Batik, Pasar Dalam Negeri Lesu Luar Negeri Berkibar

0
208
Batik Solo Batik (Foto:Youtube)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Nasib batik di dalam negeri kurang beruntung. Alami kelesuan di dalam negeri, untungnya berkibar di pasar luar negeri. Kelesuan yang diderita industri batik itu antara lain terlihat dari anjloknya produksi batik, bahkan pemasaran batik dalam negeri kurang bergairah, ditambah sulitnya mencari bahan baku, khususnya bahan tenun sutra dan cat pewarna.

Mengatasi kelesuan itu, Pemerintah melakukan gebrakan dengan mendukung serta membangkitkan kembali industri batik nasional. “Pada 2009, batik diakui UNESCO sebagai identitas bangsa. Itu membangkitkan para pengrajin dan industri batik untuk terus berinovasi,” kata Dirjen IKM Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih dalam deklarasi APPBI (Asosiasi Pengrajin dan Pengusaha Batik Indonesia) di museum Batik Jakarta, Kamis (20/12/2017).

Hadir dalam acara itu Sekretaris Kemenkop dan UKM Agus Muharram, Ketum APPBI Komarudin Kudiya, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Batik Indonesia (YBI) Jultin Ginandjar Kartasasmita, Ketua Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Sendi Dede Yusuf, Ketua Panitia Deklarasi APPBI Romi Oktabirawa, dan Kaunit Pengelola Batik Dinas Pariwisata Jakarta Esti Utami.

Sampai saat ini, lanjut Gati, ada 101 sentra batik di Indonesia, mulai dari Medan sampai Papua, Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik diperkirakan mencapai 15 ribu orang. Indonesia masih menjadi market leader ekspor batik, hingga Oktober 2017 dengan nilai 51,15 juta dolar AS pada 2016. Dengan Jepang, AS, dan Eropa yang menjadi pasar utama. Angka itu naik dari capaian semester pertama 2017 yang tercatat 39,4 juta dolar AS.

Diakuinya, akhir-akhir ini penjualan batik turun, khususnya di pasar domestik. Berbagai faktor penyebabnya. “Makanya, saya senang dengan APPBI ini yang kaya akan data. Saya yakin APPBI akan membantu bangkitnya batik nasional,” kata Gati.

Pihaknya juga akan mendirikan material center di Semarang untuk mengatasi kesulitan bahan baku batik. “Nantinya, pengrajin batik akan saya temukan dengan pihak industri agar terjadi link and match dalam pasok bahan baku ini,” katanya.

Sementara untuk mengatasi anjloknya pemasaran, akan mengembangkan pemasaran online dengan nama e-smart yang menggandeng perusahaan online besar seperti Tokopedia, Blibli, Belanja.com, Bukalapak, dan Shopee. Kemenperin juga akan membuat film yang memuat utuh seputar batik sehingga berbagai persepsi keliru masyarakat soal batik cap atau printing bisa diluruskan.

“Melalui program e-Smart ini produk batik didorong untuk memasuki pasar daring sehingga memiliki jangkauan pasar yang lebih luas karena dapat diakses oleh konsumen dari berbagai daerah,” lontarnya.

Sementara, dalam upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM batik, Kemenperin memberikan solusi. Mulai dari fasilitasi pelatihan untuk peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pengembangan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan, serta kegiatan promosi dan pameran batik di dalam dan luar negeri.

Sekretaris Kemenkop dan UKM Agus Muharram mendukung terbentuknya APPBI ini. “Kemenkop dan UKM yang salah satu tugasnya adalah melakukan koordinasi dan membuat kebijakan, mendukung terbentuknya APPBI ini,” katanya.

Menurut Agus Muharram, dalam organisasi APPBI ada kata kunci, yaitu pengrajin dan pengusaha bersatu dalam satu wadah asosiasi. “Artinya, bukan hanya pengusaha saja, kan banyak sekarang asosiasi yang anggota hanya pengusaha sementara pengrajinnya ada yang hanya menyuplai produknya dengan harga yang ditentukan oleh pengusaha,” katanya.

Dengan bergabungnya pengusaha dan pengrajin dalam satu wadah maka keduanya bisa disinergikan. Artinya, ada yang berproduksi, dalam hal ini pengrajin, dan ada yang memasarkannya sehingga pemasaran batik bisa dilakukan secara masif, lebih terintegrasi, terkoordinasi, dan berdaya saing.

Kolaborasi pengrajin dan pengusaha, juga bisa meluruskan pemahaman yang salah terhadap batik-batik seperti printing, yang sebenarnya bisa dikatakan bukan batik. Adanya APPBI juga bisa menjadi wadah pengrajin dalam mengembangkan desain-desain baru sesuai tuntutan pasar dan perkembangan zaman. (NDIK)

LEAVE A REPLY