Batik Baduy Belum Dilirik

0
685

LEBAK, test.test.bisniswisata.co.id: BATIK kini sudah mendunia. Sayangnya, batik baduy dari Kabupaten Lebak Banten masih tertinggal, masih jalan ditempat bahkan belum dilirik wisatawan. Tak ingin ketinggalan kereta, perajin batik baduy Lebak, kini mulai bangkit dari ketertingalan.

Langkah yang ditempuh, melakukan studi banding di kota batik Pekalongan Jawa Tengag juga menggandeng Balai Batik Yogyakarta agar membina kelompok perajin batik Kabupaten Lebak, Banten, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas dan produksi batik baduy, sehingga memiliki nilai jual di pasar domestik maupun mancanegara.

“Kami menjalin kerja sama ini agar industri kecil dan menengah (IKM) tumbuh sehingga dapat menciptakan usaha baru di masyarakat dan penyerapan lapangan pekerjaan,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi saat dihubungi di Lebak, Selasa.

Selama ini, kualitas perajin batik Kabupaten Lebak perlu ditingkatkan karena produksi maupun kualitasnya belum optimal. “Perajin batik di sini masih dikelola tradisional sehingga perlu pembinaan serius untuk mendorong ekonomi kreatif,” katanya.

Saat ini, batik Baduy yang beredar di masyarakat belum begitu bagus, baik motif maupun warnanya. Karena itu, kata dia, pihaknya mendatangkan Balai Batik Yogyakarta untuk mengembangkan usaha kerajinan tersebut karena permintaan batik di Provinsi Banten cukup tinggi dan pangsa pasarnya beranekaragam, mulai pelajar, mahasiswa, pegawai negeri sipil (PNS), dan kalangan remaja. “Kami yakin dengan belajar ke Yogyakarta itu dapat menumbuhkan usaha baru bagi masyarakat,” katanya.

Ia juga mengatakan pemerintah daerah telah memagangkan perajin batik ke Yogyakarta sebanyak 10 kelompok. Kegiatan magang ini guna meningkatkan produksi batik dan ditargetkan bisa menembus pasar domestik maupun mancanegara.

Saat ini perajin batik hanya motif Baduy dengan motif warna didominasi warna biru dan hitam, katanya. Namun, kata dia, pihaknya tetap warna asli Baduy dipertahankan, tetapi perlu dikolaborasikan dengan batik lain di Tanah Air. “Saya yakin jika warna batik Baduy dikolaborasikan dengan batik lain dipastikan bisa memiliki nilai jual tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, selain perajin batik Baduy juga berkembang kerajinan tenun Baduy di kawasan Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Jumlah perajin batik Baduy dan tenun kain mencapai 50 orang. Mereka para perajin batik dan tenun Baduy dilakukan oleh kaum perempuan sambil menunggu suaminya bekerja di ladang. Pihaknya telah mengirimkan perajin Baduy ke Tasikmalaya untuk pelatihan membuat bordir.

Selain itu juga mereka mengikuti studi banding ke Pekalongan sebagai daerah batik. “Dengan pelatihan dan studi banding tentu hasilnya cukup bagus dan ada peningkatan,” katanya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY