Batiqa Hotel Bidik Pebisnis ke kota Cirebon

0
1031
Hotel Batiqa, Cirebon, jaringan hotel yang dikembangkan oleh PT PT Surya Internusa Hotel . (foto: Arief Rahman Media)

CIREBON, test.test.bisniswisata.co.id:  Perekonomian kota Cirebon dipengaruhi oleh letak geografis yang didominasi sektor industri pengolahan alam, jasa perdagangan dan pariwisata. Ini bisa dilihat dalam lima tahun terakhir, perkembangan bisnis seperti pusat perbelanjaan, hotel dan apartemen, mulai banyak dibangun di kota ini.

Apalagi setelah adanya akses Tol Cipali, yang memangkas waktu tempuh perjalanan dari Jakarta ke Cirebon yang dulu lima jam, kini bisa ditempuh hanya tiga jam. Waktu tempuh yang lebih pendek ini, membuat para pelaku bisnis mulai melirik prospek ke depan. Apalagi dengan rencana dibangunnya Bandara Internasional Linggar Jati di Majalengka, dan dikembangkannya pelabuhan Cirebon menjadi pelabuhan internasional, membuat Kota Udang ini akan berkembang menjadi kota industri.

Walikota Cirebon, Nasrudin Aziz, mengakui dengan dibukanya akses Tol Cipali, sejumlah investor datang ke Kota Udang ini ingin berinvestasi membangun kawasan industri. Termasuk membangun pelabuhan internasional di Cirebon. “Dengan adanya pelabuhan internasional di sini, tentu akan mengembalikan sejarah kejayaan kota ini pada masa lampau. Dulu, Cirebon menjadi pelabuhan kedua, setelah Batavia yang menjadi sarana perniagaan melalui jalur laut,” ujarnya.

Apalagi sekarang, lanjut dia, Cirebon memiliki sejumlah komoditas ekspor, seperti kerajinan rotan, kerang, garam, belut laut, dan rumput laut. “Kerajinan rotan dan kerang diekspor ke beberapa negara Eropa, garam ke Timur Tengah, belut laut ke Thailand, serta rumput laut ke Korea Selatan,” ujarnya.

Cirebon juga menghasilkan buah mangga gedong gincu yang kabarnya diminati warga Eropa, seperti Belanda, Prancis, Belgia, dan Inggris.

Melihat perkembangan bisnis yang maju pesat itu, PT Surya Internusa Hotel tertarik untuk membangun perhotelan. Hotel yang dibangun di kota bersejarah peninggalan Sunan Gunung Jati ini, Batiqa Hotel, yang baru diresmikan beberapa waktu lalu.

batiqa3

“Kota Cirebon kini berkembang menjadi kota industri. Tetapi kota ini juga memiliki banyak cagar budaya yang bernilai sejarah. Kita bisa melihat bagaimana sejarah Keraton Kesepuhan Cirebon dibangun, dan peninggalan benda-benda sejarah itu masih ada sampai sekarang. Ini sangat menarik untuk dikunjungi,” kata Catleya Parengkuan, General Manager, Batiqa Hotel Cirebon.

Peninggalan tempat-tempat pertemuan para raja, seperti bangunan pendopo, kereta Singa Barong untuk  tumpangan raja yang ditarik dengan kerbau, senjata keris dan tumbak, semua bisa dilihat langsung di dalam ruangan Keraton Kesepuhan. Bahkan bangunan gedung keraton yang bercorak arsitektur perpaduan budaya Jawa Cirebon dan China, menunjukkan kekayaan budaya yang dimiliki raja kala itu.

“Dari sisi nilai sejarah dan budaya, kota Cirebon sangat menarik. Ini bisa dilihat dari gedung-gedung peninggalan sejarah budaya Islam dan Hindu yang masih ada sampai sekarang. Ada Keraton Kesepuhan yang dibangun tahun 1529 M, Keraton Kanoman dibangun tahun 15 , kelenteng tahun 1595 M, Gua Sunyaragi tahun 1703 M, dan Keraton Kacirebonan tahun 1800 M, serta sejumlah gedung tua lainnya,” ujarnya.

Selain Cirebon menyimpan banyak sejarah yang menarik, perkembangan perekonomian terus memacu kota ini untuk dibangunnya kawasan industri. Alasan ini yang membuat PT Surya Internusa Hotel tertarik membangun hotel bintang tiga. “Batiqa Hotel berkapasitas 108 kamar yang terdiri 97 kamar superior dan 11 kamar suites. Tentu kami menyesuaikan dengan kota Cirebon untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dari kalangan business travellers, komunitas kuliner, wisatawan dari dalam dan luar negeri,” kata Johannes Suriadjaja, Presdir PT Surya Internusa Hotel.    (Arief Rahman Media)

 

 

 

 

.

 

 

LEAVE A REPLY