dayak, kami berharap musik keroncong menjadi warisan budaya dan tetap abadi yang kini mulai kami perkenalkan ke generasi muda,” ungkap istri Bupati Berau, Kalimantan Timur ini sumringah.

Kegiatan yang dilakukan untuk memperkenalkan musik keroncong ke generasi muda, katanya, yakni digelarnya festival musik keroncong yang diselenggarakan bersamaan dengan hari jadi Kabupaten Berau yang tahun 2015 ini sudah dilaksanakan yang ke-12 kali.

“Pada penyelenggaraan pertama hingga kelima memang berat dan pesertanya sedikit. Tetapi setelah itu dengan adanya sosialisasi di sekolah-sekolah, kampus dan tempat kumpul-kumpul anak muda kini mulai banyak. Rata-rata pesertanya 60 hingga 100 orang dengan usia belasan tahun hingga maksimal 40 tahun. Hadiahnya sangat besar bernilai jutaan. Ini untuk merangsang anak muda untuk mencintai musik keroncong,” katanya.

Ditambahkan Khairil Anwar selaku pimpinan “Keroncong Sanggam Abadi” bahwa musik keroncong di Kabupaten Berau kini sudah mulai ada kemajuan dan digeluti anak muda walaupun masih kalah dengan musik pop atau dangdut. Kemajuan ini atas dukungan pemerintah daerah setempat yang tiap tahun mengadakan festival musik keroncong tiap tahun bersamaan dengan hari jadi Kabupaten Berau.

Selain itu, pemkab juga mengadakan pembinaan artis dan grup musik keroncong yang salahnya adalah grup musik keroncong Sanggam Abadi. Grup keroncong ini sudah berdiri sejak tahun 1995 dengan para personel Khairil Anwar pada biola, Komaruddin (melody), Marjumi (flute), Juliansyah (cello), Kistem (ukulele cak), Abdul Malik (tenor), Sugianto (selo/bass betot), dan Jamaluddin (vokalis).

“Minimal sebulan sekali kami diundang oleh pak Bupati untuk menghibur karyawan kantor kabupaten Berau dan menghibur tamu yang datang dari luar daerah. Grup musik kami merupakan satu-satunya yang masuk dalam Himpunan Artis Keroncong Indonesia atau Hamkri di Pulau Kalimantan karena musik keroncong di provinsi lain di Pulau Kalimantan kurang berkembang,” tutur Khairil Anwar yang mengarapkan generasi muda didaerahnya menggantikannya untuk menggeluti musik keroncong karena grup musik pimpinannya beranggotakan sudah berusia senja kisaran usia 50 hingga 60 tahun keatas. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.