Beban Maskapai Berat, Menhub Desak Harga Avtur Diturunkan

0
1576
Pesawat diisi avtur (foto: www.indonesiainfrastructurenews.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan tetap mendesak PT Pertamina (Persero) menurunkan harga avtur. Agar beban operasional maskapai penerbangan nasional tidak berat. Mengingat biaya membeli avtur yang ‘dimonopoli’ Pertamina, berkontribusi 50% terhadap biaya operasional sebuah maskapai.

“Avtur itu menyumbang 50 persen total operating cost. Nah, kalau harganya bisa ditekan, harga tiket pesawat, paling enggak bisa terjamin (turun),” papar Menteri Jonan di Jakarta, Senin (14/9/2015).

Saat ini, lanjut mantan Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI), diskusi dan koordinasi dengan Pertamina, terus dijalin. Semuanya ditempuh agar harga avtur bisa diturunkan. “Kita tetap tunggu dan diskusi terus. (Arah) Kami tetap (harga avtur turun),” ujar pria kelahiran Jember, Jawa Timur.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengemukakan Presiden Joko Widodo meminta Pertamina segera menurunkan harga Avtur. Sebab, harga jual Pertamina, saat ini, lebih mahal di banding harga Internasional. “Karena avtur (harga) kita lebih tinggi dibandingkan avtur internasional. Presiden menugaskan Pertamina agar hal ini bisa menekannya (harga avtur), sehingga bisa bersaing dengan internasional,” ujar Pramono.

Hal ini juga yang menyebabkan banyak pesawat berhenti di Singapura sebelum menuju Indonesia. Karena harga avtur yang dijual di Singapura lebih murah. Namun tidak dijelaskan berapa harga avtur yang dijual Pertamina dan berapa yang dijual di Singapura.

“Manfaatnya adalah pesawat-pesawat yang saat ini selalu transit di Singapura isi bahan bakar, maka mereka nanti bisa langsung ke Indonesia. Baik dari Emirates, Qatar, Etihad, dan pesawat lain yang perjalanan panjang, terutama dari Eropa. Kalau itu bisa dilakukan, tentunya bisa berikan manfaat bukan hanya dalam dunia penerbangan, tapi juga pariwisata,” sambungnya.

Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria, menilai pengisian avtur atau refueling di bandara Indonesia, pasti dilakukan pesawat asing. Karena, pesawat jarak jauh yang terbang langsung (direct) memerlukan pasokan BBM yang cukup. Misalnya, Emirates dari Dubai ke Cengkareng dan Dubai ke Denpasar.

“Seperti Qatar Airways yang terbang langsung dari Doha ke Cengkareng, perlu mengisi avtur di Indonesia. Tidak memang tidak semua, banyak juga pesawat yang beli saat transit di Singapura,” kata Sofyano, di Jakarta, Senin (14/9/2015).

Hanya pesawat jarak dekat seperti Singapura Airline rute Singapura-Cengkareng, Singapura-Medan ogah membeli avtur di bandara Indonesia. Mereka memilih mengisi avtur di negaranya. Juga pesawat komersil asal Malaysia, kebanyakan mengisi avtur di negaranya. “Jadi bukan karena faktor harga. Tapi karena tipe pesawatnya saja. Kalau pesawat jarak jauh, waktu pengisiannya beda dengan pesawat dekat. Makanya pesawat jarak jauh dari negara tetangga bisa isi bahan bakar di negaranya,” papar Sofyano.

Sofyano menyayangkan kebijakan pemerintah menghapus PPn pada transaksi pembelian avtur bagi maskapai asing. Sementara pembelian avtur oleh maskapai nasional tetap dibebani PPn sebesar 0,3%. (*)

LEAVE A REPLY