Benteng Toboali, Peninggalan Belanda Kian Merana

0
641
Benteng Toboali Bangka Selatan (Foto: Sindonews.com0

BANGKA SELATAN, test.test.bisniswisata.co.id: Indonesia itu kaya akan peninggalan sejarah. Era kolonialisme Belanda di Bumi Pertiwi tak hanya menyisakan cerita pilu, pahit getir, menerapkan politik pecah belah dan sejuta kisah yang tak mengenakan selama 350 tahun.

Sebagai bukti pernah menjelajah Indonesia berupa warisan bangunan yang bersifat monumental. Salah satunya, Benteng Toboali di Tanjung Ketapang, Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Benteng yang dibangun tahun 1825, kini kondisinya tak lagi utuh. Beberapa bagian ditumbuhi pohon besar dan semak belukar. Banyak di antaranya tumbuh di dalam ruangan, bahkan membelit dinding dengan akar yang menjalar. Juga kondosinya sangat kotor, tak terawat. padahal kerap dikunjungi wisatawan.

Keberadaan Benteng Toboali dilindungi di bawah pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya dan Kepurbakalaan Bangka, kini dibiarkan merana. Tak ada sentuhan perbaikan karena memang tak ada anggaran untuk itu. Padahal jika ditangani dan digarap serius akan menjadi daya tarik wisata.

Benteng yang terletak sekitar 127 kilometer dari Kota Pangkalpinang. Untuk menuju Benteng Toboali, dapat ditempuh selama 2,5 jam dari ibu kota Provinsi Kepulauan Babel tersebut dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum yang tersedia. Tak perlu khawatir nyasar karena penduduk setempat bakal dengan senang hati menunjukkan lokasi Benteng Toboali.

Semilir angin dari Pantai Nek Aji menyambut setiap pengunjung yang datang menginjakkan kaki di Benteng Toboali. Menapaki setiap anak tangga sebelum masuk pintu gerbang dengan penuh kehati-hatian menjadi keharusan agar tidak jatuh tergelincir saat menginjak lumut.

Apalagi, jika memilih waktu berlibur di pengujung tahun. Sudah tentu kewaspadaan harus ditingkatkan saat melangkah di tempat bersejarah ini.

Tempat wisata tanpa tarif masuk ini tampak tidak terawat. Terbukti, banyak coretan tangan jahil sehingga menambah kesan kusam benteng yang semakin menua ini. Namun, hal itu tak membuat benteng ini kehilangan nilai sejarahnya.

Mengunjungi benteng ini, lalu menelisik setiap sisinya, membuat setiap pengunjung diajak untuk menekuni nilai sejarah.

Benteng pertahanan masa penjajahan Belanda ini dahulu diperuntukkan melindungi pertambangan timah dari serangan yang berasal dari arah laut. Pada perkembangannya, bangunan ini pernah dikuasai Jepang antara tahun 1942 hingga 1945.

Kemudian, pada masa kemerdekaan, bangunan seluas 54×32 meter ini dipergunakan untuk Kantor Kepolisian Distrik Toboali, yang berganti nama menjadi Kepolisian Sektor (Polsek) Toboali pada tahun 1980-an, hingga akhirnya polsek tersebut dipindahkan ke luar benteng guna menjaga keaslian bangunan benteng.

Jika mengamati bagian dalam benteng, tepatnya bagian kiri, pengunjung akan melihat tujuh ruangan yang berbentuk mirip sebuah kediaman atau kamar-kamar kecil.

Adi, Petugas Pelestarian Cagar Budaya Benteng Toboali mengatakan, dahulu kamar-kamar tersebut digunakan sebagai gudang, barak prajurit, ruang administrasi keuangan, ruang penjagaan, serta dapur dan tempat menyimpan makanan bagi inspektur benteng dan prajurit-prajurit Belanda.

Tepat di bagian tengah benteng, terdapat meja dan kursi-kursi yang terbuat dari bahan batu yang konon dijadikan sebagai tempat berkumpul prajurit serta bertemu saat menyantap makanan.

Semakin jauh kita melangkah akan semakin terasa nuansa masa lampau, terbayang kesiapsiagaan prajurit yang dengan sigap mengintip keberadaan musuh dari lubang tembak. Bahkan, sebagian pengunjung merasakan suasana angker di bangunan tua ini.

Rimbun pohon dan sinar matahari yang malu-malu menembus dedaunan menambah kesan mistis jika menikmati kesunyian benteng menjelang temaramnya petang. Namun, itulah momen terbaik untuk semakin dalam menyelami benteng ini.

Sejarah mencatat, Benteng Toboali mempunyai peran penting sebagai sarana kolonialisme dalam mempertahankan kepentingannya di daerah Bangka Selatan. Antara satu bangunan dengan bangunan lain mempunyai konteks baik secara fungsi maupun secara sistem pembagian wilayah.

Tata wilayah ini sengaja diciptakan oleh kolonial Belanda dengan membagi kota menjadi tiga bagian, yaitu permukiman Belanda, China, dan pribumi. Kala itu, Benteng Toboali mempunyai peran sentral dalam menjaga stabilitas. (*/SNC)

LEAVE A REPLY