Bahan & Rasa Berbeda, Satay Kato Tolak Disamakan Taichan

0
88
Sate

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Bisnis kuliner satay terus berkembang. Inovasi baru bermunculan. Selain menguntungkan karena siklusnya yang cepat, bisnis kuliner Satay diklaim tergolong berisiko rendah. Dari berbagai satay yang ada di daerah se Nusantara, kini ada Satay Kato, yang sedang menjadi tren kuliner saat ini.

Satay Kato mulai beroperasi di Kemang, Jakarta Selatan pada 20 Agustus 2016. Tampilannya yang mirip dengan Satay Taichan, membuat sebagian pecinta satai mengira bahwa Satay Kato adalah Satay Taichan.

Yudha Fajrin (29), Founder Satay Kato dengan tegas menyebutkan bahwa Satay Kato bukanlah Taichan, melainkan Satay pedas dengan brand Kato. Keduanya hanya mirip dari tampilannya saja. Namun untuk rasa, sangat berbeda.

Satay Kato berbahan baku paha ayam sementara Satay Taichan berbahan baku dada ayam sehingga Satay Kato cenderung lebih gurih dan juicy. Satay Kato bisa dimakan tanpa sambal karena sudah diberi bumbu, sementara Satay Taichan tidak. Sambal Satay Kato adalah sambal yang dimasak sementara Satay Taichan adalah sambal mentah.

Satay Kato merupakan kuliner kaki lima yang dijajakan dengan konsep yang sangat kekinian. Dengan gerobak kayu sebagai pusat dapur dan kursi-kursi yang tertata di pinggir jalan, Kato berusaha menyesuaikan konsep dengan selera generasi muda yang hobi nongkrong, senang dengan suasana santai dan terbuka.

Namun untuk produk, Satay Kato yang dibanderol dengan harga Rp20 ribu per porsi ini menyasar market dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Pelanggan Satay Kato pun biasa mengonsumsi satay hingga puluhan tusuk dalam sehari.

Tempat yang cozy dan service yang baik, membuat Satay Kato pun banyak dikunjungi kalangan artis. Bahkan, tidak jarang Satay Kato mendapatkan pesanan hingga ribuan tusuk dari kalangan pejabat.

Yudha optimis dan siap untuk bersaing bisnis secara sehat dengan satay lainnya, termasuk Satay Taichan. Konsistensi Yudha dalam menjalankan bisnis Satay Kato, mulai dari produk yang ditawarkan hingga komposisi dan servisnya, ternyata mampu membawa Satay Kato berekspansi hingga mencapai 25 cabang Satay Kato se-Indonesia pada Desember 2017.

Tahun 2018, Yudha menargetkan Satay Kato bisa membuka cabang hingga 100 gerai atau gerobak. Omzet rata-rata yang bisa dikantongi Satay Kato sebagai kuliner kaki lima bisa mencapai Rp50 juta per hari. Untuk omzet tertinggi, Satay Kato bisa mencapai omzet Rp70 juta sampai Rp80 juta per hari.

Menurut Yudha, Satay Kato selalu habis terjual setiap harinya. Namun yang membedakan dalam penjualan setiap harinya hanya persoalan waktu. “Terkadang jam habisnya bisa lebih cepat, bisa agak lama,” jelas Yudha.

Dibenak pelanggannya, Satay Kato identik dengan pembuatannya yang lama karena harus antre untuk membakarnya atau bahkan habis. Tidak kehabisan akal, Yudha membuat sebuah inovasi, yang ia sebut dengan antre online.

Pelanggan Satay Kato bisa memesan melalui WhatsApp sebelum datang ke gerai. “Order di siang hari atau beberapa jam sebelum datang ke gerai melalui WhatsApp. Jadi, datang tidak perlu tunggu,” jelas Yudha.

Bahkan Satay Kato memiliki grop WhatsApp pelanggan untuk memudahkan order dan menjalin tingkatan emosional yang baik dengan para pelanggannya ataupun hubungan emosional antar pelanggan.

Servis berupa order online tersebut ditawarkan Yudha ketika customer Satay Kato merasa lama menunggu pesanan. Yudha akan menghampiri customer-nya dan mengajaknya bergabung dengan grup WhatsApp dan menyarankan untuk lain waktu memesan memalui WhatsApp. Servis inovatifnya tersebut pun mendapat respons positif dari para customer yang kemudian menjadi pelanggan yang loyal.

“Nama grupnya Kato Genk. Mereka (pelanggan) sendiri yang kasih nama. Banyak juga pelanggan yang membayar via transfer. Di sini yang dijaga adalah hubungan pertemanan dengan pelanggan,” ungkap Yudha.

Bagi Yudha, bernovasi tidak selalu datang dari sebuah produk. Servis yang baik pun bisa menjadi strategi bisnis yang inovatif. Karena menurutnya, servis juga menjadi salah satu alasan customer merasa nyaman, kemudian merekomendasikan kepada temannya, dan kembali datang di lain waktu. (WE)

LEAVE A REPLY